Darmin Nasution dan Sri Mulyani Hanya Berwawasan Ekonomi Tradisional Bernilai Tambah Rendah

SETELAH membangun selama 50 tahun, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia baru mencapai 3800 dolar. Padahal beberapa negara lain di Asia yang di tahun 1960 sama-sama miskin dengan Indonesia, sekarang maju pesat dengan PDB per kapita jauh di atas Indonesia.

Misalnya Malaysia, PDB perkapitanya 3 kali lipat dari Indonesia, Taiwan 6 kali lipat, Korea Selatan 7 kali lipat dan Singapura 14 kali lipat dari Indonesia. China yang pembangunannya sangat terlambang dibandingkan Indonesia, baru membangun di awal tahun 80an dengan penduduknya 1,3 miliar orang, maju dengan pesat. Saat ini PDB per kapita negeri tirai bambu 2 kali lebih besar dari Indonesia. Teknologi mereka sangat maju antara lain mampu membuat dan mengekspor kereta api cepat.

Fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah selama 32 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru yang sangat kuat dengan tim ekonomi yang solid di bawah pimpinan Widjojo Nitisastro. Widjojo sering dipuja puji oleh berbagai kalangan sebagai ekonom handal tetapi kenyataanya membawa ekonomi kita tertinggal dengan negara-negara tetangga Singapura, Malaysia dan macan Asia seperti Taiwan, Hongkong, dan Korea Selatan. Bahkan di akhir masa kekuasaan Orde Baru, ekonomi jatuh dalam krisis dan dijerumuskan lebih dalam oleh IMF sampai-sampai pertumbuhan ekonomi menjadi minus 13% di tahun 1998. Malah Malaysia yang menolak campur tangan IMF malah dapat keluar dari krisis, ekonominya stabil dan lebih maju dari kita.

Ternyata puja puji bagi Widjojo cs tidak sesuai dengan kenyataan prestasinya, melainkan hanya rekayasa citra. Banyak ekonom di kelompok dan anak cucu muridnya berdalih kita tidak bisa membandingkan kemajuan ekonomi Singapura yang amat pesat dengan ekonomi Indonesia yang lambat. Sebab Singapura negara kecil dengan jumlah penduduk sedikit, sementara Indonesia negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk yang sangat besar. Membendingkan Indonesia dengan Singapura, kata mereka, tidak apple to apple.

Singapura yang luasnya 700 km persegi atau lebih kecil dari luas Kabupaten Bekasi tidak punya apa-apa. Tidak punya Sumber Daya Alam yang berlimpah seperti Indoneia. Tidak ada tambang emas, tembaga, nikel, alumunium, bauksit , timah, perak dan lain-lain. Tidak ada kebun karet, teh, kopi, kopra dan sebagainya. Mau menanam kelapa sawit tidak bisa karena tidak ada tanahnya. Mau menanam padi, jagung, tebu, ternak ayam, kambing dan lain lainnya tidak bisa karena tidak ada tanahnya. Sehingga semua kebutuhan makanan harus impor. Biaya hidupnya tinggi.

Namun para pemimpin dan ekonom Singapura memutar otak, mengolah kecerdasannya dan bekerja keras untuk mengubah kehidupan bangsanya yang di tahun 1960 masih sama-sama miskin dengan Indonesia. Mereka berpikir kalau tanah yang sangat sempit digunakan untuk mengembangkan perekonomian tradisional seperti pertanian dan perkebunan, menanam padi, tebu, cabe, sawit, kelapa dan lains sebagainya maka tanahnya akan habis dan hasilnya perekonomian mereka tidak akan bisa menghidupi rakyat. Makanya mereka meninggalkan pertanian, tidak menyentuh perkebunan, melainkan mengembangkan pelabuhan menjadi sangat modern sehingga bisa menjadi pelabuhan samudra yang menjadi pusat persinggahan dan transit ekspor impor kapal dari Asia Tenggara menuju Eropa dan sebaliknya.

Pelabuhan yang sangat besar dan modern di Singapura, selain bisa bongkar muat dengan cepat, juga diperlengkapi dengan semua kebutuhan perlengkapan dan perbengkelan perkapalan.  Termasuk ketersediaan spare parts dan industri perlengkapannya. Singapura juga mengembangkan pelabuhan udara yang sangat besar dan modern yang bisa menampung transit pesawat-pesawat udara yang besar untuk transit jarak jauh ke Eropa dan Amerika dengan pelayanan yang cepat, efisien dan nyaman. Mereka juga mengembangkan industri kilang minyak, mengolah minyak mentah menjadi minyak yang siap pakai. Indonesia hingga sekarang setiap hari mengolah minyak mentahnya lebih dari 500 ribu barrel ke Singapura dan mengimpor  kembali hasilnya dalam bentuk minyak yang siap dikonsumsi dengan harga yang tinggi. Sungguh suatu pemborosan yang luar biasa dan suatu kebodohan ekonomi kita yang luar biasa.

Selain itu Singapura membangun dirinya sebagai pusat keuangan dan bisnis Asia Tenggara. Selain membangun gedung-gedung dan fasilitas lainnya yang mendukung, mereka juga membangun hukum, regulasi yang kredibel, etika bisnis, proses perijinan yang cepat, dapat dipercaya dan menyelesaikan perkara sengketa dengan cepat dan adil. Dan yang paling penting, membersihkan diri dari korupsi baik di dalam birokrasi maupun di dunia swastanya.

Mereka juga menjadikan dirinya pusat pariwisata di Asia Tenggara. Beraneka ragam daya tarik, dari Universal Studio, golf, racing mobil Formula 1, Singapore Air Show yang rutin diadakan hingga tempat-tempat rekreasi di taman-taman. Mereka juga membangun rumah sakit yang modern dan sangat lengkap sehingga masyarakat kelas atas di seluruh Asia Tenggara berobat ke sana.

Dengan segala upayanya itu ekonomi Singapura tumbuh rata-rata 8% per tahun selama 39 tahun dari 1960-1999. Sekarang Singapura menjadi negara maju dengan PDB per kapita mencapai 52.960 dolar, jauh meninggalkan Indonesia yang tanahnya sangat luas, SDA sangat kaya, punya hutan, laut dan sebagainya, yang setelah membangun 50 tahun dan disesatkan dengan puja puji IMF dan World Bank, sekarang PDB per kapita Indonesia hanya 3800 dolar atau 1/14 PDB Singapura.

Mengapa bisa demikian? Karena tim ekonomi Orde Baru di bawah pengarahan Widjojo Nitisastro hanya membangun perekonomian tradisional yang bernilai tambah rendah, hanya mengandalkan SDA seperti gas, minyak dan hutan. Manufacturing dan otomotif berkembang namun tidak mendalamkan struktur industrinya sehingga bahan bakunya masih banyak yang tergantung impor dan otomotif pun tidak membangun merek sendiri seperti Malaysia, yang independen dari raksasa otomotif dunia. Padahal Indonesia mempunyai pasar yang luar biasa besarnya.

Sangat ironis ketika minyak sudah hampir habis, ketika sekarang kita menjadi net importir minyak, itupun masih lebih dari 500 ribu barrel setiap hari minyak kita harus di kilang di Singapura karena kapasitas kilang kita sangat kecil, ketika gas alam di Badak dan Arun sudah habis dijual dalam bentuk LNG yang bernilai tambah rendah, ketika jutaan hektar hutan sudah habis digunduli ternyata kita hanya mampu menghasilkan PDB per kapita 3800 dolar. Sedangkan PDB per kapita Singapura14 kali dari kita yaitu 52960 dolar.

Darmin Nasution dan Sri Mulyani Indrawati dan menteri-menteri ekonomi lainnya yang seharusnya bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi agar bisa memajukan negara Indonesia ternyata hanya bisa membuat pertumbuhan ekonomi yang melempem cuma 5%. Memang tidak mungkin mengharapkan mereka yang merupakan murid-murid dari Widjojo Nitisastro cs yang telah membuat Indonesia tertinggal jauh dari Sngapura dan negara-negara maju Asia lainnya untuk bisa memajukan negara kita dengan cara membuat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Mereka akan tetap menggantungkan diri kepada perekonomian tradisional yang berbasis kepada bahan mentah atau setengah jadi seperti batubara , CPO , LNG dan sebagainya yang bernilai tambah rendah.

Apabila harga komoditi di dunia internasional sedang rendah maka ekonomi kita ikut anjlok. Bila nanti harganya naik ekonomi kita baru bisa bangkit kembali. Mereka hanya menunggu naiknya harga komodii tanpa mampu berinovasi menggerakkan sektor-sektor lain yang bisa menjadi motor penggerak ekonomi.  Apalagi kalau mereka diharapkan bisa menggerakkan sektor manufaktur yang bernilai tambah tinggi atau sektor pariwisata yang relatif membutuhkan investasi kecil tetapi memberikan multiplier efek yang besar.

Tidak mungkin mereka mampu membangun industri petrokimia yang bernilai tambah tinggi dan produknya sangat dibutuhkan masyarakat . Sebagai contoh 40% komponen mobil itu dibuat dari hasil industri petrokimia seperti ban, jok, dashboard, bagian dalam atap mobil, bagian dalam pintu dan lain-lainnya. Produk Petrokimia juga dibutuhkan oleh industri tekstil , cat ,bahan peledak , jacket , tas , helm , bahan plastik.

Sedangkan saat ini untuk bahan plastik saja harus impor lebih dari 100 Trilyun setiap tahun. Bahan baku industri petrokimia itu adalah gas alam yang kita miliki banyak sekali namun sekarang ini hanya diekspor dalam bentuk LNG yang bernilai tambah rendah dan di Badak serta di Arun telah dikuras sampai habis. Konyolnya lagi LNG kita diekspor ke Taiwan, Malaysia dan Korea Selatan namun hasil produk petokimia mereka yang harganya sudah menjadi berkali-kali lipat kita impor kembali ke Indonesia. Jadi kita jual bahan mentahnya dengan harga murah dan kita beli kembali barang jadinya yang harganya sudah sangat mahal ditambah ongkos transport dan asuransi. Suatu kebodohan ekonomi yang luar biasa.

Selain ketidakmampuan Darmin Nasution, Sri Mulyani dan menteri-menteri ekonomi lainnya membangun dunia industri dan sektor-sektor lain yang bisa menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, khususnya SMI sebagai Menkeu sangat patuh secara dogmatis dengan konsep-konsep neoliberal dari IMF dan World Bank khususnya soal austerity atau pengetatan anggaran. IMF yang telah gagal dimana-mana, di Argentina, di Indonesia dan di Yunani sampai sekarang diikuti dengan kaca mata kuda oleh SMI.

Itupun ditambah SMI di tengah ekonomi yang lagi lesu ini dia selalu mengejar-ngejar pajak sampai sekecil-kecilnya. Deposito 200 juta mau dikejar. Setelah banyak protes akhirnya batasnya dinaikkan jadi 1 miliar. Batas pajak UKM mau diturunkan dari omzet 4,8 miliar dan pajaknya mau tetap dikenakan 1% sampai bertentangan dengan Presiden Jokowi yang mau menurunkan sampai 0,25%, dan akhirnya menjadi 0,5%. Akibatnya Indonesia yang selama 5 tahun berturut-turut sejak 2013 sampai dengan 2017 (termasuk masa jabatan SMI 1,5 tahun ) ekonominya hanya tumbuh rata2 5,1% . Sekarang, tahun 2018, kita akan memasuki tahun ke 6 dengan pertumbuhan ekonomi 5,1%. Padahal dalam situasi global yang sama sulitnya dengan kita Vietnam dan Filipina sudah ber-tahun2 tumbuh 6,5% setiap tahunnya.

Persoalannya bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang rendah hanya 5% yang mengakibatkan banyaknya angkatan kerja baru yang tidak tertampung dan bisnis menjadi lesu tetapi juga sangat mahalnya harga sembako dibanding dinegara tetangga. Inflasi memang rendah tetapi harga awalnya memang sudah tinggi dan daya belinya rendah. Masyarakat sangat sulit membelanjakan uangnya. Tahun 2016 saja ekspor tekstil Vietnam sebesar 23,8 miliar dolar AS hampir 2 kali kita yang hanya 12,1 miliar dolar AS. Di tahun yang sama ekspor gadget (ponsel pintar) Vietnam mencapai 34 miliar dolar AS. Dan total ekspor Vietnam 2016 mencapai 177 miliar dolar AS lebih tinggi 22% dari pada Indonesia yang hanya 144 miliar dolar AS.

Presiden Jokowi apabila tetap mempertahankan menteri-menteri ekonomi yang tidak berprestasi seperti ini, akan merugikan bukan hanya elektabilitasnya saja tetapi juga merugikan bangsa dan negara, terutama masyarakat menengah ke bawah yang menjadi pemilih utamanya. Presiden Jokowi jangan silau dengan rekayasa internasional dengan gelar menteri terbaik sedunia dan sebagainya. Namun harus melihat kerja nyatanya dan kemampuan riilnya dalam menangani ekonomi. Banyak kepentingan asing yang ingin mengendalikan perekonomian Indonesia dan kita harapkan Presiden Jokowi tidak terkecoh.

Sumber : rmol.co

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: