Come Back Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan

Come Back Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan

Perekonomian Indonesia mendekati akhir tahun 2016 dirasa perlu terobosan baru agar lebih bergairah dan tersebar secara merata. Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara gamblang membutuhkan sosok baru yang mengawal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi lebih kredibel.

Jokowi memilih Sri Mulyani Indrawati yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia untuk menjadi Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro yang dianggap belum membuat APBN lebih kredibel.

APBN yang kredibel, merupakan sebagai kebijakan fiskal yang mampu membuka lapangan kerja seluas-luasnya kepada rakyat, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Mengingat tantangan dan ketidakpastian dunia terjadi secara cepat, sehingga butuh respon yang cepat.

Usai dipercaya kembali sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani lantas melakukan hal yang tidak biasa yaitu merombak APBN 2016 dengan memangkas anggaran belanja dalam APBN-P 2016 sebesar Rp 133,8 triliun. Pemangkasan itu mencakup anggaran belanja Rp 65 triliun di Kementerian/Lembaga, serta transfer ke daerah Rp 68,8 triliun.

Pemangkasan yang dilakukannya juga tidak mengganggu kemampuan APBN mendorong perekonomia. Sebab, sasaran pemotongan ini adalah belanja yang tidak prioritas, seperti gaji pegawai, belanja dana oprasional, perjalanan dinas, pembangunan gedung pemerintah.

Perombakan APBN-P 2016 juga sesuai dengan percakapan pertamanya dengan Presiden Jokowi setelah menjadi Menteri Keuangan pada 27 Juli 2016, di mana dirinya meminta untuk membongkar APBN.

Menurut dia basis perpajakan Indonesia masih sangat rendah sehingga sulit untuk mencapai target penerimaan perpajakan yang pada waktu itu ditetapkan sebesar Rp 1.539,2 triliun. Jika itu tidak bisa dijadikan acuan maka akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi di kemudian hari. tidak tanggung-tanggung, dia memperkirakan terjadi shortfall atau kekuangan penerimaan pajak Rp 219 triliun sehingga harus melakukan pemangkasan anggaran.

Setelah dirombank, realisasi APBN-P 2016 tercatat belanja negara sebesar Rp 1.869,5 triliun (89,3%) dengan penerimaan negara Rp 1.551,8 triliun (86,9%), maka defisit mencapai 2,46% terhadap PDB.

Penerimaan negara itu meliputi perpajakan Rp 1.283,6 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 262,4 triliun, serta hibah Rp 5,8 triliun.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 

 

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: