Industri Semen Loyo

Titik keseimbangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan akan terjadi 10 tahun mnedatang.

JAKARTA. Dalam dua tahun terakhir, produksi berlebih atau oversupply produksi semen dalam negeri sebanyak 106 juta ton per tahun, tidak seimbang dengan jumlah penyerapan, yang hanya 63 juta ton per tahun.

Agar kondisi ini tidak terus berlanjut Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mengusulkan kepada pemerintah agar melakukan moratium atau penghentian sementara pembangunan pabrik semen baru di tanah air. Moratium penerbitan izin baru pabrik semen ini agar utilisasi pabrik yang telah ada lebih optimal.

ASI sendiri sudah menyurati pemerintah agar melakukan moratorium izin baru. “Namun pabrik yang sudah terlanjur mendapatkan izin ya dilanjutkan saja,” ujar Ketua ASI Widodo Santoso, kamis (24/8).

Kelebihan produksi semen ini berawal sejak tahun 2014 silam. Ditahun tersebut banyaknya pengusaha semen lokal berebut ekspansi pembangunan pabrik baru. Akibatnya, pada tahun 2015 banyak pabrik semen bermunculan.

Konsumsi semen domestik pada Juli 2017 terhitung sebesar 5,59 juta ton meningkat sebesar 54,5% year on year (yoy). Sementara di bulan Juni, konsumen semen menurun 26,8% ke angka 3,37 juta ton.

Secara keseluruhan, permintaan semen pada periode Januari- Juli 2017 tercatat sebanyak 34,6 juta ton. Jumlah ini meningkat tipis sebesar 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan perhitungan ASI, rata-rata kenaikan permintaan semen dalam negeri sekitar 5% atau 3 juta ton per tahun. Sehingga, untuk mencapai titik keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan baru akan tercapai dalam kurun waktu 10 tahun.

Menurunkan harga

Akibar oversupply, harga semen menurun rata-rata 8%-10% per tahun. Sekadar mencontohkan. Harga semen di Pulau Jawa pada akhir 2015 tercatat Rp 70.000 per sak. Sedangkan pada semester I-2017, harga semen turun menjadi Rp 55.000- Rp 60.000 per sak.

Penurunan harga semen ini dialami oleh PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Akibatnya efisiensi produksi menjadi pilihan emiten berkode saham INTP di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini agar dapat bertahan pada kondisi ini. “Kami hanya menggunakan lini produksi yang efisien serta mematikan sementara beberapa pabrik lama, seperti pabrik P1,” terang Christian Kartawijaya, Direktur Utama Indocement Tunggal Prakasa.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: