Warga Tahan Pengeluaran Inflasi Oktober Melandai

Konsumsi masyarakat di Oktober dikurangi demi persiapan libur Natal dan Tahun baru

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi Oktober 2017 sebesar 0,01%. Angka ini di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI) 0,09% dan lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,13%. Perbulan sebelumnya 0,13%. Penurunan inflasi diperkirakan terjadi karena daya beli masyarakat kembali melemah.

Dengan begitu, inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2017 sebesar 2,67% dan inflasi tahunan Oktober 2,67% dan inflasi tahunan Oktober 2017 sebesar 3,58% YoY, jauh dari target tahun ini 4%±1%.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, rendahnya inflasi Oktober karena ada deflasi 0,45% pada kelompok bahan pangan. Deflasi terjadi karena penurunan harga daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, ikan segar, dan kelompok sayuran. Data Kementerian Perdagangan mencatat rata-rata nasional harga daging ayam broiler pada akhir Oktober Rp 29.402 per kg, turun Rp 526 per kg dari awal Oktober.

Rendahnya inflasi juga di dorong oleh kelompok transportasi, komuniakasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi 0,13%. Ini utamanya disebabkan oleh penurunan tarif angkutan udara.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau inflasi 0,28% karena harga mie, nasi dan lauk pauk, serta rokok kretek naik. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi 0,01% karena kenaikan tarif listrik di Batam.

Namun, berdasarkan komponen, inflasi inti pada Oktober hanya 0,17%. Lalu komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi 0,01%, barang bergejolak deflasi 0,53%, dan energi inflasi 0,13%. Inflasi inti bulan lalu kembali turun dari bulan sebelumnya dan terendah sejak Mei 2017.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menganalisa penurunan inflasi inti menunjukkan fenomena masih lemahnya daya beli masyarakat. Sebab di sisi lain, ada jenis bahan makanan yang harganya naik, misalnya beras.

Rendahnya daya beli Oktober sudah diperkirakan BI. Survei konsumen Juli 2017 menunjukkan, tingkat pengeluaran konsumsi pada tiga bulan mendatang (Oktober) melemah. Konsumen mengurangi pengeluaran untuk persiapan libur Natal dan Tahun Baru 2018.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro sependapat, rendahnya inflasi inti menandakan ada transaksi dan permintaan yang lemah. “Tetapi belum cukup dikatakan daya beli melemah,” kata Andry. Sebab komponen inflasi lainnya seperti, kurs rupiah dan harga emas perhiasan. “Secara historis, Oktober memang inflasi inti rendah,” katanya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: