Menteri Bambang: Daya Beli di Tahun Politik Tinggi

https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 17 20 1846227 menteri-bambang-daya-beli-di-tahun-politik-tinggi-fpDaDVX32l.jpg

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan tahun politik menjadi potensi besar meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) akan semakin meningkat untuk kebutuhan kampanye.

Seperti diketahui, tahun 2018 merupakan tahun politik di mana 171 daerah akan mengadakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Di sisi lain tahun ini juga menjadi awal jelang masuknya Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) di tahun 2019.

Bambang memastikan investor tak perlu takut mengeluarkan dananya berinvestasi di tahun politik. Pasalnya perputaran uang akan sangat besar di tahun ini.

“Orang-orang ini (kontestan pemilu) akan butuh atribut untuk kampanye, kaos, banner dan lain-lain. Maka perputaran uangnya sangat besar. Tahun 2014 pertumbuhan konsumsi LNPRT atau non pemerintah rumah tangga, sampai di atas 20%,” ujar Bambang dalam  acara Danareksa Economic dan Investment Outlook 2018 di hadapan puluhan investor di Gran Hyatt, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Mantan menteri keuangan menyebutkan dengan 171 daerah di mana perkiraan per daerah terdiri dari 4 calon maka akan ada sekitar 680 calon yang keluarkan dananya untuk kebutuhan kampanye.

“Ya beda-bedalah tiap daerah dananya berapa miliar. Tetapi hanya 680-an orang itu yang butuh spending dalam rangka kampanye bisa mencapai sekitar Rp170 miliar,” jelas Bambang yang juga Kepala Bappenas.

Bambang mengatakan pemilu yang akan sangat berdampak pada daya beli yang tinggi adalah Pileg di samping Pilpres dan Pilkada. Ini berkaitan dengan jumlah calon yang akan ikut.

“Pilpres mungkin calonnya cuma dua, tapi memang ranahnya se-Indonesia, ini akan cukup besar spending uangnya. Tapi Pileg ini akan sangat besar. Anggota DPR 550-an, belum DPRD-nya, DPD-nya. Jadi sekian ribu orang ini butuh atribut kampanye, spending-nya sangat besar,” jelasnya.

Jadi tak ada alasan sebenarnya untuk investor menahan dananya. Kondisi wait and see, menurut dia akan terjadi pada investor yang berkarakter tak mau mengambil risiko.

“Tergantung karakter pengusaha. Pengusaha kurang enteupreneur maunya main aman. Tapi yang enterpreneur sesungguhnya akan ambil langkah duluan. Jadikan ini peluang,” tukasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar