Suhu politik yang memanas tak hanya menyengat Jakarta menjelang pemilihan gubernur. Rakyat Amerika Serikat (AS) juga sedang berharap-harap cemas menantikan hari pencoblosan pemilihan presiden tak lama lagi.
Kira-kira sebulan dari sekarang (8 November 2016) para penghuni negeri koboi yang disebut-sebut paling demokratis seplanet bumi akan memutuskan siapa yang bakal menghuni gedung putih dan memimpin AS selama empat tahun kedepan. Hillary Clinton atau Donald Trump?
Dalam pemilihan presiden kali ini, rakyat AS dihadapkan pada dua pilihan yang sangat kontras. Bukan hanya mereka harus memutuskan apakah hendak memiliki presiden perempuan atau laki-laki, arah haluan ekonomi kedua kandidat juga sangat berlawanan.
Para pelaku dan pengamat pasar menilai, di tangan Clinton garis kebijakan AS di kancah global tidak akan banyak berubah dari sekarang. Sebaliknya, apabila Trump akhirnya menghuni Gedung Putih iklim ekonomi bisa berubah. Trump dianggap lebih protektif karena berniat merevisi perjanjian perdagangan bebas antara AS dengan Negara dan kawasan lain. Dia juga disebut-sebut hendak menaikkan bea masuk produk impor.
Berbeda dengan pilkada DKI Jakarta yang tak akan terlalu mempengaruhi suasana ekonomi, detik-detik penentuan pimpinan AS ini akan sangat menggelisahkan pelaku pasar seluruh dunia, termasuk di Indonesia. “Kalau Trump menang, investor akan wait and see. Mereka akan merasa lebih baik memegang dana tunai dalam bentuk dollar AS,” tutur Ekonom Lana Soelistianingsih. “Trump cenderung hawkish dan bakal menerapkan kebijakan moneter ketat,” imbuhnya.
Kuat berkat amnesti
Sebaliknya, apabila Clinton yang unggul maka posisi dollar AS terhadap mata uang lain akan menguat. Gelagat ini sudah tampak dari hasil debat pertama antara dua kadidat, beberapa hari lalu. Saat Hillary di atas angin, nilai dollar AS langsung menguat. Cuma, penguatan ini hanya akan berlangsung dalam jangka pendek. “Soalnya Hillary akan mendukung kebijakan moneter sekarang yang justru cenderung mempertahankan suku bunga rendah dan melemahkan nilai kurs dollar AS,” imbuhnya.
Disinilah kita lagi-lagi terpaksa mengakui bahwa AS masih menjadi barometer ekonomi dunia. Yang repot memilih presiden mereka, nilai rupiah ikut-ikutan tersandera.
Seandainya hajatan akbar AS itu tidak berlangsung saat ini, kita para pemegang uang rupiah bisa senyam-senyum lebih lama. Untuk pertama kali sejak 6 Mei 2015, kurs dollar AS mulai hilir mudik di area Rp 12.000-an per dollar AS.
Otot rupiah menguat sejak 28 September 2016, seiring meroketnya penerimaan Negara dari program amnesti pajak (tax amnesti). Pada hari itu nilai Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di titik terkuat sepanjang 2016, yaitu Rp 12.926 per dollar AS.
Program amnesti pajak menjadi amunisi baru bagi rupiah. Hingga periode pertama berakhir pada 30 September 2016, uang tebusan yang masuk ke kas Negara mencapai Rp 97,2 triliun. Perolehan dana tebusan ini sudah melampaui 50% target 2016 sebesar Rp 165 triliun.
Harapan positif terhadap ekonomi Indonesia pun menyeruak. Sentimen positif ini bisa menimbulkan kepercayaan bagi investor asing untuk masuk ke pasar modal lokal.
Aliran masuk valuta asing (valas) dalam jumlah besar ke tanah air bukan hanya dari investor asing. Repatriasi harta para pemohon pengampunan pajak juga patut diperhitungkan. Nilai pengalihan harta berdasar Surat Pernyataan Harta (SPH) mencapai Rp 137 triliun. “Amnesti pajak belum sepenuhnya selesai, tetapi tahap pertama sudah mendorong penguatan rupiah,” kata Farial Anwar, pengamat pasar uang.
Kemana arah rupiah?
Semakin mendekati batas tahun 2016, nilai harta yang dialihkan ke Indonesia akan kian membesar, meski belum pasti mencapai target yang digembar-gemborkan pemerintah sebesar Rp 1.000 triliun hingga Rp 2.000 triliun. “Repatriasi aset tetap akan memperkuat rupiah,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara, yakin.
Sejak awal tahun ini, menurut catatan Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Juda Agung, arus dana yang masuk ke dalam negeri sudah mencapai US$ 12 miliar. Nilai cadangan devisa terus membesar, mencapai US$ 113,538 miliar per 31 Agustus 2016.
Jadi, sekali lagi, andai pertarungan Clinton versus Trump tak berlangsung saat ini, tentu rupiah bakal kerasan tinggal di area Rp 12.000-an lebih lama.
Eh, tapi, tunggu dulu! Pilpres AS bukan satu-satunya batuk yang bisa membuat rupiah meriang. Federal Open Market Committee (FOMC) masih memiliki dua kali jatah rapat lagi tahun ini, pada 1-2 November 2016 dan 14 Desember 2016. Dalam pertemuan itu kemungkinan bunga The Fed bakal naik dari 0,5% saat ini masih ada. “Kenaikan Fed Fund Rate berpotensi melemahkan rupiah. Faktor ini nanti akan terus kami pantau,” kata Suahasil.
Sepanjang belum ada kepastian hasil pilpres AS dan suku bunga acuan The Fed, Analis Monex Investindo Future Yulia mewanti-wanti, pergerakan dollar AS mungkin volatile. Namun Farial tak setuju. Kali ini dia melihat rupiah relatif lebih kebal terhadap FOMC karena ekonomi AS sendiri belum baik. “Rupiah masih menguat sepanjang tak ditahan BI,” ucapnya. Joshua pardede, Ekonom Bank Permata, malah menghitung peluang FOMC menaikkan suku bunga acuan relatif kecil.
Analis manapun yang anda ikuti, kita patut bersyukur pilkada DKI Jakarta tak ikut memanasi suhu rupiah. Malah kian sejuak ada Sophia Latjuba.
Penulis: Tedy Gumilar, Andri Indradie, Arsy Ani Sucianingsih
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak

Tinggalkan komentar