Agar Tidak Ketar-Ketir Saat Menjadi Importir

Mungkin Anda masih ingat, beberapa tahun yang lalu, saat krisis global mulai menyebar, banyak ahli ekonomi dan pengamat yang menggadang-gadang Indonesia bakal menjadi salah satu negara yang bisa mencetak pertumbuhan ekonomi dahsyat. Bahkan, ada beberapa pakar yang memasukkan Indonesia ke dalam negara BRIC yang terdiri dari Brasil, Rusia, India dan China.

Indonesia memang memiliki potensi pasar yang sangat besar. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta orang lebih juga merupakan pangsa pasar yang menggiurkan.

Tambah lagi, Indonesia mengalami booming pertumbuhan kelas menengah. Jumlah masyarakat usia produktif yang bekerja semakin banyak. Boston Consulting Group memprediksi, di 2020 jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia akan mencapai 141 juta jiwa, separuh lebih dari jumlah penduduk. Dahsyat, kan?

Dengan potensi pasar yang besar ini, tidak heran kalau Indonesia lantas menjadi incaran para pebisnis, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Lihat saja, kini banyak pengusaha-pengusaha asing yang merangsek mengembangkan bisnis mereka di Indonesia. Contoh, di bisnis ritel, peritel dari Swedia IKEA sudah mulai menancapkan taji bisnisnya di dalam negeri. Dari Jepang dan Korea, ada Aeon dan Lotte.

Barang-barang produksi luar negeri pun bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia. Anda mungkin pernah ikut heboh mencari selai Ovomaltine yang baru diimpor secara terbatas dan belum dipasarkan secara massif di Indonesia.

Pasar Indonesia menjadi semakin terbuka dengan produk-produk dari luar negeri berkat terbukanya akses internet. “Biarpun produknya belum ada di Indonesia, tapi di luar negeri sedang top dan beritanya sudah beredar di Indonesia, produk itu bisa dijual di Indonesia,” kata Fauzi D., penjual CD yang menjajakan CD-CD impor untuk kolektor.

Impor akan naik

Semakin terbukanya pasar Indonesia terhadap barang impor ini menjadi potensi pasar yang menarik. Anda juga bisa ikut mencuil untuk dari peluang tersebut, misalnya dengan menjadi importir. “Bisnis impor atau sebagai importir tentu masih menarik, karena jumlah masyarakat kita mencapai 250 juta jiwa lebih,” cetus Hamdani, Ketua Umum Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ekspor Impor.

Memang, saat ini impor tengah menurun. Di 2015 lalu, nilai impor Indonesia turun sekitar 19,39% menjadi US$142,74 miliar. Penurunan ini antara lain terjadi karena perlambatan ekonomi dalam negeri serta perlemahan daya beli masyarakat. “Sekarang ini daya beli masyarakat kurang banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja, sehingga berpengaruh ke impor juga,” imbuh Hamdani.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini juga membuat harga barang impor makin mahal. Hal ini juga mempengaruhi permintaan barang-barang impor di dalam negeri.

Meski begitu, tahun ini pemerintah dan ekonom meyakini impor Indonesia bakal meningkat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi, impor tahun ini bakal naik lantaran pengusaha mengimpor barang-barang kebutuhan produksi, baik bahan baku maupun peralatan produksi.

Ini merupakan dampak dari kembali berjalannya ekonomi dan membaiknya daya beli masyarakat. Hasilnya, perusahaan kembali menaikkan produksi sehingga impor barang produksi  jadi naik.

Karena itu, peluang untuk mengumpulkan laba sebagai importir pun masih terbuka. Tentu saja, menjadi importir ini bukan sekadar mendatangkan barang dari luar negeri ke dalam negeri. Ada persiapan tertentu dari ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan untuk melakukan impor.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai persiapan impor, mari kita kenali dulu mengenai seluk-beluk importir. Asal tahu saja, importir itu ada bermacam-macam,lo.

Pertama,ada yang disebut sebagai importir umum. Ini adalah importir yang mengimpor barang-barang bukan limbah dan tidak diatur tataniaga impor. Kebanyakan importir merupakan importir umum. Misalnya saja importir mobil-mobil yang tidak diproduksi di Indonesia atau tidak diedarkan oleh agen pemegang merek.

Kedua,importir produsen. Ini adalah importir yang berstatus sebagai badan usaha yang mendapat persetujuan untuk mengimpor sendiri barang bukan limbah yang diperlukan dalam proses produksi di perusahaan tersebut.

Ketiga,importir produsen limbah B3. Ini adalah badan usaha yang diakui oleh pemerintah dan mendapat persetujuan untuk melakukan kegiatan impor sendiri barng yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi. Barang impor ini bersifat limbah B3. Limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi.

Keempat,importir produsen limbah non B3. Seperti terlihat dari sebutannya, pada dasarnya importir jenis ini mirip dengan importir produsen. Hanya saja, mereka mendapat izin untuk mengimpor barang-barang yang termasuk limbah non B3.

Lalu, kelima,ada importir terdaftar. Importir jenis ini memiliki wewenang untuk mengimpor barang-barang tertentu dengan mengikuti arahan yang sudah ditentukan pemerintah. Ada beberapa barang yang hanya boleh diimpor oleh importir terdaftar (IT). Misalnya saja impor bahan peledak industri, impor minuman beralkohol, impor hewan dan impor telepon seluluer atau sejenisnya.

Keenam, importir perorangan. Kalau Anda misalnya doyan membeli barang dari Amazon atau Alibaba, Anda bisa dikategorikan sebagai importir perorangan. Tentu saja, nilai barang yang Anda beli tidak besar dan mungkin tidak sampai harus membayar cukai.

Tetapi, ada juga orang yang memasukkan barang ke dalam negeri untuk dijual sebagai importir perorangan. “Biasanya jumlah barang yang masuk memang tidak sekaligus banyak dan nilai barangnya juga kecil,” jelas Fauzi. Banyak pelaku e-commerce di Indonesia yang menjalankan cara ini.

Kalau Anda ingin menjadi importir dalam skala besar, tentu aturan mainnya berbeda lagi. Ada persiapan-persiapan yang harus Anda lakukan.

Nah, kini mari kita cermati satu per satu, secara sekilas, persiapan menjadi importir.

Melengkapi Dokumen

Kalau Anda berniat menjalani profesi sebagai importir, Anda harus melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menjadi importir. “Intinya, importir harus mempunyai izin,” kata Hamdani.

Untuk bisa mengimpor barang, Anda perlu memiliki Surat Izin Usaha Perusahaan (SIUP). Mungkin Anda sudah tahu, pengurusan Siup bisa dilakukan di Kantor Dinas Perdagangan di tingkat kabupaten dan Kotamadya atau di Kantor Pelayanan Perizinan setempat. Beberapa daerah ada yang sudah memiliki Kantor Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T).

Selain itu, Anda juga harus mendapat Angka Pengenal Impor (API). Angka pengenal impor untuk importir umum diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan. Sementara angka pengenal impor untuk importir produsen diterbitkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Perlu diingat, importir yang memiliki API bukan berarti dia bebas mengimpor barnag yang tidak diatur tataniaganya. Dulu, importir yang memiliki API memang bisa lebih bebas melakukan impor barang. Tetapi sekarang, pemerintah sudah membuat pengelompokan API. Misalnya importir memiliki API untuk kelompok mesin, maka si importir hanya bisa mengimpor mesin dan tidak bisa mengimpor buah-buahan.

Anda juga kudu punya Nomor Identitas Kapabeanan (NIK) yang diterbitkan oleh Tim Registrasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui proses registrasi kepabeanan. Selain itu, importir juga wajib memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Memahami hukum yang berlaku

Mungkin Anda kerap membaca berita mengenai langkah pemerintah yang membatasi impor produk tertentu, mengurangi impor produk lainnya, atau bahkan sama sekali melarang impor untuk produk tertentu. Ya, ada banyak aturan impor yang berlaku di Indonesia. Untuk barang yang berbeda, peraturannya pun bisa berbeda. “Karena itu, importir harus tahu peraturan-peraturan mengenai impor tersebut,” ujar Hamdani.

Ambil contoh, pemerintah memiliki aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk elektronik. Barang-barang elektronik yang beredar di Indonesia harus sudah sesuai dengan standar tersebut, tidak terkecuali barang-barang elektronik impor. “Kalau barang itu kena SNI, importir harus menyesuaikan barangnya dengan SNI tersebut,” papar Hamdani

Yang jelas importir harus tahu aturan impor barang yang akan ia bawa masuk ke dalam negeri. Ada beberapa barang yang membutuhkan izin tambahan dari instansi tertentu, selain dokumen-dokumen wajib yang sudah disebut di atas.

Misalnya saja untuk impor bahan peledak, importir juga harus memperoleh izin dari Kementerian Pertahanan dan Kepolisian Republik Indonesia. Sementara impor bahan makanan memerlukan izin dari Badan Pengawasa Obat dan Makanan.

Ketentuan cukai juga bisa berbeda atas tiap barang. Ada pula barang-barang yang bisa dikenai pajak barang mewah.

Pahami juga proses melakukan impor. Ada beberapa dokumen yang pasti dibutuhkan saat melakukan impor. Ada banyak dokumen yang dibutuhkan dalam proses impor, misalnya dokumen bill of loading(B/L), packing list, dan dokumen Pengajuan Impor Barang atau PIB (lihat tabel).

Memastikan status barang impor

Seperti sudah disebut sebelumnya, tidak semua barang bisa diimpor masuk ke Indonesia. Karena itu, Anda perlu mencari tahu apakah barang yang akan Anda impor tersebut termasuk barang yang terkena larangan pembatasan impor atau tidak.

Cara mencarinya gampang kok. Anda bisa langsung masuk ke situs Indonesia National Single Window (INSW). Nantinya, Anda tinggal memasukkan kode HS atau kode Harmonized System barang yang ingin Anda impor. Anda bisa langsung memperoleh informasi yang dibutuhkan terkait barang yang ingin Anda impor.

Anda belum tahun kode HS untuk barang yang ingin Anda impor? Tidak masalah, Anda bisa mencari kode HS untuk barang tersebut di situs Kementerian Perdagangan.

Mencari pemasok

Selain mengurus soal perizinan dan aturan hukum, Anda tentu juga perlu mencari pemasok atau penjual barang yang ingin Anda impor. Saat ini, pada dasarnya tidak terlalu sulit mencari pemasok barang.

Anda bisa memanfaatkan internet untuk mencari info soal pemasok barang yang ingin Anda impor. Coba juga jelajahi market place macam Alibaba. Banyak pedagang di market place tersebut yang siap mengekspor barang dalam jumlah kecil maupun besar.

Pemerintah juga menyediakan bantuan untuk mencari info soal pemasok dari luar negeri. Kementerian Perdagangan memiliki Customer Service Center (CSC) yang menyediakan layanan informasi ekspor impor. Selain itu, importir juga bisa mencoba mencari pembeli di acara pameran perdagangan internasional. Dengar saja kisah Ade Makmursyah, pendiri PT Kopi Boutique Indonesia, eksportir kopi luwak. Ia mendapatkan pembeli saat mengikuti pameran perdagangan.

Informasi soal eksportir diluar negeri juga bisa diperoleh di konsulat atau perwakilan perdagangan dari berbagai negara di dalam dan luar negeri. Beberapa konsulat juga menyediakan buku kuning atau yellow pages untuk eksportir mereka.

Ada baiknya, importir menemui langsung penjual barang di negara asalnya. Dengan demikian, importir bisa melihat langsung kredibilitas dan kualitas barang yang ditawarkan si penjual. Keuntungan lain yang bisa diperoleh importir dengan bertemu langsung eksportir adalah bisa meminimalisir miskomunikasi akibat perbedaan bahasa dan budaya.

Jadi, selamat menjajal profesi sebagai importir.kontan hal 11

Sumber: Tabloid Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: