KSSK Cermati Daya Beli Lemah

KSSK Cermati Daya Beli Lemah

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rapat koordinasi berkala di Jakarta, Selasa (31/10) menyatakan tetap mencermati potensi risiko dari eksternal maupuan dari domestik yang bisa memengaruhi stabilitas sistem keuangan. Beberapa risiko global yang memungkinkan dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan antara lain, konflik di Semenanjung Korea, normalisasi neraca bank sentral Amerika Serikat (AS) atauThe Fed.

Faktor-faktor dari eksternal tersebut bisa berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan aliran dana asing. Dari domestik, KSSK mencermati antara lain berkembangnya sentimen negatif mengenai penurunan daya beli, potensi kenaikan inflasi volatile food, serta antisipasi menghangatnya kondisi perpolitikan pada 2018-2019.

“KSSK akan senantiasa berkoordinasi dalam memantau dan mengantisipasi potensi tekanan stabilitas sistem keuangan di Indonesia,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Selasa (30/10). Sri Mulyani menambahkan, meskipun dunia menyambut perbaikan ekonomi Indonesia pada 2018, setidaknya ada sejumlah risiko baru yang perlu dicermati, terutama teknologi.

Sebab, pada krisis 1998, faktor teknologi belum ada. “Unsur teknologi membawa perubahan yang begitu cepat sehingga mengakibatkan disruption (gangguan), tetapi itu sudah dikenali apakah akan menimbulkan risiko. Selain itu, teknologi juga memungkinkan menimbulkan kejahatan baru, yakni hacker (peretas).

Pada 20 tahun lalu atau krisis 1998 belum ada tipe kriminal seperti itu. Ini risiko baru yang harus dilihat,” jelas Sri Mulyani. Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso meyakinkan sistem keuangan Indonesia cukup kuat seiring kenaikan dana pihak ketiga sebesar 11,69 persen. Angka ini jauh di atas potensi kredit bermasalah NPL yang hanya 2,93 persen.

“Sebagai perbandingan, pada periode 1997/1998, (makro) prudensialnya lebih lambat, misalnya CAR (rasio kecukupan modal) belum berdasar risiko. Sekarang sudah kita record (catat) semua sehingga prudensialnya lebih kuat,” kata dia.

Bank Sistemik

Pada kesempatan sama, Wimboh mengungkapkan jumlah bank sistemik berkurang satu menjadi 11 bank, menyusul penurunan aset bank tersebut secara drastis karena penghapusan kredit bermasalah. Sayangnya, dia enggan menyebutkan nama bank tersebut. “Kapasitas (size) bank tersebut turun drastis karena penghapusan kredit macet,” ujar Wimboh dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) per Oktober 2017 di Jakarta, Selasa.

Keputusan dihapuskan satu bank tersebut dari kategori bank sistemik diambil KSSK pada rapat KSSK Senin (30/10) malam lalu. Rapat tersebut dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Wimboh mengatakan saat ini juga ada beberapa bank yang berada pada rentang atau batas (threshold) berkategori sistemik atau tidak.

Dia berjanji akan meningkatkan pengawasan untuk bank sistemik maupun bank yang masih berpotensi untuk sistemik. Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menjelaskan, pertumbuhan kredit 2017 hanya akan berada di kisaran 8-10 persen. Ia optimistis tahun depan naik sebesar 10-12 persen.

“2017 tantangan yang dihadapi perbankan bisa diselesaikan dengan konsolidasi. Memang kredit di bawah doble digit ini sebuah tantangan juga, karena ini menunjukan faktor demand yang lemah,” kata Agus.

Sumber : koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: