Optimistis Tumbuh 5,4 Persen

Optimistis Tumbuh 5,4 Persen

Ekonomi Indonesia selama tahun 2017 tumbuh 5,07 persen. Ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya, 5,03 persen. Meski pertumbuhan 2017 tergolong lambat, prospek ekonomi 2018 terlihat lebih banyak harapan karena beberapa faktor positif sebagai momentum pertumbuhan tahun 2018, di antaranya tren kenaikan konsumsi rumah tangga, meningkatnya nilai investasi dan ekspor-impor tahun 2017. Kemudian, kenaikan belanja pemerintah 2018 secara massif. Ada juga kenaikan peringkat utang dari Fitch Rating dan stimulus kemudahan berinvestasi.

Pertumbuhan ekonomi yang melambat saat ini ditengarai karena melemahnya daya beli sehingga menekan konsumsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terlihat, konsumsi rumah tangga 2017 yang berkontribusi 56,13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), ternyata hanya tumbuh 4,95 persen. Ini lebih rendah dari kenaikan tahun 2016 sebesar 5,01 persen. Angka pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini terendah lima tahun terakhir.

Menurut kalangan ekonom, melemahnya konsumsi karena minat belanja menurun. Kemudian, terjadi shifting konsumsi masyarakat pada barang-barang kebutuhan pokok menjadi industri leisure (misalnya, berwisata atau membeli produk-produk lain yang menimbulkan kebahagiaan). Masyarakat lebih memilih menempatkan uang di bank untuk saving daripada konsumsi. Lalu, terbatasnya ketersediaan lapangan kerja yang berpengaruh pada pendapatan masyarakat.

Memperbaiki daya beli merupakan cara mendorong konsumsi. Tahun 2018, Indonesia akan diuntungkan dengan penyelenggaraan beberapa agenda nasional dan internasional. Ini akan mendorong daya beli masyarakat untuk tumbuh. Agenda tersebut, antara lain pilkada serentak, penyelenggaraan Asian Games, dan pertemuan IMF-World Bank 2018.

Pada pertengahan tahun ini akan ada pilkada serentak di 171 daerah, terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Pilkada akan mendorong para kontestan (calon kepala daerah) dan partai politik meningkatkan konsumsi. Misalnya membuat umbul-umbul, baliho, spanduk, kaos, serta pernik kampanye. Ajang pilkada diharapkan mendorong belanja politik senilai 48 triliun rupiah.

Selain itu, penyelenggaran Asian Games Jakarta dan Palembang yang rencananya menghabiskan dana 30 triliun rupiah akan merangsang daya beli masyarakat sekitar. Belum lagi agenda pertemuan IMF-World Bank di Bali dengan melibatkan banyak negara. Ini diperkirakan uang yang beredar 1,36 triliun sehingga akan menghidupkan perekonomian daerah.

Realisasi investasi kuartal IV-2017 sebesar 179,6 triliun. Ini tumbuh 12,67 persen (year on year) dibanding 159,4 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Meningkatnya investasi lebih didorong pembelian mesin untuk kelapa sawit dan batubara. Ujungnya akan menggerakkan sektor riil.

BPS mencatat kegiatan ekspor-impor terus menggeliat. Ekspor nasional sepanjang 2017 mencapai 168,73 miliar dollar AS atau meningkat 16,22 dari tahun sebelumnya. Sejumlah komoditas berkontribusi signifikan bagi nilai ekspor nasional antara lain bahan bakar, lemak, minyak hewan nabati, karet, serta barang-barang karet. Ekspor masih didominasi komoditas dan batubara.

Sedangkan impor mencapai 156,89 miliar dollar AS atau tumbuh 15,66 persen. Ini dipicu permintaan bahan baku dan penolong seperti mesin dan peralatan listrik sehingga terjadi surplus sebesar 11,84 miliar dollar AS. Dengan perbaikan harga komoditas tahun 2017 lalu akan mendorong konsumsi rumah tangga dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi 2018. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), belanja pemerintah 2018 naik sebesar 5,45 persen (2.220,7 triliun rupiah). Sedang tahun sebelumnya 2.098,9 triliun. Rinciannya, belanja pemerintah pusat 1.454,5 triliun rupiah. Ada juga dana transfer ke daerah, serta dana desa sebesar 766,2 triliun. Anggaran dana desa yang dialokasikan untuk program cash for work/padat karya mencapai 18 triliun rupiah. Ini bisa menjadi pengungkit konsumsi masyarakat.

Belum lagi belanja untuk pembangunan infrastruktur yang tahun ini menjadi 410,7 triliun dari 388,3 triliun rupiah. Pembangunan infrastruktur yang sudah terealisasi akan meningkatkan konektivitas, efisiensi, dan efektivitas. Ini jugaakan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepercayaan

Terkait kenaikan peringkat utang Indonesia dari Fitch Rating berarti ada peningkatan kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Beberapa lembaga pemeringkat internasional memberi predikat “Layak Investasi.” Moody’s pada 8 Februari 2017 dan Standard & Poor’s sejak 19 Mei 2017. Terakhir menyusul Fitch Ratings meningkatkan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia dari BBB/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil pada 20 Desember 2017.

Selain itu, berbagai pengakuan atas reformasi ekonomi dan structural. Antara lain kenaikan peringkat ease of doing business tahun 2017 dari 106 menjadi 91. Ini menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran Top Improvers. Ada juga, kenaikan posisi Indonesia dari 41 menjadi 36 dalam Global Competitiveness Index. Kondisi tersebut menjadi modal pemerintah dapat lebih meyakinkan investor akan fundamental ekonomi nasional yang semakin kuat dan kondusif. Dengan demikian menambah kepercayaan pasar cukup tinggi untuk berinvestasi. Ini berdampak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah berupaya keras menggenjot investasi langsung. Salah satu caranya menerapkan Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi (SPBT) mulai 2018. Sistem ini memungkinkan calon investor mengantongi izin investasi hanya dengan menyampaikan satu salinan dokumen persyaratan. Selain itu, pemerintah akan mempermudah pemberian insentif pajak kepada para investor. Ini akan banyak menarik investor dan mendorong geliat ekonomi.

Selain beberapa momentum yang dapat digunakan untuk pengungkit pertumbuhan ekonomi, perlu diwasdai juga penghambat pertumbuhan ekonomi 2018. Misalnya, kenaikan bunga acuan The Fed dan bank sentral negara maju lainnya karena akan mendorong capital outflow. Cermati pula pemangkasan aset keuangan The Fed. Penerimaan pajak yang terancam shortfall. Kemudian tekanan rupiah meningkat seiring penguatan dollar AS serta ancaman inflasi yang tinggi di tengah kenaikan harga listrik dan BBM.

Semoga penghambat pertumbuhan ekonomi 2018 dapat diantisipasi dan di-manage dengan baik oleh pemerintah serta semua pihak yang terkait. Dengan dmeikian momentum pertumbuhan ekonomi nasional berjalan lancar. Akhirnya dapat merealisasikan pertumbuhan tahun ini sebesar level 5,4 persen.

Sumber : koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: