Menkeu Bangkitkan Kredibilitas

Pesan Bung Karno kembali ramai dikutip, kali ini untuk mengkritisi penghargaan Best Minister Awardyang diberikan The World Government Summit kepada Menkeu Sri Mulyani Indrawati, di Dubai. Bunyinya, “Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti, atau dicaci maki oleh asing, karena itu yang benar. Pemimpin seperti itu akan membelamu di atas kepentingan asing.

Janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena niscaya ia akan memperdayaimu.” Padahal, kutipan dari Bapak Proklamator RI itu tidak dimunculkan ramai-ramai tahun 2013, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu menerimaWorld Statesman Award dari lembaga asing. Penghargaan Negarawan Dunia itu tepatnya diberikan oleh Appeal of Conscience Foundation di New York, Amerika Serikat.

Kutipan lain Presiden Pertama RI Soekarno juga tidak disebut-sebut, saat ia menerima tawaran Jepang yang saat itu bahkan masih menjajah Indonesia. Ia mengatakan, ”Tentu ada orang yang menentang aku karena aku bekerja sama dengan Jepang. Namun, apa salahnya? Memperalat apa yang sudah diletakkan di depan kita adalah taktik yang paling baik. Dan itulah sebabnya mengapa aku bersedia menerimanya?”

Artinya, seharusnya semua kutipan bijaksana dari Bapak Bangsa ini diletakkan sesuai konteksnya. Konteksnya adalah meletakkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia di posisi nomor satu, peringkat teratas.

Jadi, kita tidak bisa menggunakan kutipan siapa pun untuk menafikan prestasi Sri Mulyani sebagai menteri keuangan di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), terlepas dari ada pula kekurangannya. Sri Mulyani-lah yang berhasil memperbaiki kredibilitas fiskal yang disusun oleh pemerintahan baru yang dilantik Oktober 2014 tersebut.

Menoleh ke belakang, sejak tahun 2015, isu yang mengemuka adalah fiskal yang tak sustainable. Itulah sebabnya, lembaga pemeringkat dunia yang paling bergengsi Standard & Poor’s (S&P) menunda-nunda pemberian lagi status investment grade kepada Indonesia, yang dicabut tahun 1999 karena krisis moneter dahsyat sejak 1997.

Tahun 2015, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 banyak yang meleset dari target. Akibatnya, defisit anggaran membengkak hampir 3% dari produk domestik bruto (PDB), tepatnya 2,8%, dari target sebelumnya 1,9%. Demi menambal defisit tersebut, pemerintah terpaksa menambah utang.

Jokowi akhirnya menarik Sri Mulyani menjadi menteri keuangan tahun 2016. Saat itu, ia masih menjabatmanaging director World Bank, yang bertanggung jawab terhadap operasi lembaga internasional tersebut di semua negara.

Di tangan Sri Mulyani, defisit anggaran akhirnya berhasil diperkecil. Tahun 2017, realisasi defisit anggaran hanya 2,57% terhadap PDB, jauh lebih kecil dari target APBN-P 2017 sebesar 2,92% terhadap PDB. Selain itu, masih ada Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), yang bisa digunakan sebagai bantalan. Realisasi defisit keseimbangan primer juga lebih rendah dari target APBN-P 2017, yakni sebesar Rp 129,3 triliun atau 72,6% dari target Rp 178 triliun.

Keseimbangan primer adalah penerimaan negara dikurangi belanja, di luar pembayaran bunga dan cicilan utang. Perbaikan fiskal itu berbuah manis, dengan mendapat apresiasi dari berbagai lembaga internasional. Puncaknya, S&P mau memberikan lagi status investment grade kepada Indonesia tahun lalu, setelah 20 tahun ditunggu-tunggu.

Perbaikan fiskal pun terus dilanjutkan. Setidaknya, tahun ini, defisit keseimbangan primer ditargetkan berkurang menjadi Rp 87 triliun. Hal itu sejalan dengan menurunnya target defisit anggaran, dari 2,92% PDB dalam APBN-P 2017 menjadi 2,19% PDB. Meski defisit anggaran diturunkan tahun ini, dana desa tidak dikurangi –tetap Rp 60 triliun– dan sudah diberikan ke desa-desa. Anggaran untuk masyarakat bawah bahkan bisa dinaikkan.

Itulah sebabnya, anggaran tahun ini dinilai semakin kredibel. Kredibilitas ini menjadi acuan asing untuk memasukkan lebih banyak dananya ke Indonesia. Bahkan, santer terdengar kabar S&P akan kembali menaikkan rating Indonesia tahun ini, menyusul langkah Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook tetap stabil, akhir Desember lalu.

Memasuki tahun ini, optimisme juga dipompakan lembaga pemeringkat internasional yang lain, Japan Credit Rating Agency (JCR). Pekan lalu, JCR resmi menaikkan peringkat utang RI dari BBB-/outlook positif menjadi BBB/ outlook stabil. Ini antara lain karena faktor utama sinergi pemerintah Indonesia dalam melakukan reformasi struktural untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Meski demikian, ada sejumlah catatan yang perlu diperbaiki ke depan. Yang pertama, realisasi pertumbuhan ekonomi yang cuma 5,07% tahun lalu, meleset dari target dalam APBN-P 2017 sebesar 5,2%. Selain itu, jumlah pengangguran masih tinggi mencapai 7,04 juta orang per Agustus 2017. Hal ini karena sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah sektor jasa yang tidak banyak menyerap tenaga kerja.

Sedangkan sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja dan memiliki nilai tambah tinggi, justru pertumbuhannya di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian pula, meski persentasenya menurun, penduduk miskin di Tanah Air juga masih banyak, mencapai 27,77 juta orang. Hal ini karena tingkat kemiskinan hanya turun sedikit dari 11,96% pada 2012 menjadi 10,64% tahun 2017.

Selain itu, target kenaikan pajak tahun ini juga terlalu besar dibanding realisasi tahun lalu. Padahal, di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari harapan, mestinya pengusaha tidak menjadi buruan untuk mengejar target kenaikan pajak. Justru untuk menggairahkan lagi ekonomi, di mana-mana di dunia, pajak diturunkan. Pajak baru digenjot lagi jika ekonomi sudah bagus kembali.

Meski demikian, sekali lagi, prestasi Sri Mulyani memperbaiki fiskal layak diapresiasi, tidak hanya oleh dunia namun juga bangsa ini. Prestasi menkeu ini membangkitkan kredibilitas Indonesia. Jika tidak kredibel, asing tak bakal datang untuk berinvestasi ke Indonesia. Padahal, kenaikan investasi ini merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi kita, selain konsumsi rumah tangga dan ekspor. Investasi ini pula yang menjadi sumber penambahan lapangan kerja baru bagi rakyat kita.

Sumber : beritasatu.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: