Bea Cukai Tertibkan Impor, Akibatnya Barang Langka

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yuki Nugrahawan Hanafi menyatakan evaluasi impor beresiko untuk menekan angka penyelundupan yang dilakukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai dinilai menganggu proses bisnis perusahaan importir barang yang masuk dalam impor berisiko tinggi.

Pasalnya, sejumlah barang, seperti tekstil impor terkena imbas dan kini terjadi kekosongan barang tekstil impor di pedagang eceran.

“Saya menerima laporan dari anggota kimi terjadi kekosongan barang, misalnya di Mangga Dua pembelian barangnya menurun karena barangnya memang tidak ada. Untuk itu kami mendorong pemerintah jangan terlalu lama melakukan evaluasi larangan terbatas,” ujar Yuki.

Direktur Eksekutif Center Indonesia of Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menngungkapka adanya penertiban impor berisiko tinggi memperketat masuknya impor barang berisiko tinggi.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini membuat potensi kelangkaan barang yang selama diimpor secara borongan.

“Perlu ada solusi atau jalan tengah agar impor walaupun tertib, tetapi tetap mudah,” kata Yustinus. “Hambatan-hambatan impor yang ada saat ini harus ditiadakan supaya bisa masuk sesuai aturan.”

Menurutnya, perlu dicarikan solusi bagaimana barang bisa masuk prosedural dalam waktu cepat.

Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi menanggapi hal itu mengatakan penertiban yang dilakukannya memang membuat barang yang tidak memenuhi izin impor tidak bisa masuk.

Namun terang Heru, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) apa yang dilakukan jajarannya sebaliknya menciptakan iklim usaha yang sehat dengan menertibkan praktik impor berisiko tinggi kendati membuat sejumlah barang impor tidak bisa masuk ke Tanah Air yang imbasnya adalah kekosongan barang.

“Selama tidak penuhi izin, tentunya tidak bisa masuk karena kami sudah tertib,” katanya. “Yang jelas bukan tertahan atau ditahan di pelabuhan tapi izinnya tidak terpenuhi.”

Namun demikian, kini, pihaknya tengah menyiapkan kemudahan untuk pelaku usaha dalam melakukan kegiatan impor yang legal dan resmi salah satunya dalam hal perizinan impor.

Ditegaskannya Ditjen BC akan terus membimbing dan beri kemudahan bagi importir legal dan resmi pada saat mereka melakukan kegiatan impor.

Kemudahan khususnya akan diberikan untuk komoditas prioritas yang dibutuhkan oleh industri kecil. Misalnya, sutra yang tidak diproduksi di dalam negeri akan diberi kemudahan oleh pemerintah supaya pengrajin batik di Pekalongan bisa memproduksi.

“Nanti akan ada pengumuman dari Bu Menteri Keuangan adanya kemudahan bagi industri kecil dan menengah yang mau kegiatan impornya secara legal,” terang Heru.

Sumber : poskotanews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: