Pelaku Industri Tembakau Tolak Kenaikan Tarif Cukai Rokok

Pemerintah berencana menetakan tarif cukai hasil tembakau (rokok) hingga 8,9 % untuk tahun 2018. Para pelaku industri tembakau bereaksi keras dengan rencana tersebut

Rencana penetapan tarif cukai tersebut dianggap tidak rasional dan membebani industri rokok. Terlebih perekonomian Indonesia saat ini belum menunjukkan gejala peningkatan signifikan.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo, mengatakan, kebijakan cukai harus rasional dengan mempertimbangkan kelangsungan bisnis industri tembakau. Saat ini Industri hasil tembakau dalam keadaan terpuruk.

Volume produksi terus menurun setiap tahunnya. Di 2016, volume produksi sudah turun sebanyak 6 miliar batang. Hingga petengahan tahun 2017, volume itu turun hingga 5,4 miliar batang, dan diprediksi akan terus turun hingga 11 miliar batang sampai akhir tahun. Dan di tahun 2018, diperkirakan volume produksi juga akan turun hingga 10 miliar batang.

“Kami yakin pemerintah sudah mengerti kalau industri rokok dalam fase penurunan. Kenapa tarif cukainya masih dibuat tinggi? Ini sama dengan tidak ada peluang bagi industri hasil tembakau untuk hidup,” ujar Budidoyo kepada detikcom, Sabtu (30/9/2017).

Budidoyo menjelaskan, pada 2017, tarif cukai berlaku sebesar 10.5 %. Tarif itu menyebabkan volume industri rokok anjlok hingga 2 %. Rencana kenaikan cukai 8,9 % untuk tahun 2018 dirasa masih memberatkan karena industri hasil tembakau saat ini dalam keadaan terpuruk.

“Harusnya menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah jika cukai dinaikkan terlalu tinggi. 8,9 % saja memberatkan apalagi di atasnya,” kata Budidoyo.

Budidoyo meminta agar pemerintah tidak hanya bergantung pada cukai tembakau sebagai sumber penerimaan cukai, terutama di tengah lesunya kondisi industri tembakau tahun ini. Perlu diingat, kata Budidoyo, industri tembakau merupakan industri padat karya yang melibatkan jutaan orang dari hulu hingga hilir.

Perlu diingat juga bahwa rantai industri hasil tembakau sangatlah panjang, karena tidak semata hanya melibatkan pabrikan rokok saja.

“Saat industri rokok mengalami penurunan, yang akan terkena dampaknya bukan cuma pabrikan, tapi juga pekerja di pabrik rokok, petani cengkeh, dan petani tembakau yang totalnya mencapai lebih dari 6 juta orang,” tutupnya.

Senada dengan Budidoyo, Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret-Kretek Indonesia (MPSI), Djoko Wahyudi, mengatakan bahwa pihaknya juga tidak setuju dengan tingginya cukai rokok yang bakal dikenakan untuk tahun depan.

Bila rencana itu jadi dilakukan, maka yang bakal terjadi adalah kolapsnya industri rokok yang berakibat pada perumahan dan PHK pekerja rokok. Bila itu terjadi, maka target pemerintah untuk cukai rokok tak bakal terpenuhi.

“Industri rokok akan merumahkan karyawannya karena rokok tak laku. Target pemerintah untuk penerimaan dari cukai rokok pun tak terpenuhi,” kata Djoko.

Djoko juga heran dengan sikap pemerintah yang terus meningkatkan target penerimaan cukai rokok dan tarif cukai, tapi di sisi lain juga menggembosi industri rokok.

Peningkatan tarif cukai, kampanye tanpa rokok, dan aturan tentang kawasan tanpa rokok disebut Djoko merupakan cara pemerintah menekan industri rokok.

“Kami ditekan dengan itu, tapi di sisi lain kamu terus disuruh jualan agar mencapai target penerimaan. Tapi (rokok) yang dijual tidak laku,” keluh Djoko.

“Kami khawatir keadaan ini memicu makin banyaknya rokok polosan atau rokok tanpa cukai yang bakal beredar,” tandas Djoko.

Tahun 2017, pemerintah menetapkan tarif cukai rokok sebesar 10,5 % dengan target penerimaan cukai rokok Rp 147,5 triliun. Di tahun 2018, tarif cukai direncanakan ditetapkan tak sebesar tahun lalu yakni 8,9 %. Sementara target penerimaan cukai sebesar Rp 155,4 triliun yang salah satunya berasal dari cukai rokok sebesar Rp 148,2 triliun. Target itu naik 0,5 % dari target tahun lalu.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: