Ini yang Bikin Daya Beli Lesu

Guncangan yang terjadi pada industri ritel dianggap sebagai sinyal anomali kondisi perekonomian Indonesia. Sebab tutupnya beberapa toko ritel lantaran adanya penurunan penjualan yang terindikasi adanya penurunan daya beli.

Menurut Head of Intermediary Business Schroders Investment Management Indonesia, Teddy Oetomo, pelemahan daya beli masyarakat saat ini merupakan imbas dari berbagai faktor di saat yang bersamaan. Seperti pelemahan Rupiah yang menurunkan daya beli terutama pada barang-barang impor.

Lalu pengurangan subsidi pemerintah seperti listrik dan BBM juga berdampak pada daya beli masyarakat menengah dan menengah ke bawah. Maraknya e-commerce juga memberikan dampak berkurangnya pangsa pasar ritel.

Sementara yang terakhir yang menurutnya berkorelasi cukup besar adalah penurunan harga komoditas yang menyebabkan turunnya daya beli terutama di daerah-daerah penghasil produksi.

“Meski begitu, Indonesia bukan negara komoditas seperti Brasil. Karena kita perekonomian kita masih di atas 5% meskipun harga komoditas turun,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Masalahnya, kata Teddy, konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ekspor. Menurut data yang dimilikinya, sering kali pertumbuhan konsumsi masyarakat mengikuti pertumbuhan ekspor riil.

“Setiap kali ekspor tumbuh 5% maka diikuti pertumbuhan konsumsi masyarakat. Namun sejak 2012, pertumbuhan ekspor Indonesia selalu di bawah 5%, sejak saat itu konsumsi masyarakat kian menurun,” terangnya.

Sementara, ekspor riil Indonesia paling besar dari komoditas. Oleh karena itu secara tidak langsung komoditas juga mempengaruhi daya beli masyarakat.

“Ketika komoditas naik mereka kaya, hidupnya mewah. Tapi ketika komoditas turun, tidak secara otomatis gaya hidupnya turun. Mereka makan tabungannya, oleh karena itu DPK perbankan turun,” tambahnya.

Namun ketika harga komoditas naik juga tidak serta merta mendorong daya beli. Sebab mereka berkecimpung di dunia komoditas lebih memilih untuk membayar utang-utangnya seperti kepada vendor-vendor atau utang ke perbankan.

“Jadi perusahaan tambang itu mendorong daya beli melalui vendor-vendornya juga,” tukasnya.

Meski begitu beberapa bulan terakhir harga komoditas cenderung membaik. Sehingga ada kemungkinan daya beli masyarakat akan membaik tahun depan.

Tidak hanya itu, tahun depan juga ada Pilkada Serentak. Hal itu dinilai juga akan mampu mendorong daya beli masyarakat.

“Apa lagi Pilkada yang besar di Jabar, Jateng dan Jatim. Itu akan boost konsumsi masyarakat. Karena 3 wilayah itu mempengaruhi 36% perekonomian kita,” tandasnya.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: