Bisnis Batubara Diselimuti Awan Tebal

KNUTSFORD, UNITED KINGDOM - NOVEMBER 24:  Coal waits to be delivered from the yard of traditional coalman Ernie Lockett to homes for winter heating in Northwich on November 24, 2008 in Cheshire, England. Ernie, aged 64, has been a coalman since he was 15 and works alone on his Cheshire delivery round. Coal has seen a resurgence in use as other fuels, such as oil have seen a price increase and the fashion for solid fuel stoves has risen.  (Photo by Christopher Furlong/Getty Images)

JAKARTA. Industri batubara sedang dirundung awan gelap. Dampak dari penurunan harga batubara membuat perusahaan penambang batubara kesulitan untuk beroperasi.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) melansir, dari 3000 pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tercatat di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), hanya 20% saja yang beroperasi.

“Yang kami tahu, hanya ada sekitar 700 – 800 perusahaan yang masih beroperasi,” kata Hendra Sinadia, Deputi Direktur Eksekutif APBI, Jumat (31/7). Hendra mengungkapkan, jumlah perusahaan batubara yang akan menghentikan operasi itu terancam bertambah banyak jika harga batubara kian anjlok.

Seperti diketahui, harga batubara acuan (HBA) pada Juli 2015 lalu berkisar di harga US$ 59,19 per ton atau turun dibandingkan dengan HBA pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 72,45 per ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba), Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono tak menampik temuan APBI tersebut.

Bisnis batubara memang tengah lesu. “Sebab harga batubara saat ini kan sedang jatuh sekali,” ujarnya. Untuk itu, kata Bambang, pihaknya akan mencegah adanya penutupan pengoperasian perusahaan batubara secara massal.

Dalam rencananya, Kementerian ESDM akan membatalkan kenaikan tarif royalti batubara tahun ini. “Pembatalan untuk mengurangi dampak penutupan operasional secara besar-besaran,” jelas Bambang.

Sayang, Bambang tidak memiliki data lengkap atau nama-nama perusahaan tambang batubara yang menghentikan operasi. Ia hanya bilang, kebanyakan dari perusahaan tambang batubara yang berhenti operasi itu adalah perusahaan tambang berskala kecil. “Yang punya catatan lengkapnya pasti Pemerintah Daerah, karena yang tutup kecil-kecil, saya belum tahu detail,” jelas dia.

Namun begitu, Bambang mengklaim, saat ini yang bisa dilakukan oleh Kementerian ESDM adalah menjaga bisnis batubara tetap menguntungkan. Salah satu caranya adalah dengan memberikan perlindungan dari segi biaya, dengan cara tidak menaikkan tarif royalti batubara sampai harga stabil kembali.

“Biar setiap perusahaan efisien,” tandasnya. Jeffrey Mulyono Direktur Utama PT Pesona Khatulistiwa bilang, dampak harga batubara yang anjlok, produksi perusahaannya turun hingga 26% tahun ini ketimbang produksi tahun 2014 lalu sebesar 4,7 juta ton. “Maka dari itu, sekarang seharusnya ada rasa keprihatinan. Pemerintah dan sektor industri batubara harus duduk bersama-sama termasuk membicarakan soal kewajiban menggunakan rupiah. Itu kebijakan tidak tepat,” terang Jeffrey.

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: