Industri Keramik Lesu

Perjanjian dagang antara Asean dan China menyebabkan impor keramik kian sulit terbendung

Jakarta. Industri keramik domestik masih menemui jalan terjal. Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) memprediksi, pasar keramik lokal tetap akan menunjukkan tren perlambatan di tahun ini.

Elisa Sinaga, Ketua Asaki mengatakan, serbuan keramik impor khususnya dari China kian menambah industri lokal terjepit. “Kami berharap demand tumbuh, seperti properti yang tampaknya tumbuh. Namun di tengah permintaan naik ada kesulitan pelaku domestik mengambil porsinya,” ujar Elisa, kepada KONTAN (11/1).

Walaupun sulit Asaki berharap, bisnis keramik bisa tumbuh 10% di tahun ini karena bangkitnya sektor properti. Adapun kebutuhan keramik saat ini jumlahnya diperkirakan mencapai 360 juta meter persegi (m2)-370 juta m2.

Terhalang perjanjian

Ditengah sulitnya industri keramik dalam negeri, perjanjian dagang antara Asean dengan China atau Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) semakin merugikan industri keramik tanah air.

Sekadar catatan, bila sebelum implementasi ACFTA bea masuk (bm) keramik asal China ke Indonesia dikenakan 20%, saat ini turun jauh hanya sebesar 5%. “Saat itu saja impor keramik naik 20%-26% tiap tahunnya, bagaimana dengan sekarang yang bea masuknya jadi 5%,” kata Elisa.

Tidak heran, bila pasca penerapan ACFTA tersebut tren impor keramik asal negeri Tirai Bambu mengalami lonjakan. Apalagi, keramik produksi China harganya jauh lebih rendah dibandingkan produk dalam negeri.

Sulit bersaingnya industri keramik lokal dengan produk dari China lantaran biaya produksi yang dikeluarkan lebih mahal. Tengkok saja, sebagian besar bahan baku keramik masih didatangkan dari China. Dengan bea dumping sebesar 26% maka biaya produksi keramik semakin tinggi.

Selain itu, harga gas yang tidak kunjung turun di sektor industri keramik ini menambah penderitaan. “Produsen tertekan dengan produksinya. Plus harga gas masih tinggi dari harga saing,” kata Elisa.

Di tengah persaingan pasar yang semakin sengit, beberapa produsen keramik lokal menyusun strategi agar dapat bertahan. PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk misalnya, emiten berkode saham IKAI di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini menyinergikan bisnis keramik dengan merambah bisnis pengembang properti.

“Bisa saling mendukung, yang mana aset (hotel dan vila) ini harus menggunakan produk keramik kami, Essenza. Jadi nanti bakal punya captive market yang lumayan,” kata Setiawan Widjojo, Presiden Komisaris Intikeramik Alamasri Industri.

Saat ini, Intikeramik Alamasri Industri sedang mengembangkan proyek properti di Bali dan Medan. Salah satunya adalah vila mewah yang akan di bangun di lahan seluas 69.000 meter persegi (m2) yang terletak di wilayah Ubud Provinsi Bali. Investasi yang digelontorkan mencapai Rp 817 miliar.

Di daerah yang sama, Intikeramik juga berencana membangun hotel di area seluas 29.000 m2. Investasi untuk hotel ini mencapai Rp 347 miliar dengan kapasitas kamar sebanyak 90 unit dan ditargetkan selesai pada 2019 mendatang.

Tahun ini, Intikeramik Alamasri Industri mengalokasikan seluruh belanja modal untuk penyelesaian peremajaan mesin-mesin produksi. “Belanja modal tahun depan hanya sebesar Rp 7 miliar untuk peremajaan mesin,” kata Yohas Raffli, Presiden Direktur Intikeramik Alamasri Industri.

Tercatat, hingga kuartal III 2017, pendapatan IKAI anjlok 81% menjadi Rp 11,54 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: