Soal Cantrang, Menteri Susi: Potensi PPh Rp20 Miliar Bisa Hilang

https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 12 320 1858582 soal-cantrang-menteri-susi-potensi-pph-rp20-miliar-bisa-hilang-uMk95HftzW.jpg

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan tetap melarang penggunaan alat tangkap cantrang. Akan tetapi dirinya memberikan tenggat waktu kepada para pengusaha dan juga nelayan pengguna cantrang untuk mengganti jenis alat tangkapnya.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti mengatakan, alasan kenapa pemerintah tetap melarang penggunaan cantrang adalah karena banyak kerugian yang dihasilkan dari alat tangkap tersebut. Salah satunya adalah hilangnya sumber pendapatan negara yang didapat dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Hilangnya pendapatan negara dikarenakan markdown yang dilakukan oleh kapal kapal pengguna cantrang. Apalagi kapal yang diwajibkan untuk membayar PNBP adalah kapal yang mayoritas kapal 30 GT ke atas yang melakukan markdwon.

“Data yang kita punya, terdapat gap pajak karena mereka selama ini marked down, tidak punya SPT dilaporkan, hanya beberapa kapal saja dalam periode 5 tahun pajak, potensi PPh yang hilang itu mencapai Rp20 miliar lebih,” ujarnya di Kantor Kementerian KKP, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Menurutnya Susi, sebagai contohnya adalah sampel Pemiliki kapal cantrang di Tegal yang berjumlah 340 kapal. Disana, terdapat tax gap atau penghasilan yang belum dilaporkan di SPT tahunan PPh sebesar Rp 20,58 miliar dalam periode 5 tahun pajak.

“Kemudian tax gap untuk 13 kapal yang belum dilaporkan, itu di SPT tahunannya saja sampai Rp 15,1 miliar. Ini baru sampling dari 11 pemilik kapal cantrang. Total itu ada selisih mark down dari 237 kapal itu 12.584 GT ukuran yang tidak tercatat. Inilah realitanya,” jelasnya.

Selain itu lanjut Susi, sumber daya perikanan Indonesiabjuga akan berpotensi cepat habis dan hilang. Pasalnya, setiap kapal cantrang diyakini akan membuang 500 kg hingga 1 ton hasil tangkapannya kembali ke laut dalam kondisi mati karena dianggap tidak memiliki nilai jual.

“237 kapal dikali setengah ton saja, 100 ton ikan dibuang tiap hari di tengah laut. Kalau nanti didata, ada 800 atau 1.000 kapal, dikali 2,5 ton ikan sehari, berapa ribu ton ikan dibuang di tengah laut. Karena alat tangkap cantrang itu pasti ada ikan yang dibuang, tidak semua dibawa pulang, terutama yang pakai freezer. Jadi kalau tangkapan banyak, bisa 1 ton dibuang ke tengah laut dalam kondisi mati. Inilah kenapa kita ingin mengalihkan mereka ke alat tangkap yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Belum lagi lanjut Susi, mayoritas pengguna cantrang juga membuang jaringnya hingga dasar laut. Sehingga membuat ikan laut yang masih kecil pun ikut tersaring.

“Tambangnya saja satu gulungan itu 100 meter dan 1000 meter. Jadi kapalnya bukan kapal kecil tapi kapal besar, kalau cantrang asli itu sistemnya lepas tarik buket gitu. Tapi cantrang yang sekarang hasil modifikasi pakai pemberat tambangnya juga,” jelasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: