3 “Jagoan” Keuangan Patahkan Persepsi Ritel Modern Gugur karena Anjloknya Daya Beli

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat berada di Kompasianival 2017, di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (21/10/2017).

Penurunan daya beli masyarakat kerap disebut-sebut menjadi kambing hitam sepinya gerai-gerai ritel konvensional, bahkan hingga tutup. Namun 3 “jagoan” ekonomi Indonesia mematahkan persepsi tersebut.

Usai rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) semua sektor ekonomi, termasuk ritel tumbuh tumbuh double digit.

“Ini menggambarkan ada aktivitas ekonomi yang mendasari pembayaran pajak itu,” ujarnya di Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Berdasarkan data household consumption Bank Dunia tutur Sri Mulyani, dari 10 kelompok pendataan, 30 persen masyarakat berpenghasilan paling rendah, konsumsinya lebih tinggi dari tahun lalu.

Hal itu tutur dia sejalan dengan banyaknya gelontoran dana dari pemerintah kepada masyarakat tidak mampu melalui program-program bantuan sosial. Akibatnya, daya beli tetap tumbuh.

Selain itu, harga-harga kebutuhan pokok juga tidak melonjak tinggi sehingga terjangkau oleh 30 persen kelompok masyarakat kelas bawah.

Sementara itu pertumbuhan konsumsi kelompok kelas menengah ada dikisaran 5-6 persen, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 8 persen. Meski begitu, tingkat konsumsi masih positif.

Hingga akhir 2017, pemerintah meyakini konsumsi masyarakat akan tumbuh diangka 5 persen.

Di tempat yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya melihat kondisi perbaikan tingkat konsumsi pada kuartal III dan IV 2017. Di ritel misalnya, tumbuh 2,4 persen pada September 2017 secara tahunan. Belum terlalu kuat, namun positif.

“Penjualan motor Agustus 2017 mencapai 5,29 persen secara tahunan. Semantara penjualan mobil tumbuh 0,04 persen. Kelihatan konsumsi membaik meski terbatas,” kata Agus.

Dari sisi perbankan, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menuturkan, kredit ritel justru melonjak 7,6 persen, lebih tinggi dari kredit korporat. Adapun kredit macet sektor ritel kata dia terbilang rendah.

“Jadi kayaknya aktivitas ritel ini tidak terganggu dari sisi pertumbuhan kredit,” kata Wimboh.

Meski begitu, KSSK sepakat untuk terus memberikan informasi kepada masyarakat terkait daya beli dan pertumbuhan konsumsi. Hal itu dinilai penting untuk mengedukasi masyarakat di tengah isu penurunan daya beli.

Selain itu, KSSK juga menyinggung terkait perubahan ekonomi konvensional ke digital. Hal ini bisa memiliki dampak kepada keputusan perusahaan ritel menutup gerai dan beralih ke belanja online.

Sumber : kompas.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: