Jokowi Yakin Daya Beli Tak Lesu, Pengamat: Mungkin Kelas Menengah

Presiden Joko Widodo kembali menegaskan keyakinannya bahwa daya beli masyarakat Indonesia tidak melemah. Hal itu disampaikannya dengan menyertakan data peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kedatangan turis asing hingga kondisi ekspor yang terus bertambah.

Namun Pengamat ekonomi dari Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira memiliki analisa yang berbeda. Dia memandang untuk masyarakat kelas menengah ke bawah memang daya belinya terasa menurun.

“Masyarkat menengah atas cenderung menyimpan uang di bank. Mungkin itu yang dimaksud Pak Jokowi. Sebaiknya membagi daya beli berdasarkan pengeluaran masyarakat, jadi tidak dipukul rata,” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Rabu (29/11/2017).

Bima sepakat jika disebut masyarakat menengah ke atas daya belinya tidak turun. Sebab dana pihak ketiga (DPK) di perbankan naik dari Rp 4.836,8 triliun di 2016 menjadi Rp 5.142,9 triliun pada September 2017.

Namun kenaikan DPK itu bukan hanya berarti masyarakat menengah atas masih memiliki daya beli, tapi mereka juga menahan konsumsinya. “Jadi betul konsumsinya menurun tapi daya beli belum tentu turun.

Bima menjabarkan bukti nyata penurunan daya beli di masyarakat menengah ke bawah juga bisa dilihat dari upah buruh tani yang terus tergerus inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional di bulan Maret 2017 turun 0,38% dibandingkan bulan Februari 2017, yakni dari 100,33 menjadi 99,95.

“Begitu juga dengan upah riil buruh bangunan dalam 3 tahun turun. Kesimpulannya upah nominal masyarakat kelas bawah tidak bisa mengikuti kenaikan harga kebutuhan pokok,” tuturnya.

Indikasi lainnya, lanjut Bima, Industri manufaktur tumbuh di bawah laju Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal sekitar 14,05% dari tenaga kerja Indonesia pada data Agustus 2017 merupakan tenaga kerja di sektor Industri.

“Sektor ritel melemah. FMCG hanya tumbuh 2,7% (year to date) hingga September 2017. FMCG tumbuh 11% pada periode sebelumnya. Penurunan belanja offline belum sebanding dengan peningkatan belanda online, walau pangsa masih kecil,” tambahnya.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: