Fadli Zon: Kebijakan Pajak Donald Trump Bisa Timbulkan Gempa Ekonomi Untuk Indonesia

Fadli Zon: Kebijakan Pajak Donald Trump Bisa Timbulkan Gempa Ekonomi Untuk Indonesia

Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPR Fadli Zon, menyoroti pengesahan UU Reformasi Perpajakan yang dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelum libur Natal tahun ini.

Bukan hanya itu, kebijakan kenaikan suku bunga acuan The Fed untuk ketiga kalinya pada akhir pekan lalu pun menjadi sorotannya.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra tersebut menilai, dua kebijakan itu perlu diberi perhatian oleh pemerintah dan otoritas moneter karena akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

“Keputusan tersebut berpotensi menarik dana asing dari pasar keuangan negara-negara berkembang. Sebab, imbal hasil dari instrumen investasi serta besaran reformasi pajak yang ditawarkan pemerintahan Trump cukup signifikan, sehingga pasti akan memikat investor,” kata Fadli dalam keterangan yang diterima, Minggu (24/12/2017).

Menurutnya, saat ini nilai keuntungan bisnis perusahaan-perusahaan AS yang ditempatkan di pasar global mencapai US$2,6 triliun.

Jika kebijakan pemotongan pajak oleh pemerintah Trump tersebut bisa menarik hingga separuh nilai tadi, maka pasar global bisa mengalami goncangan.

“Sesudah isu Yerusalem menjadi gempa politik global, maka kebijakan Trump yang ini bisa menimbulkan gempa ekonomi,” kata Fadli.

Fadli mengatakan kebijakan Trump tersebut menjadi reformasi pajak terbesar di AS sejak era 1980-an.

Trump telah memangkas pajak korporat dari sebelumnya 35 persen, kini menjadi 21 persen dan akan mengurangi beban pajak untuk individu.
“Kebijakan ini pasti akan berpengaruh terhadap perekonomian global. Ditambah oleh kenaikan suku bunga acuan The Fed, efeknya bisa jadi berganda,” katanya.

Dirinya memprediksi, ancaman repatriasi ini akan makin memperkuat nilai tukar dollar dan tentu akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

“Setiap penurunan nilai tukar rupiah, beban pembayaran cicilan utang dan bunga utang kita tentu jadi membengkak, karena semuanya dibayar dengan dollar,” katanya.

Lanjut dia, sebagai gambaran, per Oktober 2017, total utang luar negeri kita mencapai US$341,52 miliar atau sekitar Rp4.603 triliun.

“Dengan angka tersebut, beban pembayaran bunga utang kita tahun depan diperkirakan bisa di atas angka Rp300 triliun,” katanya.

Untuk itu dirinya mendesak supaya pemerintah dan otoritas moneter untuk berpikir cerdik.

“Jika kita menghadapi kenaikan suku bunga acuan The Fed dengan menaikan juga suku bunga acuan di dalam negeri, itu akan kontraproduktif dengan kebijakan pemerintah selama ini yang berusaha untuk menekan tingkat suku bunga kredit di bawah dua digit,” kata Fadli.

Pasalnya, setiap kenaikan suku bunga acuan, maka suku bunga kredit juga otomatis akan naik yang pada gilirannya akan kian menekan iklim usaha di dalam negeri.

Sehingga, Bank Indonesia harus bisa merumuskan kebijakan yang pas, agar tidak memukul sektor riil yang saat ini sedang terjepit.

“Di tahun politik 2018, pemerintah tak boleh kehilangan fokus terhadap soal ekonomi. Jangan sampai kita tak memiliki skenario jika terjadi gejolak ekonomi tahun depan,” kata Fadli.

Sumber : tribunnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: