Daya beli yang menurun memberikan goresan negatif bagi penjualan ritel, khususnya bisnis ritel yang berskala supermarket. Penurunan daya beli ini karena masyarakat kelas menengah sedang menahan nafsu untuk tidak menjadi kaum konsumtif.
Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan adanya pencabutan subsidi listrik yang menimpa kelas menengah hingga efisiensi jam kerja dari perusahaan, menekan tingkat konsumsi masyarakat. Hasilnya, penjualan supermarket seperti Hypermart terkena dampaknya.
“Lalu pencabutan subsidi listrik kenaikan cukup lumayan, buat rumah tangga pilihannya yang dipilih adalah belanja seperlunya,” kata Lana, ditemui di Gedung Bursa Efek Indoensia (BEI), Jakarta, Jumat 25 Agustus 2017.
Lana mengaku, kelas menengah sedang beralih ke minimarket untuk mendapatkan kebutuhan pokok setiap hari maupun bulannya. Sebab, mereka membelanjakan uangnya hanya sesuai kebutuhan.
“Kondisi ekonomi seperti ini kelompok pendapatan menengah, ke bawah pilihnya minimarket karena belinya pakai keranjang. Ada penurunan di dalam jumlah barang yang dibeli menyesuaikan dengan pendapatan,” jelas Lana.
Mengamati keadaan itu, Lana meyakini, prospek bisnis minimarket masih sangat baik. Oleh karena itu, tak heran jika banyak perusahaan yang berbasis supermaket banyak mendirikan minimarket baru. Tujuannya, agar bisa mendorong keberlangsungan bisnis.
“Minimarket masih bagus makanya Giant bikin minimarket juga, sekarang kalau di Giant antre kasir enggak selama dulu lagi,” pungkas Lana.
Sumber : metrotvnews.com
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Ekonomi

Tinggalkan komentar