Aturan penertiban impor borongan bakal direlaksasi

Setelah menerbitkan aturan penundaan pembayaran bea masuk, bea keluar, dan denda kepabeanan, pemerintah akan merelaksasi aturan impor bahan baku untuk industri kecil dan menengah (IKM). Relaksasi dilakukan karena kebijakan pengetatan impor barang berisiko tinggi beberapa waktu lalu telah membuat IKM menjerit kekurangan bahan baku.

Rencana ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu) Heru Pambudi. Dia bilang pemerintah tengah menyiapkan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha dalam melakukan kegiatan impor yang legal dan resmi. Jadi impor borongan sudah kami tertibkan, progres bagus, industri dalam negeri tumbuh. Penertiban untuk sekitar 25%-30% komoditi tertentu, katanya, Senin (18/9).

Walau ada efek positif bagi industri dalam negeri, namun menurut Heru, pemerintah melihat bahwa penertiban ini di satu sisi memberikan efek kepada ketersediaan bahan baku bagi Industri Kecil Menengah (IKM) yang sebelumnya mengimpor bahan baku.

Oleh karena itulah pemerintah akan memudahkan izin impor bagi IKM melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Melalui Permendag ini diharapkan bisa mengatasi kelangkaan bahan baku bagi IKM yang sebelumnya dipasok oleh importir berisiko tinggi. Hal ini diharapkan bisa lebih transparan, sehingga kami bisa mengarahkan yang tadinya bisa dilakukan secara ilegal, menjadi sepenuhnya legal tetapi tetap mudah, ujar Heru.

Kemudahan izin ini, menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan akan tertuang dalam aturan yang akan nantinya akan didetilkan secara teknis oleh Kemdag. Untuk industri tekstil sudah ada (peraturannya), tetapi masih perlu petunjuk teknis implementasi ke depan, kata Oke.

Heru menambahkan, relaksasi atau kemudahan impor borongan ditujukan untuk komoditas prioritas yang dibutuhkan oleh industri kecil. Misalnya pada produk sutra yang tidak diproduksi di dalam negeri, akan diberi kemudahan oleh pemerintah. Supaya pengrajin batik di Pekalongan bisa berproduksi lagi, ucapnya.

Namun demikian, Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APsyFI) Redma Gita Wiraswasta mengatakan, kebijakan untuk merelaksasi impor borongan ini adalah kebijakan yang salah. Pasalnya, Indonesia memiliki industri tekstil yang bergerak dari hulu sampai hilir. Dari bikin seratnya sampai garmen ada semua dan konsumsi kita besar. Kalau ada relaksasi, industri pembuatan kainnya otomatis mati, industri benangnya mati, seratnya mati, jadi sudah benar pengetatan impor ini. Ini yang ditunggu oleh kami sejak 10 tahun lalu, katanya.

Menurut Redma, satu hingga dua bulan impor borongan disetop, permintaan domestik besar. Alhasil, importir yang biasa dapat untung malah jadi rugi dan mengatakan bahwa industri tekstil kekurangan bahan baku. “Pernyataan para importir ini tidak benar karena kami masih bisa memenuhi kebutuhan bahan baku tekstil ini meskipun ada pengetatan impor,” ujarnya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: