Daya Beli Kerap Diisukan Anjlok, Ini Kata BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) buka-bukaan soal tren penurunan konsumsi masyarakat di tahun ini yang kerap disangkutpautkan dengan isu pelemahan daya beli.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pesatnya perkembangan ekonomi digital memang mendorong perubahan gaya hidup masyarakat. Perubahan itu, salah satunya adalah pola konsumsi dari offline keonline yang menyebabkan bisnis konvensional seperti ritel banyak bertumbangan.

Namun masalahnya, tergerusnya pasar ritel akibat perkembangan ekonomi digital kerap disinggungkan dengan daya beli masyarakat yang anjlok. Padahal, perubahan pola konsumsi yang mengarah ke onlineadalah penyebab utamanya.

Suhariyanto menyatakan, lebih dri 10 persen internet diakses oleh penggunanya untuk berbelanja online. “Penggunaan internet dari konsumsi rumah tangga luar biasa kemajuannya. Sebanyak 11,33 persen internet digunakan untuk belanja online. Sosial media juga terbanyak yang dipakai pengguna internet,” kata Suhariyanto dalam kegiatan sosialisasi penyampaian data e-commerce di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Selain itu, tren konsumsi masyarakat sekarang tak hanya sekadar membeli produk dan jasa saja. Masyarakat lebih menyimpan uangnya dalam jangka waktu tertentu dan dikeluarkan untuk berwisata ke banyak tempat.

Pola konsumsi seperti ini, kata dia, disumbang dari kaum mileneal yang kerap bepergian saat berliburan. “Leisure juga tertinggi, apalagi jelang akhir tahun. Banyak orang terutama milenial menabung uangnya untuk leisure ketimbang berbelanja. Jadi, pendapatan untuk menabung itu lebih besar,” katanya.

Suhariyanto mengakui, peralihan sistem penggunaan online belum bisa diukur secara persis. Namun, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital tak bisa lagi dibendung sehingga dalam waktu dekat pola konsumsi secara offline bisa saja benar-benar ditinggalkan.

“Kita merujuk pada riset Nielsen 2015, menunjukkan transaksi online sebesar 1,26 persen dari konsumsi rumah tangga. Tapi, kemudian Agustus dari laporan Bisnis Indonesia, datanya menunjukkan 6,69 persen pada semester I 2017. Antara satu ke 6 persen, perbedaan rentangnya sungguh luar biasa, sedangkan dari kita (BPS) mencoba pendekatan rumah tangga studi kecil 15 ribu rumah tangga yang kita survei, 14,32 persen pernah belanja online. Tapi, sebatas elektronik, aksesoris, alas kaki. Dari ini kita ketahui tidak punya data yang akurat,” ucapnya.

Lebih lanjut Suhariyanto menyebut, peran konsumsi rumah tangga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika konsumsi rumah tangga goyah akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, kita berharap dari investasi dan konsumsi rumah tangga tumbuh bagus. Tapi, dengan data pada triwulan pertama tumbuh 4,94 persen jadi 4,95 persen, turun lagi 4,93 persen, mungkin kecil turunnya. Tapi, ini uang puluhan triliun jadi turun sedikit saja dampaknya besar ke perekonomian,” tuturnya.

Sumber : inews.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar