Indonesia Kekurangan Kontraktor Spesialis

Pekerja mengatur sejumlah alat berat yang akan dikirim ke Sorong untuk kebutuhan tambang, di atas kapal pengangkutan, di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulsel, Sabtu (1/3). Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi)  menargetkan produksi alat berat dalam negeri berkapasitas 10-30 ton digunakan untuk proyek konstruksi dan tambang pada tahun 2014 tumbuh 6% menjadi 6.500 unit dari tahun 2013 sebesar 6.127 unit. ANTARA FOTO/Ekho Ardiyanto/ss/pd/14

JAKARTA. Indonesia masih kekurangan kontraktor spesialis atau fokus di keahlian tertentu. Oleh karena itu, pemerintah mendorong perusahaan kontraktor menetapkan spesialisasi dalam kegiatan usaha untuk menghadapi persaingan serta meningkatkan kualitas proyek.

Saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Gabungan Pelaksana Konstuksi Nasional Indonesia (Gapensi), Senin (27/2), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono mengatakan, saat ini, jumlah menegaskan, masih sedikit kontraktor di Indonesia yang sudah mengarah ke spesialisasi bidang usaha. “kecil sekali jumlah perusahaan yang menerapkan spesialisasi,” kata Basuki, Senin (27/2).

Contoh spesialisasi badan usaha tersebut adalahspesialisasi las di bawah laut, konsultan ahli irigasi, konsultan pengendalian banjir, irigasi serta kontraktor jalan. Menurut Basuki, spesialisasi bidang usaha ini berpotensi meningkatkan kualitas proyek menjadi lebih baik.

Saat ini, ada sekitar 180.000 perusahaan jasa konstruksi di Indonesia, Namun, jumlah kontraktor spesialis hanya sekitar 1% dari jumlah itu. Sebagian besar masih berupa kontraktor umun (genera contractor).

Menanggapi imbauan ini, Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) meminta agar perusahaan pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terlebih dulu mengimplementasikan spesialisasi usaha itu.

Ketua Kompartemen Organisasi Gapensi Didi Aulia bilang, mayoritas anggota Gapensi masih merupakan perusahaan umum. Masih sedikit kontraktor anggota Gapensi yang sudah masuk ke spesialisasi. Dalam hitungannya, dari totak abggota Gapensi yang mencapai 63.000 perusahaan, maksimal hanya 12% yang sudah spesialisasi.

Didi mengakui, dengan spesialisasi, usaha lebih fokus. Tapi, Gapensi masih meragukan bila spesialisasi bisa diterapkan di Indonesia. “jangan mulai dari yang kecil, mulai dari yang besar (BUMN),” kata Didi.

Wakil ketua Gapensi Sulawesi Utara (Sulut) Victor Marsabessy menambahkan, spesialisasi kegiatan usaha  membutuhkan sarana dan prasarana penunjang yang lebih kompleks. Sulit  jika spesialisasi dilakukan oleh perusahaan kontraktor kecil. Maklum, bagi victor yang juga pelaku usaha sektor konstruksi berskala menengah ini, menjadi kontraktor spesialis perlu modal cukup besar. “spesialisasi lebih tepat bila diterapkan oleh perusahaan besar, karena perlu teknologi yang tinggi. Sehingga sulit diterapkan di perusahaan kontraktor kecil,” kata Victor.

Sumber: Kontan, Selasa, 28 Februari 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: