Daya Beli Turun Atau Orang Malas Belanja?

Dalam sebulan terakhir, khalayak ramai membicarakan daya belimasyarakat Indonesia yang disebut-sebut agak melemah pada tahun ini. Pelemahan daya beli tentu merupakan masalah serius karena hal ini akan memengaruhi perekonomian Indonesia secara signifikan.

Perbincangan mengenai pelemahan daya beli masyarakat didasari banyak faktor mulai dari angka statistik hingga fakta-fakta di lapangan.

Dilihat dari statistik, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga memang menunjukkan gejala pelambatan. Konsumsi rumah tangga dianggap merupakan indikator yang paling pas untuk mengukur daya beli masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017 tumbuh 4,95 persen, lebih lambat dibandingkan triwulan II 2016 yang tumbuh 5,02 persen.

Pelambatan pertumbuhan konsumsi tersebut terjadi pada semua komponen, dengan penurunan yang cukup signifikan terjadi pada komponen non makanan dan minuman.

Pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman melambat dari 5,26 persen pada triwulan II 2016 menjadi 5,24 persen pada triwulan II 2017, sementara komponen non makanan dan minuman turun dari 4,96 persen menjadi 4,77 persen.

Berdasarkan laporan Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat per Agustus 2017 yang dirilis Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan juga disebutkan bahwa terjadi pelambatan pertumbuhan konsumsi per kapita pada masyarakat berpenghasilan menengah atas sepanjang 2017.

Dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, konsumsi rumah tangga merupakan komponen paling dominan dengan porsi mencapai 55 persen. Karena itu tak heran, pelambatan konsumsi rumah tangga akhirnya menarik turun pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada triwulan II 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,01 persen, melambat dibandingkan angka pada periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,06 persen.

Melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2016 tentu di bawah ekspektasi. Konsumsi rumah tangga diharapkan bisa tumbuh di atas 5 persen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen pada 2017 seperti yang ditargetkan pemerintah.

Sepi

Penurunan daya beli tak hanya tampak pada angka-angka statistik, tapi juga fakta-fakta di lapangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pusat perbelanjaan modern yang sepi pengunjung. Di Pasar Glodok di Jakarta Barat misalnya, banyak kios yang tutup akibat turunnya penjualan.

Pusat perbelanjaan elektronik yang sangat legendaris tersebut jatuh bukan hanya akibat turunnya tingkat konsumsi masyarakat tetapi juga persaingan pusat perbelanjaan modern yang semakin ketat.

PT Matahari Department Store Tbk, perusahaan ritel ternama di Indonesia juga akan menutup gerainya di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M akhir bulan ini. Alasannya sama, di dua gerai tersebut, penjualan ritel Matahari anjlok.

Meskipun demikian, banyak pihak yang tidak sepenuhnya setuju bila dikatakan daya beli masyarakat Indonesia menurun.

Sejumlah pihak menyatakan, data konsumsi rumah tangga terlihat menurun karena kini tengah terjadi pergeseran pola belanja masyarakat dari konvensional ke sistem online atau perdagangan elektronik seiring massifnya perkembangan dunia digital.

Sumber : kompas.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: