Indonesia Jadi Sasaran Perang Proksi Via Penyelundupan Sabu

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kelima kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) dan pejabat lainnya menunjukkan barang bukti narkotik jenis sabu di Pelabuhan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (23/2).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meyakini perdagangan narkoba bukan murni bisnis, tetapi bagian dari perang proksi. “Saya termasuk yang berpendapat bahwa perdagangan narkoba bukan murni bisnis tetapi bagian dari perang proksi,” ujar Mendikbud saat dihubungi Antara.

Perang proksi merupakan perang ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menjelaskan, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, Indonesia menjadi pasar potensial terbesar di kawasan Asia Tenggara. Hal itu dibuktikan sebagian besar pasokan barang laknat itu berasal dari luar negeri.

“Kalau seandainya direncanakan paling tidak ada unsur pembiaran oleh negara tertentu yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar dan kuat. Bahkan barang itu. berasal dari negara yang sangat keras dan hukuman sangat berat terhadap pihak yang terlibat dalam sindikat peredaran obat terlarang tersebut,” ujarnya.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto meminta TNI, Polri, Bea Cukai, dan BNN harus bersinergi untuk menangani darurat narkoba di Tanah Air. “Saat ini, kita dalam kondisi darurat narkoba,” kata Panglima TNI.

Marsekal Hadi berkata, berbagai cara dilakukan oknum-oknum tak bertanggung jawab terus berupaya menyelundupkan narkoba masuk ke Indonesia melalui banyak pintu. “Dan, jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung,” kata Panglima TNI.

Setelah ada penangkapan narkoba seberat 1,29 ton, kata dia, TNI bersama mitra dan semua pihak tetap melakukan pemantauan karena tidak menutup kemung kinan masih ada upaya penyelundupan. Terbukti petugas menangkap penyelundupan narkoba seberat 1,6 ton sabu-sabu di dalam kapal ikan berisi jaring ketam asal Taiwan dengan bendera Singapura KM 61870 Penuin Union.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Eko Daniyanto menuturkan, Polri dan petugas bea cukai akan lebih fokus pemeriksaan pada kapal ikan yang datang dari Cina, Taiwan, dan Vietnam. Menurut Eko, saat ini tim patroli gabungan masih menyusuri pantai utara Sumatra untuk mencegah masuknya sindikat narkotika internasional masuk Indonesia.

Hal ini dilakukan juga dengan melibatkan anjing pelacak K-9 dengan kegiatan preventif atau pencegahan ini. “Sehingga, kita bisa mengantisipasi serbuan sindikat narkotika internasional yang mencoba menyeludupkan narkotika dengan jumlah besar via kapal ikan ini,” kata Eko, Ahad (25/2).

Eko juga mengklarifikasi terkait informasi temuan narkoba jenis sabu seberat tiga ton yang sudah beredar di masyarakat. Menurut Eko, tim gabungan belum menemukan barang bukti sabu seberat itu dalam penangkapan terhadap kapal ikan berbendera Taiwan pada Jumat (23/2) lalu.

Bahkan, mengenai kabar ditemukannya sabu tiga ton tersebut, sedari awal Eko membantah kabar tersebut. “Abang (Eko) tidak mengatakan seperti itu yah (temuan tiga ton),” kata Eko.

Adapun kabar soal tiga ton sabu yang beredar itu diketahui merupakan dugaan. Hanya saja, kabar tersebut cepat meluas di kalangan media massa. Padahal, menurut Eko, timnya di lapangan masih terus bekerja melakukan penggeledahan. Eko melanjutkan, Satgas Polri dan Bea Cukai saat ini sedang melaksanakan kegiatan Patroli bersama dalam upaya pencegahan terhadap kapal kapal Ikan yang datang dari Cina, Taiwan, Vietnam atau Myanmar yang patut diduga membawa narkotika.

Eko menambahkan, apa pun hasilnya bahwa semua usaha dan upaya tim dilakukan secara maksimal. Hal ini dalam rangka Indonesia harus siap menghadapi serbuan sindikat narkotika internasional yang mencoba memasukan narkotika ke Indonesia dengan berbagai cara atau modus operandi. “Seperti yang 1,622 ton yaitu via kapal Laut,” ujar Eko.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi tim Bea Cukai dan Kepolisian Kepulauan Riau yang berhasil mengagalkan upaya penyelundupan tiga ton sabu yang dibawa kapal ikan Myanmar berbendera Taiwan. Namun, ia juga geram ketika mendengar kabar tersebut.

“Saya sangat geram mendengar kabar bahwa masih ada sindikat bandar narkoba yang coba menyelundupkan sabu ke negara kita, bahkan hingga sebanyak tiga ton. Ini sudah sangat keterlaluan dan mengkhawatirkan,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/2).

Menurut pria yang akrab disapa Bamsoet ini, informasi intelijen Cina yang kepada BNN sebagaimana disampaikan Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso terbukti benar. Ada sekitar lima ton sabu senilai Rp 10 triliun menuju perairan Indonesia.

Tangkapan pertama satu ton di Batam. Tangkapan kedua 1,6 ton pekan lalu juga di Batam dan ketiga kemarin (23/2) sekitar tiga ton juga diperairan yang sama, yakni Batam Kepri.

“Saya akan minta Kapolri mengusut tuntas sampai ke akarnya,” kata Bamsoet.

Bagi Bamsoet, keberhasilan aparat hukum dalam mengungkap kapal pembawa Narkoba akhir-akhir ini seperti dua sisi mata uang. “Di satu sisi, saya bangga karena ini menunjukan prestasi cemerlang bagi aparat hukum kita. Di sisi lain, saya sedih karena ini menunjukkan negara kita seperti menjadi surga bagi peredaran narkoba,” ucap Bamsoet.

Pada Jumat, 23 Februari 2018 sekitar pukul 13.00 WIB di perairan Selat Philips dekat Pulau Nipah, Kapal Patroli milik Bea Cukai melaksanakan pencegahan terhadap Kapal asing yang membawa narkotika. Diduga jumlah narkotika itu tiga ton sabu. Petugas gabungan masih melakukan pemeriksaan terhadap Kapal itu.

Penangkapan sebelumnya, Satgas Gabungan Polri yang bekerja sama dengan Bea Cukai pada Selasa (20/2) mengungkap penyelundupan sabu dengan perkiraan mencapai 1,6 ton (sebelumnya Dirtipid Narkoba menyebut 1,8 ton, red). Pengungkapan itu terjadi di per airan Anambas Batam, Kepulauan Riau yang diangkut oleh sebuah Kapal berbendera Singapura yang berawal kapal empat WNA Taiwan.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fadli Zon menyoroti penangkapan kapal asing yang diduga membawa tiga ton narkoba jenis sabu di perairan perbatasan antara Singapura dan Indonesia, Jumat (23/2). Menurutnya, kasus penyelundupan lebih dari lima ton narkoba jenis sabu hanya dalam tempo kurang dari sebulan perlu mendapat perhatian serius.

Fadli menyatakan, meski berhasil digagalkan, hal ini tetap saja sangat memprihatinkan. Itu artinya Indonesia merupakan pasar narkoba yang sangat besar. Indonesia sedang darurat narkoba. Upaya pemberantasan narkoba ke depan seharusnya fokus pada bagaimana mematikan pasar yang sangat besar ini, jadi bukan hanya berusaha mematikan para bandar.

Karena itu, Fadli menegaskan, negara harus menguasai sepenuhnya infrastruktur vital seperti bandara dan pelabuhan. “Makanya, saya mengkritik keras pemerintah terkait upaya privatisasi bandara dan pelabuhan,” keluhnya.

Dalam pemeriksaan

Polisi melakukan pemeriksaan pada sejumlah awak kapal berbendera Taiwan yang kembali diungkap oleh aparat kepolisian di Perairan Kepulauan Riau, kemarin. Kapal yang diketahui Win Long BH 2998 itu.

“Saya sedang melakukan pemeriksaan bersama sama anggota dikapal Win Long dan saat ini kita minta bantuan untuk anjing pelacak BC Batam untuk membantu melaksanakan pencarian narkotika,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Polisi Eko Daniyanto, Sabtu (24/1).

Sumber : republika.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: