Daya Beli di Sektor Ritel Melemah Sejak Lebaran Tahun Ini

Daya Beli di Sektor Ritel Melemah Sejak Lebaran Tahun Ini

Sektor ritel saat ini dianggap sebagian kalangan tengah mengalami kelesuan. Sejumlah toko ritel modern pun menutup gerainya. Terbaru yakni penutupan jaringan ritel Lotus yang dimiliki PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, mengatakan penurunan daya beli di sektor ritel terasa sejak Lebaran tahun ini.

“Ritel sebenarnya sudah lama bergejolak. Sejak 2014 itu kita lihat penjualan puncak pas Lebaran bisa sampai naik 38%, tapi Lebaran lalu sekitar 5% saja naiknya. Karena apa? Ada kontraksi daya beli, khususnya di perkotaan,” ujar Bhima kepada detikFinance, Jumat (27/10/2017).

“40% masyarakat berpendapatan menengah bawah pendapatannya turun. Sementara 20% masyarakat berpendapatan tinggi, menahan belanja karena ada pergeseran konsumsi, dan takut kebijakan pajak,” sambung Bhima.

Selain melemahnya daya beli, menurut Bhima, penurunan penjualan ritel modern juga ditopang oleh pergeseran pola kosumsi masyarakat, khususnya kalangan usia muda.

“Yang menarik ini karena pergeseran pola konsumsi belanja kalangan menengah. Mereka selain melek digital dengan banyak yang belanja di e-commerce, juga karena ada pergeseran konsumsi. Daripada buat beli baju, anak muda sekarang lebih suka makan di restoran, nongkrong lama di kafe. Makanya restoran tetap survive. Sementara toko elektronik dan fashion tertekan,” imbuhnya.

Pergeseran pola konsumsi anak usia muda yang menomorduakan kebutuhan sandang, kata dia, yang jadi salah satu kontribusi terbesar penurunan penjualan ritel modern di segmen fashion.

“Generasi milenial yang usianya 18-35 tahun ini kan pangsa pasar terbesar. tapi mereka sekarang itu generasi yang lebih suka nongkrong lama di kafe, beli makan, enggak suka beli kendaraan karena ada online. Lebih suka sewa apartemen daripada ambil KPR. Yang menengah ke atas juga sama, lama-lama di kafe, pengeluaran beli kopi akhirnya naik,” ujar Bhima.

Dia mencontohkan, mal dengan konsep nyaman untuk tongkrongan dan banyak ditempati tenan kuliner justru malah ramai. Sebaliknya, pusat perbelanjaan yang sejak dulu lebih banyak menawarkan wisata belanja fashion banyak yang ditinggal pembeli.

“Lihat saja di Mal Kasablanka itu banyak kuliner, nongkrong enak, ada film, justru makin ramai makin ke sini. Yang mal banyakan jualan baju sepatu sepi,” tutur Bhima.

Menurut dia, dari data lembaga survei Nielsen dari tahun 2016 hingga semester pertama 2017, 10 mal dengan pertumbuhan penjualan tertinggi yakni Gandaria City yang tumbuh 20%, Mal Kasablanka 18%, Central Park 14%, Summarecon Serpong 14%, dan Metropolitan Mall 13%.

Mal-mal tersebut selama ini terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak-anak muda. Kondisi ini berkebalikan dengan penjualan pusat belanja seperti Metro Pasar Baru yang penjualannya turun 59%, Taman Palm Mall turun 49%, Glodok Plaza turun 34%, Mangga Dua Mall turun 23%, dan Mangga Dua Center minus 20%.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: