Prospek Properti Lesu, LKPR Cenderung Stagnan

lippo-karawaci-logo

Prospek properti tahun depan yang masih suram berpotensi menekan kinerja Lippo Karawaci

JAKARTA. PT Lippo Karawaci Tbk baru saja mengantongi duit segar Rp 800 miliar. Dana ini adallah hasil penjualan Mall Kuta Bali kepada LMIR Trust. Dengan terjualnya pusat belanja ini, emiten berkode LPKR tersebut tidak perlu lagi memangkas target penjualan tahun ini.

LPKR membidik pendapatan bisa tumbuh sebesar 13% tahun ini menjadi Rp 10,6 triliun. Sedangkan pendapatan LKPR hingga September sudah naik 10% menjadi Rp 7,43 triliun. LPKR pun mempertahankan target marketing sales sebesar Rp 3,4 triliun.

Lippo Mall Kuta merupakan salah satu dari empat aset yang akan dijual LPKR. Tiga lainnya yaitu Lippo Mall Jogja dan dua aset rumah sakit, yakni RS Siloam Jogjakarta yang menyatu dengan aset mal dan rumah sakit di Labuan Bajo.

Analis Daewoo Securities Franky Rivan memperkirakan, tahun depan kinerja LPKR tidak akan terlalu bagus dan menguntungkan. “Untuk tahun depan kami melihat masih kurang favorable buat LPKR, untuk net profit diperkirakan Rp 1,2 triliun,” ujar Franky kepada KONTAN, Rabu (8/12). 2015 lalu, laba tahun berjalan LPKR mencapai Rp 1,02 triliun.

Dua tekanan

Franky melihat, pasar property maish cenderung melambat. Saat ini, siklus konversi kas LPKR mencapai 1.442,2 hari. Artinya, angka marketing sales LPKR perlu waktu lama untuk direalisasikan menjadi pendapatan. Selama ini penjualan property mengontribusi 28% pendapatan LPKR.

Sentimen negatif lain adalah margin SILO yang tertekan.

Sentiment negatif lain adalah margin anak usaha LPKR, yaitu PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), masih tertekan. Margin laba bersih SILO turun menjadi 1,3% per akhir kuartal ketiga lalu dari 6,5% pada 2010.

Pada Sembilan bulan pertama tahun ini, SILO memberi kontribusi 55% pendapatan LPKR. “Kami masih menunggu rumah sakit SILO lebih matang sehingga bisa menghasilkan margin lebih tinggi,” ungkap Franky lewat risetnya.

Franky menurunkan target pendapatan LPKR tahun ini dari Rp 11,15 triliun menjadi Rp 10,29 triliun. Dia memberi rekomendasi hold untuk saham LPKR dengan target harga Rp 900 per saham.

Menurut Franky, saat ini LPKR masih mengahadapi penjualan properti yang ketat dan tipisnya margin SILO. “Kami mempertahankan rekomendasi hold hingga dua hal ini teratasi,” ujar Franky.

Analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe menyampaikan hal sama. Menuurut dia, kinerja LPKR tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan tahun ini. Kondisi pasar belum memungkinkan kinerja meningkat yang signifikan. “Karena pasar properti masih belum kondusif. Laba dan pendapatan LPKR tidak beda jauh,” kata Kiswoyo.

Hans Kwee, Direktur Investa Sarana Mandiri, mengatakan, sektor properti memang masih menunjukkan perlambatan. Tapi, kinerja emiten sektor ini berpeluang membaik. “Harusnya kinerja masih baik dan tidak terlalu buruk,” kata dia.

Jika harga masih di sekitar angka sekarang, Kiswoyo merekomdasikan beli dengan target harga sekitar Rp 1.100 sampai Rp 1.200 per saham. Sedangkan Hans merekomendasikan beli saham LPKR dengan target harga Rp 915 per saham. Kemarin, harga saham LPKR stagnan di harga Rp 765 per saham.

Penulis : Hasyim Ashari

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar