Berdebar-debar memasuki Tahun Ayam Api

21

JAKARTA. Tahun 2017 menjadi momentum mendebarkan bagi kalangan pebisnis. Mereka berharap tahun depan menjadi titik balik setelah tiga tahun bergelut dengan kelesuan ekonomi dan aneka cobaan.

Harapan itu memiliki argumentasi kuat. Misalnya, pemerintah merilis segepok paket investasi dan ekonomi sepanjang tahun ini, maupun pengampunan pajak. Makro ekonomi tahun 2017 juga membaik, sementara belanja pemerintah diyakini bisa menjadi penggedor laju ekonomi domestik tahun depan.

Namun, sejumlah sandungan tetap mengadang. Mulai dari potensi kisruh politik dalam negeri, hingga kontroversi kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru, Donald Trump. Sebab, Trump akan membentengi ekonomi domestik dari serbuan produk asing, lewat penerapan bea masuk tinggi ke sejumlah negara seperti China. Walhasil, produk Tiongkok berpeluang membanjiri pasar domestik dan menggerus produk lokal.

Melihat peluang dan tantangan itu, sejumlah pebisnis masih ekstra hati-hati menghitung peluang bisnis tahun depan. Sektor tekstil, misalnya, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)  hanya mematok target pertumbuhan bisnis 6%-7% dari  proyeksi omzet tahun ini sekitar US$ 4,5 miliar.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bahkan memperkiraaan industri otomotif masih stagnan tahun depan. Bila tahun ini diproyeksikan penjualan kendaraan roda empat mencapai 1,05 juta unit, tahun depan paling banter sekitar 1,1 juta unit. Itupun dengan catatan pertumbuhan ekonomi 2017 bisa tembus 5%.

“Mobil yang ramai multipurpose vehicle (MPV)  dan low cost green car (LCGC),” ucap Jongkie D Sugiarto, Ketua I Gaikindo.

Sektor infrastruktur tetap menjadi magnet bagi roda ekonomi domestik tahun depan. Apalagi pemerintah dalam APBN 2017 sudah mematok pagu infrastruktur sekitar Rp 387,3 triliun atau naik Rp 40,8 triliun dari pagu RAPBN 2017.

Tidak mengherankan apabila  Suradi Wongso Suwarno, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), menyatakan bahwa perusahaan itu  mematok kenaikan kontrak anyar 26,3% tahun depan dari 2016, menjadi Rp 102,94 triliun.

Di sektor tambang, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berharap, harga batubara yang kian pulih dan mencapai US$ 80 per ton ini bisa membuat harga batubara acuan (HBA) bisa terkerek. Bila ini terjadi, maka bisa membuat kinerja perusahaan pelat merah ini membaik.

PT Aneka Tambang Tbk juga lebih semangat  memasuki tahun depan. Soalnya, salah satu produk tambang perusahaan ini, yakni emas, kini semakin menarik perhatian konsumen yang ingin berinvestasi. “Emas kini jadi safe heaven investasi,” ujar  Trenggono Sutiyoso, Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang.

Di sektor non-manufaktur dan tambang seperti properti dan pariwisata, juga punya pandangan serupa dengan industri lain. Para pebisnis properti optimistis, tahun depan bisa lebih baik dibandingkan tahun ini.

Efek amnesti pajak dan backlog hunian jadi pemicu bisnis ini melaju. “Penghapusan BPHTB untuk harga rumah di bawah Rp 2 miliar juga membantu pertumbuhan properti,” kata Harun Hajadi, Managing Director Ciputra Group.

Namun peluang tersebut belum mempertimbangkan kenaikan suku bunga kredit akibat rencana Bank Sentral AS alias Federal Reserve mengerek suku bunga hingga tiga kali tahun depan. Ini bakal berpengaruh ke kredit rumah yang sudah menjajal single digit. Oleh karena itu, Panangian Simanungkalit,

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia, memprediksikan, tahun depan pertumbuhan properti relatif konservatif di level 8%-12%.

Industri pariwisata boleh dibilang masih menawan, termasuk bisnis biro wisata dan perhotelan. Soalnya, pemerintah menargetkan  tambahan tiga juta wisatawan asing menjadi 15 juta pelancong tahun depan.

Apalagi tiga destinasi wisata bakal dikembangkan tahun depan. Yakni Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika. Upaya ini diyakini akan memompa darah segar ke bisnis pariwisata.

Oleh karena itu, Shinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Kadin, mengingatkan kembali pentingnya kesiapan infrastruktur. Penyelesaian proyek infrastruktur akan memudahkan pelancong menuju destinasi wisata baru di negeri ini, serta memperbaiki iklim investasi secara keseluruhan.

INS – 03 /PJ/ 2016

INS – 08 /PJ/2016

Penulis: Wajyu S, Ramadhani P, Andi D, Dina M, Agung H, Febrina R, Eldo R, Umi K, Dede

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 

 

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar