Kurangi Defisit Anggaran, Legislator Minta Kurangi Impor BBM dan LPG

Kurangi Defisit Anggaran, Legislator Minta Kurangi Impor BBM dan LPG

Wakil Ketua Komisi VII DPR-RI Satya W Yudha menilai perlu pengurangan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Natural Gas (LPG) pada tahun depan.

Hal tersebut dikatakannya sebagai pandangan legislator mengenai apa yang harus dilakukan di sektor migas di 2018. Impor BBM dan elpiji dinilai sebagai penyumbang dalam defisit anggaran pemerintah.

“Jadi gini, kita ingin satu merealisasikan kebutuhan energi yang selama ini berkontribusi dalam defisit anggaran,” kata Satya saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis, 21 Desember 2017.

Satya menjelaskan bagaimana cara mengurangi kegiatan impor tersebut. Pertama, dengan melanjutkan program konversi BBM ke BBG dan kedua melalui program jaringan gas (jargas) kota.

“Maka yang kita dorong 2018, bagaimana mengkonversi BBM ke BBG. Karena begitu mengkonversi BBM ke BBG, kebutuhan BBM kita mengecil otomatis defisit transaksi berjalan kita juga menjadi bagus. Lalu, elpiji kita kurangi dengan gas kota,” jelas dia.

Selain itu, politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini juga menyebut cara meminimalisir impor LPG dengan dilakukan penyaluran elpiji tepat sasaran. Penyerapan LPG tepat sasaran akan menekan kelebihan kuota yang sering terjadi.

Kelebihan kuota terjadi karena adanya  pengoplos-pengoplos nakal yang membeli elpiji 3 kg (untuk masyarakat miskin) kemudian diisi ke tabung elpiji 12 kg.

“Ketiga, elpiji kita ingin yang targeted dengan distribusi tertutup. Targeted sehingga si penerima saja yang diberikan LPG,” ujar dia.

Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) memproyeksikan impor minyak mentah (oil crude) 2017 naik 15,96 persen menjadi 155,39 juta barel dibanding tahun lalu sebesar 134 juta barel.

Daniel S Purba, Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, mengatakan kenaikan volume impor dipicu konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik.

Minyak mentah dari domestik dan luar negeri tersebut kemudian diolah di kilang Pertamina menjadi premium sebanyak 51,78 juta barel, pertamax 35,95 juta barel, pertalite 2,53 juta barel, solar 141,18 juta barel, dan avtur 22,13 juta barel.

Sumber : metrotvnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: