Indonesia Butuh Pekerja Terampil

Indonesia Butuh Pekerja Terampil

Indonesia membutuhkan pekerja dengan keterampilan menengah hingga tinggi untuk menghadapi era digitalisasi ekonomi. Sebab, potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar dan belum dikelola secara maksimal.

Ditemui usai seminar Quo Vadis Ekonomi Digital Indonesia, di Jakarta, Rabu (21/2), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan untuk memperoleh pekerja dengan level menengah tinggi diperlukan sertifikasi yang berbasis kompetensi.

Sertifikasi tersebut bisa diperoleh melalui pendidikan vokasi yang basisnya bukan pendidikan formal, misalnya balai latihan kerja (BLK). Hal itu dilakukan supaya nanti pemberi kerja bisa mendapatkan tenaga kerja yang berstandar keterampilan yang jelas.

Bambang juga mengatakan para pekerja yang mendapatkan sertifikasi kompetensi tertentu tidak perlu khawatir tidak terserap dunia kerja karena mereka akan masuk kategori pekerjaan yang tidak mudah digantikan oleh otomatisasi.

“Akhirnya, nanti kita bisa mengurangi pengangguran yang terjadi akibat digitalisasi itu, dengan menciptakan tenaga kerja yang nanti bisa masuk ke pasar kerja di era digital,” kata dia.

Kebijakan lain untuk meningkatkan pekerja terampil dilakukan melalui penambahan kurikulum pelatihan serta mendorong pelatihan berbasis kompetensi dan magang.

“Kurikulum harus disesuaikan, namun yang paling penting harus ada pemagangan baik guru maupun siswa supaya kesenjangan terhadap pasar kerja dan pendidikan semakin kecil,” ucap Bambang.

Disrupsi Pasar

Dia mengatakan disrupsi atau gangguan di pasar kerja akibat ekonomi digital menyebabkan 52,6 juta (51,8 persen) pekerjaan berpotensi digantikan otomatisasi. Pekerjaan yang terdampak digitalisasi ekonomi antara lain akuntan, buruh, pandai besi, pegawai administrasi, petugas gudang, kasir, hingga penjaga tiket.

Bambang juga menyebutkan terdapat beberapa pekerjaan yang masih tetap dibutuhkan ke depan, antara lain desainer, koki, guru, dosen, dokter, arsitek, teknisi, serta seniman kreatif dan pertunjukkan.

Seperti diketahui, saat ini, kontribusi ekonomi digital terhadap perekonomian global mencapai 22 persen dan kontribusi aplikasi teknologi digital terhadap PDB global pada 2020 diprediksi mencapai dua triliun dollar AS. Sementara itu, nilai perdagangan secara daring di kawasan ASEAN diperkirakan mencapai 88 miliar dollar AS pada 2015 hingga 2025.

Sebelumnya, Chief Executive Officer Go-Jek, Nadiem Makarim, menilai Indonesia masih kekurangan banyak talenta di bidang informasi dan teknologi atau Information and Technology (IT). Padahal, perkembangan ekonomi digital sedang berkembang pesat di Tanah Air dan mengubah pola struktur konsumsi masyarakat.

Nadiem Makarim, di Jakarta, beberapa bulan lalu, mengatakan minimnya talenta bidang teknologi infromatika (TI) harus menjadi perhatian pemerintah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meningkatkan materi pendidikan bidang IT sejak dini.

Hal senada juga disampaikan Henry Hendrawan. Menurut Chief Financial Officer di layanan jasa wisata berbasis aplikasi, Traveloka itu, di Indonesia saat ini relatif sulit untuk mencari talenta yang bagus untuk mengembangkan bisnis digital.

Sumber : Koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: