Bisnis Keramik Masih Kurang Kinclong

JAKARTA. Industri keramik dalam negeri masih lesu. Selain permintaan yang mengalami  penurunan , produsen keramik lokal juga harus menghadapi persaingan dengan serbuan keramik impor ke dalam negeri.

Direktur Jendral Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Achamd Sigit Dwiwahjono menjelaskan, akibat terus melorotnya produksi keramik dalam negeri, peringkat industri keramik dalam negeri Indonesia juga memburuk. Jika semula posisi Indonesia adalah produsen keramik terbesar nomor empat dunia, kini merosot ke posisi tujuh.

Karena itulah, Sigit yang dihubungi KONTAN, Minggu (16/7) pesimistis jika dalam jangka pendek ini, industri keramik Indonesia bisa bangkit lagi. Apalagi, ia melihat kecenderungan sektor industri ini mulai menahan diri dan tidak melakukan ekspansi kapasitas produksi di pabrik-pabrik mereka.

Karena itulah, pemerintah berupaya tidak tinggal diam menghadapi masalah industri ini. Pemerintah telah memiliki beberapa catatan tentang industri keramik yang harus segera dibenahi.

Pertama, pemerintah memahami saat ini industri keramik menghadapi persoalan mahalnya harga gas, yakni di kisaran US$ 8 per million british thermalunit (mmbtu)-US$ 9 per mmbtu. Karena itu pemerintah akan mencarikan titik temunya.

Kedua,pemerintah melihat produk keramik impor masuk secara massif. Karena itu, kementerian perindustrian tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk membatasi impor produk keramik. Hanya saja ia belum merinci waktu dan jenis keramik yang akan dibendung.

Menanggapi ini, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asakti) Elisa Sinaga menantikan tindakan ini sembari berharap ada kebangkitan penjualan kepada pengembang properti dan ritel pada semester II-2017.

Sebagai gambaran, porsi penjualan keramik dari ritel mencapai 75%, sedangkan penjualan ke pengembang properti sekitar 25%. “Kami berharap proyek bisa cepat bergerak,” kata Elisa.

Elisa khawatir jika kelesuan industri keramik ini terus berlanjut , produsen keramik akan menghentikan produksi dan beralih menjadi importir keramik. “Mungkin saja mereka telah mengahlikan usahanya secara total,” ujar Elisa.

Sekretaris Perusahaan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) Henry Bun mengakui pada semester I-2017 masih lesu lantaran daya beli masyarakat belum pulih . “Harapan kami semester ini properti membaik dan daya beli konsumen lebih baik,” kata nya.

Sedangkan, analisis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menilai industri keramik dalam negeri masih menggantungkan pada sektor industri properti. “Seperti mal, perkantoran, rumah, apartemen dan sejenisnya,” katanya.

Sumber : Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: