Digital Kian Kencang SDM Bank Berkurang

Jumlah karyawan sejumlah bank berkurang, tergerus perkembangan teknologi digital.

Ini sebuah keniscayaan. Pada masa depan, peran teknologi akan semakin besar menggantikan manusia dalam melankukan berbagai pekerjaan. Setidaknya, tanda-tanda itu sudah mulai terlihat saat ini. Di sejumlah industri, para pelaku bisnis tak bisa lepas dari perangkat teknologi bernama mesin dalam memacu roda bisnisnya.

Contohnya fenomena yang terjadi di industri perbankan tanah air. Kini, perbankan mulai mengandalkan platform digital dalam kegiatan bisnisnya. Ujung-ujungnya, peran sumber daya manusia (SDM) di perbankan secara perlahan mulai berkurang. Kondisi ini bisa dilihat dari berlanjutnya tren pengurangan karyawan di industri perbankan nasional.

Mengutip laporan keuangan konsolidasi bank di kuartal III 2017, Tabloid KONTAN mencatat, beberapa bank swasta besar di Indonesia mengalami pengurangan pegawai. Contohnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga). Sampai September tahun ini, jumlah karyawan bank berkode saham BNGA tercatat 12.981 orang, berkurang 88 orang didibandingkan September 2016 sebanyak 13.069 pegawai.

Hedy Lapian, Direktur Sumber Daya Manusi (SDM) Bank CIMB Niaga mengakui, jumlah karyawan berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kata dia, berkurangnya karyawan terjadi dalam kondisi normal dan tidak ada peristiwa yang extraordinary atau luar biasa. “Yang pasti, di bank kami, tidak ada program pengurangan karyawan. Berkurangnya karyawan merupakan normal atrition,” kata Hedy kepada Tabloid KONTAN.

Menurut Hedy, perputaran karyawan di industri perbankan memang sangat cepat karena kurangnya pasokan. Dengan kondisi tersebut, pihaknya banyak melakukan pengembangan internal. Salah satunya memberikan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan SDM yang tepat di bidang pekerjaannya.

Dus, Hedy menampik, pengurangan karyawan dilakukan bank demi mengejar efisiensi biaya operasional. “Saya rasa tidak ada hubungan langsung antara pengurangan karyawan dan efisiensi. Apaladi kalau normal attrition, yang artinya karyawan resign karena pindah kerja baik ke dunia perbankan atau ke non bank,” imbuh dia.

Yang menarik, pandangan berbeda justru diungkapkan Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC NISP). Menurut Parwati, jumlah pegawai yang sedang turn over. Selain itu bank juga sedang berupaya meningkatkan efisiensi yang saat ini masih dalam proses. “Pengurangan karyawan sebagai bagian dari optimalisasi terkait penyederhanaan proses bisnis agar lebih sederhana,” kata Parwati kepada Tabloid KONTAN.

Parwati tidak membantah, sampai September 2017, jumlah karyawan OCBC NISP telah berkurang 285 orang dibandingkan periode yang sama di 2016 yang sebanyak 6.874 pegawai. Pengurangan karyawan tersebar di berbagai lini bisnis.

Namun begitu kata Parwati selama sembilan bulan pertama 2017, OCBC NISP sudah menerima lebih dari 600 karyawan baru. Sampai akhir tahun ini, jumlah pegawai OCBC NISP di perkirakan tidak akan jauh berbeda dengan posisi saat ini, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan di awal tahun 2017. Asal tahu saja, per Desember 2016, jumlah karyawan OCBC NISP sebanyak 6.796 orang.

Aslan Lubis, Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK, mengatakan, berkurangnya pegawai di sejumlah faktor. Di antaranya, karena adanya proses konsolidasi internal bank. Kondisi ini bisa di lihat dari jumlah kantor cabang bank yang ikut berkurang.

Konsolidasi tersebut, antara lain, untuk merespons semakin pentingnya peranan teknologi informasi di perbankan, “Antara lain, dengan kehadiran digital banking, branchless banking, dan dorongan persaingan dengan perusahaan tekfin,” kata Aslan pada Tabloid KONTAN.

Penilaian Aslan, boleh jadi benar. Di sepanjang tahun ini, bank getol mengurangi jumlah kantor cabang. Data SPI OJK menunjukkan, sampai September 2017, jumlah kantor cabang bank umum berkurang 217 unit dari 32.752 unit pada September 2016 menjadi 32.535 unit pada September 2017.

Pendapat Aslan diamini Josua Pardede, Ekonom Bank Permata. Dia menilai, salah satu faktor utama pemicu pemangkasan karyawan di bank adalah pesatnya kemajuan teknologi. Saat ini, bank memasukkan platform digital ke model bisnisnya. Misalnya, ada bank yang mengadopsi model bisnis teknologi finansial (tekfin) atau mengembangkan platform digital banking.

Strategi itu dilakukan bank sebagai upaya menekan biaya operasional (BOPO). “Salah satu komponen terbesar biaya operasional bank adalah gaji karyawan. Dengan mengurangi karyawan, bank berharap bisa menekan BOPO, sehingga dapat meningkatkan marjin,” kata Josua kepada Tabloid Kontan.

Kalah bersaing

Josua menambahkan, pengurangan karyawan juga bisa terjadi karena bank kalah bersaing di segmen bisnis tertentu. Misalnya, persaingan di bisnis kredit usaha mikro. Seperti yang diketahui, persaingan di bisnis kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) semakin tinggi sejak pemerintah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang bersaing.

Nah, menurut Josua, bank yang belum memiliki pengalaman di satu segmen kredit UMKM tentu akan kesulitan berkompetisi dengan bank-bank BUMN yang mendapatkan tugas dari pemerintah untuk menyalurkan KUR dengan bunga rendah.

Maklum, tidak semua bank punya SDM mumpuni dan jaringan infrastruktur bagus untuk menjangkau nasabah hingga ke pelosok daerah. “Makanya karena model bisnis baru lagi, bank mengubah strategi memangkas SDM di segmen mikro untuk selanjutnya fokus ke segmen mikro untuk selanjutnya fokus ke segmen kredit konsumer atau korporasi,” papar Josua.

Glen Glenardi, Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, mengakui, pengurangan karyawan dilakukan sejalan dengan perubahan fokus bisnis bank. Sejalan dengan tren digitalisasi di industri perbankan, teknologi memberi andil terhadap model bisnis bank. Alhasil, pengurangan karyawan tak bisa dihindari.

Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan, ke depannya akan terjadi PHK massal di bank seiring kemajuan teknologi. Hal ini terjadi jika transaksi atau proses bisnis di bank sudah dominan mengandalkan teknologi. “Jika ini terjadi, peran orang yang bersifat operator atau klerikal bisa saja hilang di bank,” imbuh dia.

Sampai September 2017, jumlah karyawan Bank Bukopin tercatat hanya 5.974 orang atau telah berkurang 153 orang dari 6.127 orang di periode September 2016. Glen bilang, pengurangan karyawan terjadi di sejumlah divisi, seperti teller dan layanan pelanggan (customer service). “Pemutusan hubungan kerja (PHK) antara lain, karena karyawan melakukan fraud, memilih mundur, pindah kerja, dan perubahan fokus bisnis ungkap Glen.

Ironisnya, berkurangnya jumlah karyawan bukan hanya dialami bank swasta. Sejumlah bank BUMN juga mengalami hal serupa. Contohnya PT Bank Mandiri Tbk. Dalam sembilan bulan di tahun 2017, jumlah karyawan Bank Mandiri telah berkurang 558 orang.

Meski mengakui jumlah karyawannya berkurang, Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menegaskan, hal itu terjadi bukan karena adanya kebijakan PHK internal perusahaan. “Pengurangan jumlah karyawan adalah siklus yang wajar. Sebagaian dari karyawan ada yang purna-tugas, pindah kerja, atau mengundurkan diri. Sangat kecil persentase pengurangan karyawan dibandingkan total karyawan kami yang sekitar 80.000 orang,” ujar Rohan kepada Tabloid Kontan.

Hery Gunardi, Direktur Distribusi Bank Mandiri, mengatakan, saat ini sekitar 92% transaksi di Bank Mandiri dilakukan lewat digital banking. Dengan begitu, peran SDM akan sedikit berkurang. Karena itu, pada tahun depan, bank dengan logo pita emas ini tidak jor-joran melakukan penambahan kantor cabang.

Menurut Hery, sampai September 2017, Bank Mnadiri hanya menambah jaringan kantor cabang kurang dari 50 unit. “Padahal beberapa tahun sebelumnya, kami tiap tahun pasti menambah cabang sebanyak 100 unit,” kata Hery.

Hary mengisyaratkan, ke depan, tidak menutup kemungkinan Bank Mnadiri akan mengoptimalkan SDM front end di cabang jadi tenaga pemasar. Soalnya, keinginan nasabah untuk datang ke cabang saat ini terus menurun. Nasabah lebih memilih transaksi lewat e-channel, seperti internet banking dan mobile banking.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: