Australia Kejar 19 Perusahaan Multinasional Terkait Pajak

Australia Kejar 19 Perusahaan Multinasional Terkait Pajak

Kantor Pajak Australia (ATO) telah mengambil tindakan terhadap 19 perusahaan multinasional dengan memeriksa sebuah skema yang mampu menghindarkan jutaan dolar kewajiban pajak ke luar negeri.

ATO juga menindak perusahaan konsultan terkemuka Australia dan jaringan firma hukum luar negeri yang dicurigai mempromosikan skema penghindaran pajak melalui apa yang disebut tax havens.

Penyelidikan ATO itu terungkap saat berlangsungnya proyek jurnalisme investigatif program Four Corners ABC bekerja sama dengan International Consortium of Investigative Journalists.

Kebocoran dokumen terbesar dalam sejarah ini telah mengungkapkan rahasia pajak dari sejumlah perusahaan multinasional besar.

Dokumen yang dikenal sebagai Paradise Papers mengungkap email-email rahasia, catatan rapat dan rencana pajak yang berasal dari firma hukum global Appleby, perusahaan Singapura Asiaciti Trust dan 19 pendaftar perusahaan di wilayah bebas pajak, yang diperoleh suratkabar Jerman Suddeutsche Zeitung.

Dokumen tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan multinasional menggunakan tax havens Bermuda dalam mengatur hutang mereka di Australia serta menerapkan skema pembiayaan rumit bagi anak perusahaan mereka di Australia, diduga untuk mengurangi kewajiban pajak mereka di Australia secara dramatis.

ParadisePapers

The cache of leaked documents reveals an industry designed to sell secrecy. This is one story from a Four Corners investigation into the Paradise Papers.

Wakil komisaris ATO Mark Konza menjelaskan penyelidikan mereka telah menemukan 19 perusahaan yang diperkirakan memanfaatkan skema yang dikenal sebagai cross-currency interest rate swaps

atau penukaran tingkat suku bunga lintas mata uang.

“Ini skema dua langkah, sulit dideteksi, dan butuh waktu mendeteksinya. Tapi sekarang kami mendetiksinya. Kami menindaklanjutinya. Kami melakukan banyak pemeriksaan tentang hal itu,” katanya kepada program Four Corners ABC.

Skema swaps bisa sangat valid – mereka misalnya dapat menukar pinjaman dalam $ AS menjadi pinjaman dalam $ AUD, masing-masing pihak saling menukar risiko dan tingkat suku bunga dari mata uang asal untuk risiko dan tingkat suku bunga dari mata uang yang dituju.

Pakar perpajakan mengatakan ketika pertukaran terjadi antara perusahaan induk dan anak perusahaannya, skema ini biasanya dapat digunakan oleh perusahaan multinasional untuk menghindari pajak.

Sebanyak 19 perusahaan telah menghadapi tindakan ATO terkait skema tersebut, 13 di antaranya masih dalam pemeriksaan.

Selain perusahaan-perusahaan tersebut, ATO juga telah mengeluarkan pemberitahuan formal yang mengikat secara hukum kepada perusahaan-perusahaan konsultan, menanyai apakah mereka turut membantu menerapkan skema swap atau skema penghindaran pajak lainnya.

Four Corners bisa mengungkapkan 21 pemberitahuan formal telah disampaikan kepada para akuntan dan perusahaan perantara lainnya di Australia, diperkirakan akan disusul tindakan lebih lanjut.

Wakil Komisaris ATO Mark Konza mengatakan pihaknya melebarkan jaringan mereka ke luar negeri. Para regulator pajak, katanya, ingin menangkap kegiatan firma hukum luar negeri di tax havens.

Dia menambahkan bahwa ATO menghendaki data Paradise Papers tersebut untuk “menganalisis implikasinya di Australia”.

Glencore menggunakan skema ini

Dokumen Paradise Papers menunjukkan perusahaan batubara terbesar di Australia, Glencore yang berbasis di Swiss, menggunakan skema keuangan swap yang menjadi bahan pemeriksaan oleh ATO.

Four Corners juga menyebutkan penggunaan skema swaps oleh Glencore menjadi bahan pemeriksaan sukarela oleh ATO.

Glencore, yang merupakan pedagang komoditas terbesar di dunia, memproduksi dan mengekspor batubara, tembaga, seng, nikel, minyak, gandum dan kapas dari Australia.

CEO-nya, Ivan Glasenberg, dan empat eksekutif lainya menjadi miliarder ketika perusahaan ini terdaftar di bursa London pada tahun 2011.

Namun perusahaan ini melaporkan hanya sedikit keuntungan kena pajak di Australia.

Pada tahun 2014, Glencore melaporkan pendapatan $ 23,7 miliar (lebih besar dari perusahaan terbesar kedua di Australia, Westpac) dan mencatatkan keuntungan $ 296 juta.

Angka ini mewakili sekitar $ 1,30 keuntungan untuk setiap $ 100 dalam pendapatan mereka. Mereka membayar pajak sebesar $ 55 juta untuk keuntungan tersebut.

Bocoran dokumen mengungkapkan Glencore menggunakan skema swap tersebut dalam pembiayaan ulang operasi mereka di Australia senilai $ 3,7 miliar pada tahun 2013, serta dalam restrukturisasi utama pada tahun 2014 yang mereka laporkan menimbulkan hutang sebesar $ 11,6 miliar.

Struktur pembiayaan swap rumit yang digunakan Glencore dialihkan melalui perusahaan Glencore di Bermuda.

Hutang jadi strategi penghindaran pajak

Aktivis perpajakan mengaitkan keuntungan kena pajak Glencore yang rendah sebagian dimaksudkan meninggikan tingkat hutang dan penggunaan struktur pembiayaan yang rumit untuk mengekspor keuntungan kena pajaknya ke negara dengan pajak rendah atau bebas pajak seperti Bermuda.

Perusahaan multinasional besar, pengacara dan akuntan mereka bekerja keras memastikan aktivitas mereka sesuai dengan UU Perpajakan yang menyatakan setiap manuver keuangan seharusnya tidak bertujuan utama untuk mengurangi pajak.

Namun Jim Henry, penasihat senior yang berbasis di New York untuk kelompok aktivis Justice Justice Network, mengatakan tidak mengherankan jika perusahaan pertambangan menambah hutang untuk menghindari pajak.

“Ini bisa dikatakan sudah jadi pola khas yang digunakan banyak perusahaan dalam industri ekstraktif untuk memindahkan pendapatan dari yurisdiksi dengan pajak tinggi ke yurisdiksi dengan pajak rendah,” katanya.

“Itu jelas skema penghindaran pajak. Itu dilakukan puluhan perusahaan. Industri mineral penuh dengan perilaku seperti ini,” ujar Henry.

“Saya pikir Glencore merupakan salah satu pemain lebih mengerikan dalam hal ini, tapi hal itu tidak mengherankan,” katanya.

Glencore kurangi penggunaanswap

Glencore menyatakan mereka secara sukarela ambil bagian dalam review sebelum pengajuan pajak dengan ATO serta mengungkapkan dan mendiskusikan penggunaan skema swap tersebut.

Perusahaan mengurangi penggunaan swap pada tahun 2016, namun menyatakan hal itu tidak ada hubungannya dengan tindakan ATO.

Glencore mengaku menggunakan swap untuk melindungi risiko valuta asing, namun tidak lagi dibutuhkan setelah adanya keputusan ATO mengenai bagaimana laporan keuangan mereka dilaporkan.

Glencore mengatakan pihaknya baru saja menutup banyak perusahaan mereka di Bermuda, membayar semua pajak sesuai UU, dan hutang operasi mereka di Australia menurun sebesar $ US4 miliar sejak akhir 2014.

Perusahaan ini menyatakan saat ini mereka tidak sedang diaudit atau direview ATO terkait penggunaan hutang atau skema swap.

Namun Glencore mengakui sedang diaudit ATO terkait penggunaan pusat pemasaran mereka di Swiss. Mereka menyatakan keberatan atas hasil dari dua audit lainnya yang telah mereka selesaikan pembayarannya sebesar $AS 42 juta.

ATO sekarang mengaudit sekitar 20 perusahaan tambang utama dan menyelidiki tingginya penggunaan hutang oleh perusahaan pertambangan dan energi, serta penggunaan pusat perdagangan atau pemasaran mereka di berbagai negara.

Glencore mengatakan pembayaran pajak penghasilan mereka di Australia dipengaruhi oleh kondisi pasar yang menantang, termasuk penurunan harga komoditas dan kerugian pajak sebelumnya, sehingga “perusahaan ini tidak membayar pajak karena kurangnya profitabilitas dalam operasinya.”

“Operasi Glencore di Australia sekarang menguntungkan dan karenanya pajak akan dibayarkan,” kata Glencore.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:pajak dunia

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: