Penyederhanaan Cukai Menaikkan Setoran Negara

JAKARTA. Selain menaikkan tarif cukai hasi tembakau rata 10,04%, kementerian keuangan (KemKeu) juga akan mulai menyederhanakan struktur tarif cukai hasil tembakau pada tahun 2018. Penyederhanaan ini akan berlangsung bertahap hingga akhir 2021. Kemkeu mengklaim penyederhanaan ini untuk mempermudah pengendalian produksi rokok.

Keputusan ini tertuang di Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 yang diundangkan dan berlaku efektif pada 25 oktober 2017. Selain mengatur tentang kenaikan tarif, PMK ini juga melandasi penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau.

Jika tahun ini, strata tarif cukai hasil tembakau terdiri 12 tingkat, berdasarkan jenis produk rokok yang dihasilkan dan tingkat produksi dari pabrik hasil tembakau. Maka mulai tahun 2018, kemkeu mengurangi laposan struktur tersebut menjadi 10, tahun 2019 menjadi delapan tingkatan, tahun 2020 menjadi enam tingkat, dan tahun 2021 tersisa lima lapisan.

Penyederhanaan struktur ini dilakukan dengan menghilangkan atau menggabungkan sejumlah lapisan dalam satu lapisan dalam satu lapisan. Misalnya, tahun depan sigaret kretek tangan filter (SKTF) atau sigaret putih tangan filter (SPTF) dicoret dari strata tarif cukai menjadi satu dari sebelumnya tiga tarif.

Alhasil, tarif cukai biasanya murah untuk produk rokok tertenyut bakal hilang. Pengusaha dipaksa membayar tarif cukai lebih mahal.

Cara ini menguntungkan pemerintah karena akan menambah penerimaan negara. Pendapatan cukai rokok pun bisa lebih optimal.

Cara ini bakal menjadi solusi efektif untuk mendongkrak penerimaan cukai hasil tembakau, meskipun produksi rokok dalam tren kian menurun setiap tahunnya. Lihat saja, tahun depan pemerintah menargetkan penerimaan cukai Rp 148,2 triliun. Nilai tersebut naik dari target tahin ini Rp 147 triliun.

Namun, Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi menegaskan, penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau mulai tahun 2018 dilakukan untuk memudahkan administrasi cukai. “Tujuan utama cukai adalah pengendalian produksi. Kalau soal penerimaan, hanya mengikuti saja. Dan tentunya, kebijakan ini sudah masuk perhitungan dalam APBN 2018,” ungkap Heru kepada KONTAN, Jumat (27/10).

Peniliti Lembaga Demografi Univesitas Indonesia (UI) Abdillah Ahsan sebelumnya pernah  menjelaskan, penyederhanaan tingkat tarif cukai rokok akan memudahkan sistem administrasi cukai. Namun menurutnya, yang lebih penting lagi adalah dengan penyederhanaan tarif cukai rokok tersebut harga rokok akan naik sehingga menurunkan konsumsi dan mendongkrak penerimaan cukai. Dengan struktur tarif yang sederhana, tidak ada tarif cukai rendah sehingga mengurang pilihan rokok.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: