Biaya Cukai Makin Melejit, Industri Rokok di Kota Malang Lesu

Biaya cukai makin melejit, industri rokok di Kota Malang lesu. Tak sedikit industri hasil tembakau itu gulung tikar dan memberi dampak luar biasa bagi pergerakan ekonomi di kota pendidikan ini.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Perindustrian Kota Malang, setiap tahun ada saja industri rokok yang menutup usahanya. Dan telah memutus perjanjian kerjanya dengan para pekerja yang kebanyakan memang menggantungkan dirinya pada pabrik untuk menyambung hidup.

Kepala Dinas Perindustrian, M. Subkhan menyampaikan, di awal semester 2017, tercatat ada 35 perusahaan yang masih aktif memproduksi rokok. Sedangkan pada tahun 2016, ada sekitar 37 industri rokok yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja.

“Angka itu turun sangat drastis dibanding 10 atau 12 tahun yang lalu. Karena di 2005 dan 2006, jumlah industri rokok ada 150 an,” katanya pada Wartawan.

Besarnya biaya cukai yang telah ditetapkan merupakan faktor utama terjunnya industri rokok. Karena industri pun dituntut mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi, dan tidak semua mampu memenuhi kebutuhan yang terus membengkak itu.

“Regulasi memang menjadi faktor utama anjloknya industri rokok di daerah,” tambahanya.

Begitu juga dengan perkembangan industri rokok ilegal, yang menurutnya juga berpengaruh pada pertumbuhan industri rokok yang telah terdaftar. Meskipun terus diperangi agar tidak lagi ada rokok ilegal, namun nyatanya pertumbuhan rokok tak bercukai itu laku keras di pasaran.

Para perokok tak sedikit beralih pada rokok tersebut dan meninggalkan produk dari pabrik legal. Sehingga, pemilik industri pun memilih menutup usahanya. Bahkan saat ini, masih ada banyak industri rokok ilegal yang memproduksi dan menjualnya di luar kota.

“Kebijakan terkait kampanye anti rokok, sebenarnya sedikit banyak juga berpengaruh. Dan ini memang menjadi dilema,” papar pria ramah itu.

Pasalnya, lanjut Subkhan, kampanye anti rokok yang digalakkan dari pemerintah pusat itu pada dasarnya memang sedikit berbenturan dengan industri rokok. Di mana industri rokok selama ini telah mempekerjakan banyak tenaga kerja. Sebagian besar tenaganya adalah ibu rumah tangga dengan taraf pendidikan rendah.

Para pekerja itu, berdasarkan survei yang ia lakukan bukan sekedar bekerja untuk membantu penghasilan pasangan hidupnya. Melainkan memang menjadi pekerjaan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Hal-hal seperti itu memang masih menjadi dilema,” tambahnya.

Sebagai pengayom pertumbuhan industri di Kota Malang, ia pun berusaha untuk tetap mempertahankan industri hasil tembakau itu agar tetap eksis berproduksi. Dia berharap, agar cukai tidak terus naik dan pemerintah terus menggodok sebuah upaya sebagai jalan keluar.

“Kalau memang setelah tutup ada alternatif untuk menampung para pekerja yang jumlahnya ribuan itu maka tidak masalah. Tapi sekarang kan belum ada, jadi dampak dari hulu ke hilir harus diperhatikan,” pungkasnya.

Sumber : malangtoday.net

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Tak Berkategori

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: