Pesepakbola Bijak (atau Tidak Bijak) Wajib Taat Pajak

Akhir bulan lalu beredar kabar positif dari klub kebanggaan warga Bandung. Pemain bintang Persib asal Ghana, Michael Essien resmi memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Kabar (yang seharusnya) biasa ini menjadi luar biasa karena konon kabarnya Essien lah yang berinisiatif untuk menanyakan perihal kewajiban pajak pribadinya. Bahkan mantan pemain Real Madrid dan Chelsea ini sudah mulai menanyakan Tax ID sejak awal kehadirannya di Bandung.

Jadilah Essien menjadi sosok duta pajak dadakan, karena kabar ini menjadi pemberitaan yang cukup intens bulan lalu. Terlebih kabar tentang pajak di bulan lalu diramaikan juga dengan berita pajak di segmen dunia hiburan terkait penunggakan pajak mobil mewah milik sejumlah artis.

Padahal jika kita melihatnya secara rasional, itu bukanlah hal istimewa atau prestasi karena semua orang yang memiliki penghasilan dan memenuhi syarat untuk terkena pajak ya memang harus membayar pajak. Tak peduli dia itu orang bijak atau tidak, setiap wajib pajak harus membayar pajak.

Pajak menurut Lex Sportiva

Dalam teori hukum olah raga (lex sportiva) adalah suatu keniscayaan ketika hukum komunitas (baca: sepakBOLA) bersinggungan dengan hukum nasional suatu negara. Ketika hukum nasional memiliki regulasi yang spesifik terkait suatu hal, maka hukum nasional suatu negara melengkapi dan mendukung penegakkan penyelenggaraan sepak bola profesional.

Salah satunya adalah terkait pajak para pelaku sepakBOLA. FIFA tentu tak mungkin mengatur lebih lanjut terkait pajak, karena pajak dan seluruh potensi penerimaan negara adalah mutlak menjadi yurisdiksi negara. Tak peduli anda pemain bintang, pemain hebat, pemain dengan jutaan fans, maka selama memenuhi syarat wajib pajak anda harus membayar pajak penghasilan, terlebih para pemain bola top dengan penghasilan fantastis.

Sepak bola telah menjadi industri dengan perputaran uang mencapai ratusan trilliun rupiah. Tentu saja potensi ekonomi ini terkena dampak pajak. Selain penghasilan para pemain, banyak juga aspek yang jelas tak bisa berkelit dari mata tajam pajak. Semisal kerjasama-kerjasama sponsor, hak siar TV, bahkan mungkin perjudian untuk beberapa negara yang melegalkannya.

Sementara Indonesia yang masih bermasalah dengan kesadaran pajak warga negara dan penerapan sistem self assesment yang menuntut kejujuran para wajib pajak, memang senantiasa dianggap tak optimal meraup pundi di sektor pendapatan utama. Belum lagi kasus-kasus pengemplang pajak kelas kakap hingga skandal petugas pajak seperti Gayus Tambunan beberapa waktu lalu yang membuat orang menjadi skeptis dan malas membayar pajak.

Lihat saja fakta ketika Pemda DKI Jakarta bisa meraup triliunan rupiah saat menggelar bulan pengampunan pajak pada bulan Agustus lalu. Berarti selama ini begitu banyak pemilik kendaraan yang memilih untuk mengambil risiko dengan tidak membayar pajak kendaraannya.

Pada sisi lain pemerintah justru semakin agresif melakukan manuver untuk memburu para wajib pajak. Selain cara-cara konvensional, baik yang persuasif dan represif, tentunya penting pula untuk mengupayakan cara-cara yang menyentuh sisi kultural termasuk keteladanan dari para figur, dan sepak bola sebagai olah raga paling populer di Indonesia tentu bisa menjadi pelopor untuk sosialisasi pada segmen pencinta bola yang beragam dan tentu berpotensi sebagai wajib pajak.

Bukan masalah bijak atau tidak bijak

Jika negeri ini akrab dengan slogan ‘Orang Bijak Taat Pajak’ yang pada kenyataannya pajak tetap harus dibayar juga oleh mereka yang merasa tidak bijak. Maka di negara-negara maju slogannya lebih rasional dan mengarah kepada kepastian (sesuai dengan karakter pajak itu sendiri).

Sebut saja jargon ‘Tak ada yang pasti di dunia ini selain kematian dan pajak’. Jargon semacam itu tak lagi bicara dalam konteks berharap kesadaran untuk membayar pajak atau menyematkan pujian sebagai orang yang bijak kepada mereka yang taat pajak. Namun jargon pajak di luar sudah menegaskan sekaligus mengancam bahwa setiap orang akan terus diintai oleh kewajibannya membayar pajak selama dirinya masih hidup.

Dalam konteks sepakBOLA kita masih dapat menelusuri pemberitaan terkait ancaman hukum serius yang mengancam pemain sekaliber Lionel Messi yang diduga melakukan penggelapan pajak. Ancamannya hingga pidana kurungan.

Negara dengan penegakan hukum yang baik memang akan selalu menganggap segala persoalan terkait pajak adalah hal yang serius. Dan rupanya itu selaras dengan kemajuan industri sepak bola di negara yang  bersangkutan. Sebut saja Inggris, Perancis, Spanyol. Itu adalah contoh negara-negara yang tertib dan konsekuen dengan penegakkan aturan terkait pajak dan juga memiliki kompetisi sepak bola yang berkualitas dan gemerlap.

Dalam banyak hal, tingginya pajak bagi pesepakbola profesional pun menjadi pertimbangan untuk menapaki karir, lihat saja liga Perancis pasca Francois Hollande terpilih menjadi presiden. Banyak pemain top yang meninggalkan negara tersebut untuk merumput di negara lain akibat pajak sangat tinggi (di atas 50%) yang diberlakukan bagi mereka yang berpenghasilan di atas 1 juta euro pertahun. Beberapa perkecualian seperti bergabungnya Zlatan Ibrahimovic dan Neymar dengan PSG itu bisa jadi karena pihak klub dalam klausul akan menanggung pajak si pemain.

Atau mari kita lihat kembali kebijakan Spanyol yang menarapkan aturan pajak meringankan sekitar tahun 2005-2009. Saat itu Pemerintah Spanyol memberlakukan aturan pajak yang benar-benar menguntungkan pekerja asing (termasuk pesepakBOLA) dengan meniadakan pajak progresif. Maka saat itu pula pemain-pemain top semacam David Beckham berdatangan untuk merumput di negeri matador.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pajak tidaklah diskriminatif namun memang melihat/membedakan orang berdasarkan penghasilan. Dan jika pemain sepakBOLAternyata termasuk kategori pekerja dengan penghasilan tinggi, apa mau dikata, hidup adalah pilihan dan proses.

Preseden baik

Di tengah program pemerintah yang menargetkan pendapatan pajak sangat tinggi namun harus menghadapi berbagai persoalan termasuk kesadaran masyarakat yang rendah, tentunya apa yang dilakukan Michael Essien adalah suatu preseden baik. Oleh karena itu tindakan yang biasa tersebut pantas jika dikemas sebagai suatu hal yang luar biasa.

Layak kita apresiasi juga apa yang menjadi kebijakan federasi sepakBOLA negeri ini sekitar 10 tahun lalu. Saat itu PSSI mewajibkan setiap klub untuk berbadan hukum Perseroan Terbatas di tahun berikutnya. Secara langsung kebijakan tersebut berimbas pula kepada sektor pajak, karena otomatis klub-klub tersebut (beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya) akan terdeteksi sebagai wajib pajak yang memiliki NPWP dan wajib membayar pajak setiap tahunnya kepada negara.

Timbul pertanyaan, apakah sebelum berbadan hukum pemain klub-klub tersebut tak pernah membayar pajak? Wallahualam, hanya saja jika terkait Persib seingat saya, saya pernah mendengar protes, keberatan dan ekspresi kaget para pemain saat penghasilan mereka dipotong sekian persen pada awal-awal PT PBB beroperasi sekitar tahun 2009-2010. Seakan-akan para pemain baru pertama kali membayar pajak.

Ada juga yang kaget karena pemotongan lebih besar dari biasanya, maka mereka perlu mendapat pemahaman bahwa pemotongan ini berbanding lurus dengan jumlah gaji mereka karena dihitung berdasar persentase, sehingga semakin besar gaji maka semakin besar potongannya.

Saya memiliki jawaban aman, saya katakan bahwa tak perlu khawatir karena para pemain akan mendapatkan semacam bukti setor ke negara. Namun lambat laun persoalan seperti ini tentunya tak terdengar lagi karena para pemain sudah terbiasa membayar pajak penghasilan.

Jika penegakkan hukum terkait pajak dilakukan secara konsisten dan konsekuen di sektor sepakBOLA, maka sekali lagi kita melihat sepak bola akan berkontribusi dalam pembangunan negeri dan kesejahteraan umum, karena pajak bisa diartikan kewajiban kepada negara yang balas jasanya tak akan dirasakan langsung oleh mereka yang membayar namun akan berdampak bagi kita semua, rakyat Indonesia.

Sumber : pikiran-rakyat.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: