Rupiah berharap pada data ekspor impor

Rupiah berharap pada data ekspor impor

Rupiah pada perdagangan, Senin (12/2) diprediksikan masih akan melemah. Mengutip Bloomberg, Jumat (9/2) rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,17% di Rp 13.628 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah terkoreksi 0,3% ke posisi Rp 13.643 per dollar AS. Angka ini sudah turun 1,6% dalam sepekan terakhir.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan sentimen eksternal mendominasi pelemahan rupiah.

Reny menyebutkan, pertama hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan tahun ini AS optimistis membukukan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kedua, inflasi AS diproyeksikan meningkat dibanding dengan tahun sebelumnya, atau di atas 2%. Ketiga, kepemimpinan Jerome Powell dianggap membawa sentimen positif bagi AS. Keempat, reformasi pajak yang terus berlanjut.

Dari kondisi tersebut membuat yield US Treasury meningkat. “Penguatan yield AS membuat bond market AS ramai, investor cukup kencang berinvestasi di sini,” kata Reny, Jumat (9/2).

Perkembangan di AS yang positif pun membuat investor optimistis untuk membeli atau menahan kepemilikan dollar AS.

Sedangkan, rilis data-data Indonesia yang juga positif dirasa masih kurang dalam menahan tekanan penguatan dollar AS. Reny memperhatikan yang harus diwaspadai adalah dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia.

Reny memproyeksikan rupiah hari ini masih tidak banyak terjadi perubahan di rentang Rp 13.576 per dollar AS-Rp 13.648 per dollar AS.

Senada, Lukman Leong Analis PT Valbury Asia Futures memperkirakan rupiah Senin masih akan volatile cenderung melemah.

Penyebabnya, kondisi AS masih bergejolak, yield US Treasury yang aktif bergerak, serta banjirnya dana ke pasar modal AS. “Ada kekhawatiran juga investor asing menghindari rupiah,” kata Lukman.

Rupiah hari ini, Lukman proyeksikan bergerak di Rp 13.610 per dollar AS-Rp 13.690 per dollar AS.

Sementara untuk sepekan Reny mengatakan kondisi pasar valuta asing masih akan volatile. Penyebabkan, pekan depan masih akan banyak data regional yang keluar. Reny menyarankan, investor hendaknya mengantisipasi agenda pidato dari pejabat The Fed di pekan depan.

Selain itu, data inflasi AS juga akan rilis pada pekan depan. “Jika inflasi AS menguat, jadi katalis positif buat dollar AS untuk semakin menguat,” kata Reny.

Sementara, dari dalam negeri, investor bisa berharap pada keluarnya data ekspor impor Indonesia. Jika data tersebut dirilis dengan hasil positif maka bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Reny memperkirakan sepekan depan rupiah akan bergerak di rentang Rp 13.540 per dollar AS-Rp 13.676 per dollar AS.

Sementara, Lukman memproyeksikan sepekan depan pergerakan rupiah masih cukup volatile. Menurut Lukman, rupiah baru bisa stabil bila dana yang masuk pasar modal AS mereda.

Sentimen dalam negri, menurut Lukman belum cukup untuk menahan tekanan dari AS. “Kondisi yang terjadi di AS ini tidak umum, namun untuk jangka panjang Lukman memproyeksikan rupiah masih akan positif,” kata Lukman.

Sepekan depan, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 13.600 per dollar AS-Rp 13.800 per dollar AS.

Sumber : kontan.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: