Indef: Rasio Utang ke PDB Tak Gambarkan Risiko Fiskal

 

JAKARTA. Terus naiknya jumlah utang Indonesia dikhawatirkan berdampak negatif terhadap kesehatan fiskal pemerintah. Walau pemerintah yakin rasio utang pemerintah terhadap kesehatan fiskal pemerintah. Walau pemerintah yakin rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) aman karena dibawah 30% PDB, namun jika dilihat rasio beban utang terhadap penerimaan negara, hasilnya mengkhawatirkan.

Ekonom Institute for Development of Economic & Finance (INDEF) Reza H. Akbar bilang, utang Indonesia tidak sehat. Hal itu karena penggunaan utang dipakai untuk membayar utang lagi. “Penerimaan pajak kita tidak tercapai dan menerbitkan surat utang  yang baru lagi. Utang ini untuk membayar utang yang jatuh tempo. Jadi, seperti gali lubang tutup lubang,” ujarnya akhir pekan lalu.

Kondisi itu, menurutnya membuat ruang fiskal untuk belanja menjadai sangat terbatas. “Kalau utang digunakan untuk program prioritas seperti infrastruktur, ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan menciptakan lapangan kerja, ini baru sehat dan produktif,” jelas Reza.

Apalagi, menurutnya perhitungan utang Indonesia menggunakan basis Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sudah tidak tepat. Agar lebih fair maka pemerintah harus mulai menggunakan penerimaan pemerintah sebagai basis perhitungan utang. Artinya adalah menggunakan rasio beban utang ke pendapatan negara. “Jika perhitungan menggunakan PDB, maka kondisi utag selalu terlihat aman-aman saja,” katanya.

Dia bilang, rasio utang ke PDB secara akademis memang diterima dunia internasional, tapi secara perhitungan riil tidak bisa menunjukkan apakah Indonesia aman dari utang. Selain realistis, membandingkan antara beban utang dengan penerimaan akan membuat pemerintah juga akan lebih termotivasi mengejar target penerimaan.

Data kemkeu pada Juni 2017, nilai utang pemerintah mencapai Rp 3.706,52 triliun, atau meningkat Rp 34,9 triliun dari bulan sebelumnya. Jika dibandingkan PDB dalam APBN Perubahan 2017 sebesar Rp 13.717 triliun, rasio utang pemerintah hingga Juni 2017 sebesar 27,02% dari PDB. Adapun batas aman utang pemerintah yang diperbolehkan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah sebesar 60% drai PDB.

Sementara dalam APBNP 2017 target pendapatan negara sebesar Rp 1.736,1 triliun (outlook). Tahun ini beban bunga utang pemerintah pusat sebesar Rp 219,2 triliun. Ini berarti rasio beban bunga utang ke penerimaan 12%.

Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun bilang, penggunaan utang masih digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang produktif. “Kita banyak bangun infrastruktur pelabuhan, jalan, bangunan, irigasi, hingga bendungan untuk meningkatkan produksi pertanian dan jalur distribusi barang dan jasa,” ujarnya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: