KATA MEREKA: Rugi Macet Rp87,8 Triliun, Pemerintah Harus Kurangi Kendaran Pribadi dan Tambah Angkot

Kemacetan masih menjadi masalah utama di Ibu Kota. Pemerintah masih terus dituntut untuk segera membenahi masalah ini yang kian memprihatinkan. Selain menghambat mobilitas masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, kemacetan juga menimbulkan efek rugi bagi ekonomi yang sangat besar.

Intelligent Transport System (ITS) Indonesia memperkirakan, jika tidak teratasi maka kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta bakal mencapai USD6,5 miliar atau setara Rp87,8 triliun pada 2020 (kurs USD1 = Rp13.508).

Nilai tersebut meningkat 6,5 kali lipat di bandingkan kerugian dampak macet di Ibu Kota pada 2010 lalu senilai USD1 miliar (Rp13,5 triliun). Pada Oktober lalu, Bappenas mengungkap kerugian akibat kemacetan mencapai Rp67 triliun per tahun.

Bagaimana tanggapan masyarakat dengan kemacetan di Ibu Kota? Apa kerugian yang mereka rasakan dengan hal ini? Berikut kata mereka:

  1. Anastasia Widhi (24) Karyawan Swasta

Untuk mengurangi kemacetan sebaiknya lebih ditegaskan untuk menggunakan kendaraan umum yang sudah disediakan. Tetapi menurut saya pemerintah harus memperbaiki kualitas, keaman dan kenyamanan kendaraan umum. Sekaya-kayanya orang pasti akan memilih kendaraan umum kalau kendaraan umum kita sudah maju.

Kalau dibandingkan dengan Jepang, trasnportasi di sana sangatlah nyaman. Hamper di mana-mana terdapat kereta yang mudah di akses. Kita ingin pergi ke mana juga cepet dan enggak secape bawa kendaraan sendiri.

Kalau di Jakarta kan yang bikin macet karena orang enggak mau naik kendaraan umum. Karena transportasi umum di Indonesia masih kacau balau. Naik kereta masih harus berdesakkan, naik Transjakarta harus antre panjang.

Belum lagi kalau naik Transjakarta dan kena macet, akan sangat membuang-buang waktu. Padahal waktu adalah uang. Kalau kita pilih untuk naik angkot, masih banyak terdapat preman, copet dan pengamen yang mengganggu kenyamanan.

  1. Bhima Yudhistira, Pengamat Ekonomi

Betul kerugian cukup besar bagi ekonomi nasional. Ini terjadi karena jumlah kendaraan umum tidak dibatasi. Padahal mau dibangun jalan sepanjang apapun tidak akan bisa menandingi jumlah volume kendaraan bermotor yang meiliki total 18 juta, sedangkan jumlah kendaraan bermotor sudah hampir dua kali lipat penduduk.

Pemerintah perlu segera membatasi jumlah kendaraan bermotor melalui beberapa instrument misalnya cukai kendaraan bermotor. Esensi cukai adalah membatasi barang dengan eksternalitas negative. Jadi tahun 2018 pemerintah sedang kekurangan pajak dari cukai kendaraan ini bisa mnejadi opsi yang menarik. Potensi penerimaan dari motor dan mobil diprediksikan akan mencapai lebih dari Rp5 triliun per tahun.

  1. Henricus Widhi (32) Karyawan Swasta

Waktu yang kita punya jadi sia-sia karena kemacetan di Jakarta. Padahal jika diibaratkan waktu adalah uang. Selain waktu juga BBM jadi terbuang sia-sia, yang harusnya bisa hemat karena macet malah jadi boros.

Belum lagi kalau macet ongkos transport barang dan jasa membengkak, kalau lancer kan otomatis biaya enggak akan jadi mahal.

  1. Benedigtus Kunto (21) Mahasiswa

Menurut saya macet menimbulkan kerugian karena adanya ketidak lancaran mobilitas dari satu daerah ke daerah lain. Coba bayangkan saja truk yang mengangkut sayur atau buah segar dari desa dan ingin dibawa ke kota. Atau bisa juga membawa ikan segar tangkapan langsung dari laut. Dibawa panas-panasan dengan jarak yang cukup jauh dan macet-macetan.

Secara otomatis pasti ada beberapa sayuran yang dapat dikatakan tidak segar lagi dan bisa saja busuk. Hal ini akan membuat terjadinya kerugian dan membuat harga sayuran itu sendiri naik.

Secara khusus pemerintah harus lebih baik lagi dalam menyikapi persoalan kemacetan ini dengan memperbaiki fasilitas umum seperti angkutan umum dibuat jauh lebih nyaman. Agar adanya pengurangan tingkat pembelian kendaraan pribadi yang membuat masyarakat lebih nyaman untuk naik angkutan umum dibanding membawa kendaraan pribadi.

  1. Cedi Haryo (25) Karyawan Swasta

Harus ada transportasi umum yang terintegrasi agar masyarakat sendiri enggak terus menerus menggunakan kendaraan pribadi. Sebaiknya Indonesia mulai mencanangkan infrastruktur Mobil Listrik seperti negara lain agar lebih hemat dalam penggunaan BBM.

Seharusnya kita dapat menghemat BBM tapi karena macet di Jakarta sudah keterlaluan yang ada kita malah rugi di BBM. Belum lagi kalau harga BBM itu sendiri naik. Pantas saja bila merugi hingga Rp87,8 triliun. Pemerintah harus lebih tanggap lagi dalam menyikapi masalah ini.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: