Pertamina Terancam Rugi Rp19 Triliun Gara-Gara Pakai Formula Lama

PT Pertamina (Persero) melaporkan kehilangan potensi pendapat hampir USD1,5 miliar atau sekira Rp19 triliun kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Informasi tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama dengan Komisi VII DPR RI pada hari ini.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman menjelaskan, kehilangan potensi pendapatan sederhananya hanya selisih harga antara formula yang sebetulnya diterapkan di 2015 dalam keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 2856 Tahun 2015 dengan harga pasar.

Sejatinya, formula penetapan harga BBM akan direview setiap tiga bulan sekali dengan menyesuaikan perubahan, terutama perubahan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). Akan tetapi, sejak April 2016 belum ada pembaharuan formula, sementara ICP terus melonjak.

Sebagai contoh, dengan perhitungan yang ada, mestinya harga solar mencapai Rp 6.700 dengan menggunakan harga pasar. Sedangkan ketetapannya sendiri masih di harga Rp 5.150.

“Formula ini sebetulnya tengah direview kembali. Karena sebetulnya formula ini keluar di 2015. Itu dulu dibahas di sini, di Komisi VII dengan angka-angka dari tahun sebelumnya. Ini sedang ditelaah oleh BPK, dan kemungkinan karena kita sudah ada efisiensi dari 2015 hingga sekarang, mungkin formulanya nanti di-adjusted,” ujarnya di Gedung DPR RI, Senin (4/12/2017).

“Jadi kalau tadi ditanyakan oleh Bu Eny ( Eni Maulani SaragihKomisi VII DPR RI), yang Rp19 triliun itu selisih harga dikalikan dengan volume penjualan. Jadi formulanya tetap ada, tapi yang ditetapkan saat ini berbeda. Ini yang kami bilang beda potensi pendapatan. Karena Kepmennya sebenarnya tetap ada,” jelas dia.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menegaskan Pertamina sebenarnya bukan rugi secara finansial, tetapi kehilangan pendapatan karena memang pemerintah sebagai pemilik Pertamina tidak mengizinkan kenaikan harga BBM di 2017.

Saat ini, jika mengacu harga ICP pada 9 bulan tahun 2016 adalah USD37,88 per barel, sedangkan pada 9 bulan tahun 2017 rata-ratanya sudah mencapai USD48,86 per barel.

“Harga crude itu, rata-rata udah naik 30%. Jadi rata-rata 9 bulan di 2016 dibandingkan dengan rata-rata 9 bulan di 2017, raw material cost kita itu dalam bentuk harga crude naik 30%. Itulah yang biasanya dia masuk ke mekanisme penyesuaian harga,” jelas Elia.

Elia mengatakan, sebenarnya formula tersebut cukup berimbang. Artinya kalau harga minyak mentah turun, maka harga jual BBM juga turun, dan sebaliknya. Sehingga, pendapatan yang seharusnya diterima perseroan adalah sekitar USD38 miliar. Sayangnya, pada kuartal III/2017 perseroan hanya mampu meraup pendapatan sekitar USD31,38 miliar.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: