Khawatir Kacaukan Industri, Kenaikan Tarif Cukai Plastik Baru Dibahas Akhir 2017

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, penerapan tarif cukai plastik pada tahun mendatang masih menunggu konsultasi dengan DPR RI. Suahasil menjelaskan tujuan dari penerapan tarif cukai plastik adalah untuk mengurangi penggunaan komoditas ini agar tidak lagi mengganggu kelestarian lingkungan.

“Plastik sulit didegradasikan secara alamiah, tidak seperti kulit pisang yang bisa terdegradasi sendiri. Maka, disarankan plastik tidak terlalu banyak dikonsumsi,” katanya.

Suahasil menambahkan bahwa penerimaan cukai dari plastik telah masuk dalam target pendapatan dari sektor kepabeanan dan cukai dalam RAPBN 2018 sebesar Rp194,1 triliun. Selain penerapan tarif cukai kepada plastik, Suahasil mengatakan bahwa kenaikan tarif cukai untuk hasil tembakau maupun minuman mengandung ethil alkohol pada tahun 2018 juga sedang menunggu hasil kajian.

“Biasanya kami bicarakan di akhir tahun. Kami kaji terlebih dahulu terhadap kondisi dan struktur industrinya supaya nanti bisa kami cari tingkat tarif yang pas melihat industri dan target penerimaan cukai,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan bahwa penerapan tarif cukai plastik tidak akan memberatkan pelaku usaha dan akan mendorong pemanfaatan produk yang lebih ramah lingkungan.

Dia menegaskan, pengenaan tarif cukai plastik ke industri hulu ini tidak akan melebihi tarif penggunaan plastik yang pernah dikenakan sektor retail kepada konsumen yaitu Rp200 per plastik.

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan pengenaan pada cukai plastik sudah perlu mulai diterapkan. Pengenaan cukai plastik, selain untuk pengendalian lingkungan, juga sebagai tambahan penerimaan negara untuk menutup defisit yang tidak bisa dikejar dari pajak.

Menurut dia, untuk tahap awal, pemerintah bisa mengenakan cukai dengan tarif rendah pada kantong plastik. Baru kemudian dinaikkan secara bertahap untuk mengendalikan peredarannya. Selain itu, perlu dilakukan pengelompokan pada kantong plastik yang akan dikenakan cukai. Selain itu, sambungnya, kenaikan tarif cukai perlu dilakukan pada minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA).

“Misalnya cukainya 5% dulu, baru selanjutnya 10%. Itu hanya angka contoh saja. Kemudian cukai di luar IHT (industri hasil tembakau) itu sangat kecil, hanya 5% dari total penerimaan cukai. Di satu sisi, perlu ada pengendalian pada minuman alkohol,” ujar Enny.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: