Pangan Terpapar Pelemahan Rupiah

Harga sejumlah bahan pangan impor menunjukkan peningkatan seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dalam dua bulan terakhir berimbas pada kenaikan harga bahan pangan maupun harga pangan ternak di pasar domestik. Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas yang terkait dengan impor, seperti daging ayam, telur ayam ras, bawang putih, hingga pakan ternak.

Harga-harag itu naik seiring dengan kurs rupiah yang berada di level Rp 13.900 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (24/4). Ini merupakan nilai tukar rupiah terendah, setidaknya dalam setahun terakhir.

Dari awal tahun sampai akhir April ini, Kementerian Perdagangan (Kemdag) juga mencatat kenaikan sejumlah harga pangan. Contohnya harga rata-rata daging ayam ras yang sebesar Rp 32.740 per kilogram, naik 6,68% dari dua bulan sebelumnya. Harga bawang putih kini Rp 33.126 per kg, naik 12,36%. Sedangkan harga telur ayam ras Rp 24. 101 per kg, naik tipis 1,21%.

Kenaikan harga bawang putih terjadi karena produk itu memang komoditas impor. Sedangkan daging dan telur ayam walau bukan produk impor, namun terimbas rencana kenaikan harga pakan ayam yang sebagaian besar bahan bakunya  berasal impor seperti bungkil kedelai. “Harga bungkil kedelai tetap tinggi tapi tidak menggila, sekarang masalah baru muncul giliran rupiah terkapar,” ujar  Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman, Selasa (24/4).

Walhasil, beberapa pabrik pakan ternak mulai menaikkan harga. “Kenaikan harga bisa sekitar Rp 150 per kilogram (kg) hingga Rp 300 per kg,” terang Sudirman.

Harga daging stabil

Namun harga daging impor belum menunjukkan kenaikan harga. Bahkan pengusaha menyakini harga harga daging sapi beku relatif stabil dalam waktu dekat.

Jika rupiah terus melemah, harga daging di pasar domestik pasti akan naik.

Kenaikan harga baru akan terasa setelah melewati bulan puasa. “Importir dalam memenuhi kebutuhan bulan puasa sudah menyiapkan jauh-jauh hari dengan melakukan nego dengan pemasok, ” ujar Afan Anugroho, Sekretaris Jenderal Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI).

Walau daging impor belum menunjukkan kenaikan, namun Afan berharap pelemahan rupiah tidak terjadi dalam waktu lama. Sebab jika rupiah terus melemah, harga daging dipastikan akan merasakan imbasnya. Afan memprediksi, jika rupiah terus melemah, maka harga daging bisa naik sekitar 5%.

Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai pelemahan rupiah pada saat ini harusnya belum berdampak signifikan terhadap harga bahan pangan maupun pakan ternak di dalam negeri. Alasannya, pelemahan rupiah masih terlalu kecil. “Efeknya tidak signifikan,” jelas Dwi.

Naik turunnya harga pangan, menurutnya lebih karena pasokan. Untuk itu menjelang bulan Ramadhan, pemerintah harus memastikan kelancaran pasokan bahan pangan di pasar.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: