Membangun Industri

Sebuah kompleks industri.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Indonesia mau tidak mau harus masuk dalam revolusi Industri 4.0 yang sudah tiba, dengan memanfaatkan bonus demografi kita yang menguntungkan. Revolusi industri keempat ini menciptakan manufaktur yang terhubung secara digital, yang didukung berbagai jenis teknologi mulai dari 3D printing hingga robotik, jenis material baru, serta sistem produksi dengan kecerdasan artifisial.

Revolusi ini membuka peluang munculnya pengusaha-pengusaha muda yang kaya raya dan nyaris tanpa batas. Revolusi Industri 4.0 yang meningkatkan otomasi sekaligus pertukaran data dalam teknologi manufaktur ini mampu memacu pertumbuhan industri yang tinggi secara menyeluruh dan berkelanjutan. Teknologi yang menjadi kunci industri tersebut setidaknya ada lima.

Yang pertama adalah teknologi internet of things (IoT), di mana bendabenda di sekitar kita dapat berkomunikasi satu sama lain melalui jaringan seperti internet. IoT memampukan suatu objek mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia, ataupun manusia ke komputer.

Kedua adalah artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Ketiga adalah wearables atau teknologi yang bisadikenakan. Keempat adalah advanced robotics, dan kelima 3D printing. Revolusi Industri 4.0 yang membawainovasi, efisiensi, dan memperluas jangkauan pasar ini membuka kesempatan Indonesia mempercepatpembangunan industri sekaligus menembus konsumen global. Selama ini, ekonomi kita masih tergantung padakomoditas, belum membangun industry yang kokoh dari hulu hingga hilir yang menghasilkan produk bernilaitambah tinggi.

Itulah sebabnya, ekonomi kita rentan terhadap hantaman krisis global. Pertumbuhan pun tidak optimal, di bawah 6%, sehingga tidak mampu menyerap tambahan tenaga kerja kita yang besar.

Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar serius membangun Industri 4.0 yang kokoh, yang berperan penting untuk transformasi menjadi negara maju. Secara umum, pola transisi ekonomi yang terjadi di Negara maju dimulai dengan pembangunan infrastruktur yang masif, pengembangan industri, baru kemudian pengembangan sektor jasa yang kuat.

Kalau dilihat dari sisi sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB), manufaktur Indonesia sebenarnya sudah cukup baik, yakni di peringkat keempat secara global dengan sumbangan sekitar 22% pada 2015. Indonesia hanya di bawah Korea Selatan (29%), Tiongkok (27%), dan Jerman (23%), yang masing-masing di posisi pertama, kedua, dan ketiga.

Industri manufaktur RI juga berperan besar terhadap penerimaan negara, mencapai Rp 335 triliun pada 2017. Ini berupa pajak penghasilan (PPh) nonmigas sebesar Rp 184,54 triliun, atau kontributor terbesar sekitar 31% terhadap total PPh nonmigas. Sisanya berupa pembayaran cukai Rp 150,4 triliun atau berkontribusi 97%. Purchasing Managers’ Index (PMI) yang mengukur kesehatan industry juga membaik belakangan ini. PMI naik ke 51,4 pada Februari 2018. Output juga mengalami ekspansi dengan laju tercepat sejak Juni 2016, didukung kenaikan permintaan baru.

Tidak itu saja, jumlah tenaga kerja juga naik untuk pertama kalinya dalam 17 bulan terakhir.

Perbaikan tersebut didukung daya saing Indonesia yang meningkat. Peringkat daya saing Indonesia membaik periode 2017-2018, dari sebelumnya peringkat 41 ke 36. Namun demikian, RI masih kalah bersaing dengan Negara tetangga di Asean seperti Singapura (peringkat 3), Malaysia (peringkat 23), dan Thailand (peringkat 32).

Jika dilihat dari 12 pilar untuk mengukur daya saing yang menjadi penentu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan penduduk itu, ada lima pilar yang peringkat RI masih jauh tertinggal. Ini adalah efisiensi pasar tenaga kerja di peringkat 96, kesehatan dan pendidikan primer peringkat 94, kesiapan teknologi peringkat 80, pendidikan tinggi dan pelatihan peringkat 64, dan infrastruktur peringkat 52.

Sedangkan pilar yang lain sudah di peringkat 9-47, yakni besaran pasar, lingkungan makroekonomi, inovasi, kepuasan berbisnis, pengembangan pasar finansial, efisiensi pasar barang, dan institusi. World Economic Forum (WEF) juga memproyeksikan, Indonesia bisa berkontribusi 2,5% terhadap pertumbuhan ekonomi global periode 2017- 2019. Ini merupakan kontribusi tertinggi di antara negara-negara Asean dan kelima tertinggi di dunia.

Namun demikian, industri kita belum mampu menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional seperti yang diharapkan, hanya tumbuh rata-rata 4,83%, di bawah pertumbuhan ekonomi 5,07% tahun lalu. Padahal, pertumbuhan ekonomi kita pun belum bisa kembali ke level 6%, yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat penurunan pengangguran maupun kemiskinan.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu fokus membangun Industri 4.0 yang akan mengakselerasi pertumbuhan industri, membuka pasar global yang sangat luas, serta menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang kreatif meningkatkan nilai tambah. Pilar-pilar daya saing usaha yang masih buruk di Indonesia yang menghambat industri harus diperbaiki.

Selain itu, industri prioritas dalam program pembangunan Industri 4.0 juga harus memasukkan lebih banyak sektor yang menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan ekspor. Saat ini, Kementerian Perindustrian sudah menetapkan lima sektor prioritas untuk membangun Industri 4.0, yakni industri makanan dan minuman (mamin), tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.

Sektor yang bisa ditambahkan itu, antara lain, yang berbasis kelapa sawit. Industri ini melibatkan jutaan petani dan menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas RI. Selain itu, minyak sawit memiliki produktivitas paling tinggi dan harga paling kompetitif dibanding minyak nabati dari negara lain, seperti kedelai dan biji bunga matahari. Jadi, pembangunan Industri 4.0 yang berperan penting untuk memperkuat ekspor dan ekonomi nasional itu jangan sampai meninggalkan kepentingan penyerapan tenaga kerja.

Hal ini tentunya juga harus didukung perbaikan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM yang sesuai dengan kebutuhan Industri 4.0. Ini termasuk mengirimkan para mahasiswa ke luar negeri, dengan beasiswa sepenuhnya dari negara. Sistem pendidikan kita juga harus direvolusi agar link and match dengan dunia industri modern.

Dengan langkah-langkah tersebut, bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif kita yang dominan dapat benar-benar menjadi berkah. Tidak hanya memperkokoh industri dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, namun juga meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengikis kemiskinan.

Sumber : beritasatu.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: