BPK: Rute LN Garuda Indonesia kurang efektif

 

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merilis hasil pemeriksaan atas kinerja pemasaran luar negeri dan pemeliharaan pesawat tahun 2015 dan triwulan I 2016 pada PT Garuda Indonesia (persero) Tbk, Selasa (3/10). BPK melakukan pemeriksaan rutin dan pemeriksaan kinerja terhadap anak perusahaan dan instansi terkait pada perusahaan penerbangan dengan kode Bursa Efek Indonesia (BEI) GIAA ini di Tangerang, Medan, Batam, Jakarta, Sydney, London, Paris dan Beijing.

Dalam pemeriksaan tersebut, BPK menyimpulkan bahwa kegiatan pemasaran luar negeri yang dilaksanakan kurang efektif. Permasalahan terkait dengan efektivitas kegiatan pemasaran luar negeri, yakni kinerja rute penerbangan internasional belum sesuai dengan target yang diharapkan.

Terdapat 28 rute penerbangan internasional yang dilayani belum memberikan keuntungan bagi perusahaan. Bahkan malah menyumbang kerugian terbesar selama tahun 2016 seperti yang dialami rute penerbangan Cengkareng-Singapura-London Heathrow Airport-Cengkareng.

Yudi Ramdan Kepala Biro Humas dan Kerjasama Internasional Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI mengatakan, pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan kegiatan pemeriksaan biasa dan rutin dilakukan. Ini bertujuan agar kinerja perusahaan penerbangan pelat merah ini semakin membaik.

“Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai apakah pengelolaan kegiatan pemasaran luar negeri telah dilaksanakan secara efektif dan pemeliharaan pesawat telah dilaksanakan secara efisien. Ini dalam rangka menjadikan perusahaan tumbuh secara berkesinambungan untuk senantiasa memberi nilai tambah bagi stakeholders dan mencapai target-target yang telah ditetapkan,” kata Yudi, Selasa (3/10).

Selanjutnya kinerja rute destinasi China belum optimal. Tak hanya itu, evaluasi rute tidak sesuai dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), dan tidak ada standarnya, serta hasil evaluasi tidak memberikan dampak perubahan kinerja.

BPK juga merilis hasil evaulasi pada kegiatan pemeliharaan pesawat pada GIAA. Hasil pemeriksaan BPK menyimpulkan cukup efisien. Permasalahan yang terkait dengan efisiensi kegiatan pemeliharaan pesawat sebagai berikut.

Pertama, perjanjian pemeliharaan pesawat antara PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (PT GMF) dan pelanggan tidak secara optimal menjamin pemenuhan hak dan kewajiban para pihak. Sehingga berpotensi mengganggu aliram kas PT GMF. Hal ini mengakibatkan penagihan PT GMF kepada pihak lain (GIAA dan PT. PT Citilink Indonesia) atas kegiatan pemeliharaan pesawat sebelum amendemen perjanjian yang disepakati dan ditandatangani kedua belah pihak berpotensi tidak dapat dibayar.

PT GMF juga berpotensi kehilangan pendapatan atas denda keterlambatan pembayaran dari GIAA dan time and material basis (TMB) PT Citilink Indonesia. Serta berpotensi mengalami kesulitan aliran kas karena waktu pembayaran yang relatif lama dari pelanggan.

Kedua, pemeliharaan pesawat udara milik GIAA dan PT Citilink Indonesia oleh PT GMF belum sepenuhnya mencapai target Service Level Agreement yang disepakati. Sehingga PT GMF berpotensi didenda senilai US$ 2,06 juta untuk service ability dan US$ 204,32 ribu untuk Dispatch Reliability.

Sumber : kontan.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: