Penutupan Ritel, Ancaman Ketenagakerjaan

JAKARTA. Gelombang penutupan sejumlah gerai ritel dikhawatirkan bakal mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Penutupan itu akan membuat industry ritel lain menahan ekspansi sehingga bakal menimbulkan persoalan tenaga kerja.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan Harijanto mengatakan, Apindo memperkirakan fenomena terpuruknya industry ritel mengakibatkan pengurangan tenaga kerja hingga 10% dari jumlah pekerja di sektor ini. Tapi hitungan ini belum termasuk pekerja dari ritel informal di pusat grosir. “Satu department store saja karyawannya berapa orang, hitung saja. Kalau saya sih memprediksi 10% pasti dari jumlah orang,” kata Harijanto, Selas (31/10).

Kondisi ini, kata Harijanto, bisa diperburuk dengan tuntunan kenaikan upah buruh yang signifikan. Ia bilang, jika buruh menuntut kenaikan upah melebihi eumusan yang ditetapkan pemerintah, pengusaha dipastikan akan mengambil langkah percepatan otomatisasi.

Ia mencontohkan, jika di DKI Jakarta pekerja menuntut kenaikan upah  minimum provinsi (UMP) hingga Rp 3,9 juta, diperlukan efesiensi tenaga kerja sekitar 15%-20%. “Tapi semua tergantung dari ketahanan masing-masing pelaku usaha,” jelas Harijanto.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri bilang terkait kekhawatiran dampak pada tenaga kerja akibat tutupnya gerai ritel, kementerian tenaga kerja tengah berupaya mengantisipasi jika terjadi gelombang PHK.

Sayangya, Hanif belum tahu seberapa pekerja yang terkena PHK karena lesunya ritel konvensional. “Secara keseluruhan masih dalam pendataan, sebagian juga masih ditangani. Saya belum dapat datanya tapi kami terus koordinasi,” imbuhnya.

Selain soal PHK karena gerai ritel tutup, Hanif menambahkan, Kemnaker juga meminta semua industry dalam negeri menyusun skema transformasi dampak teknologi bagi tenaga kerjanya. Hal ini dilakukan supaya ada upaya penyesuaian proses bisnis di tengah perkembangan teknologi. “Ini untuk menghindari industrial shock, itu bisa berupa bisnis shock. Perusahaan kalah bersaing lalu collaps, atau man power shock, atau mungkin tidak tutup tetapi karena harus menyesuaiakan diri, lalu melakukan PHK besar-besaran,” ujar Hanif.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta bilang sejatinya potensi pengurangan tenaga kerja di sektor ritel tidak hanya berasal dari PHK dari ritel yang tutup. Tetapi juga karena sektor ritel saat ini cenderung menahan ekspansi. Sayangnya, ia belum bisa memprediksi berapa besar penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor ini.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: