Cukai Mengintai Kendaraan Bermotor

Pemerintah akan mengubah PPnBM kendaraan bermotor menjadi cukai

JAKARTA. Upaya pemerintah melakukan reformasi pajak mulai tampak. Salah satu poin menarik adalah: rencana pemerintah mengubah pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah atau PPnBM kendaraan bermotor menjadi cukai produk otomotif.

Paparan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara dalam seminar What Next After Tax Amnesty pekan lalu menyebutkan rencana itu. Selain perluasan basis pajak, penambahan tarif, pemerintah juga akan mengalihkan pengenaan PPnBM kendaraan bermotor menjadi cukai. Menurut Suahasil ada hubungan dekat antara PPn dan PPnBM, meski praktiknya berbeda.

Jika PPN dipungut dari produsen dan konsumen atas masuk atau keluarnya barang, PPnBM dipungut dari konsumen akhir atau pengguna barang. “Padahal, idealnya hanya satu. Pemikirannya selanjutnya: PPnBM bisa jadi cukai,” katanya kepada KONTAN.

Suahasil mesih enggan menjelaskan rencana itu dengan alasan rencana peralihan PPnBM kendaraan bermotor ke cukai masih tahap diskusi. Namun, jika menurut catatan KONTAN, rencana ini pernah digulirkan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah menuju low carbon emision program (LCEP) dan target penurunan gas rumah kaca (CO2).

Cukai otomotif kelak akan dikaitkan dengan pajak emisi karbon (carbon tax). Artinya cukai lebih tinggi akan dikenakan untuk kendaraan yang terbanyak menimbulkan efek buruk lingkungan. Kendaraan yang paling mini keluarkan emisi, cukainya kian rendah.

Direktur Peraturan Perpajakn Ditjen Pajak Kemkeu Arief Yanuar menambahkan, perlu aturan sendiri jika PPN yang selama ini menganut skema value added tax (VAT) menjadi goods and service tax (GST) atau cukai.

Namun, menurut dia, PPnBM kendaraan bermotor bisa dialihkan menjadi cukai. Pasalnya, keduanya memiliki persamaan, yaitu bukan objek kebutuhan masyarakat umumnya. Selama ini, PPnBM kendaraan bermotor diatur Peraturan Menteri Kementerian Keuangan (PMK) No 33/PMK.010/2017. Beleid ini mengatur pengenaan PPnBM 10%-150% untuk kendaraan bermotor berdasarkan kapasitas silinder.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo menyebut, pengenaan cukai otomatif langkah tepat untuk mengatasi masalah lingkungan, dan mengurangi ketimpangan.

Ditengah lesu penjualan, industri otomoti justru minta pemangkasan pajak, bukan kenaikan pajak atau pungutan baru.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: