Kredit real estate cuma tumbuh 8,7%

Kredit real estate cuma tumbuh 8,7%

Perbankan tak fokus menyalurkan kredit ke segmen properti pada momen akhir tahun. Terutama kredit properti untuk sektor real estate. Akibatnya, kredit untuk real estate hanya tumbuh satu digit.

Data uang beredar Bank Indonesia (BI) menyebutkan, kredit real estate hanya tumbuh 8,7% atau menjadi Rp 135,7 triliun per November 2017. Sedangkan, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 11%, dan kredit konstruksi tumbuh 20,9%.

Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Handayani mengatakan, pada akhir tahun, konsentrasi kredit perbankan bukan di sektor properti. Oleh karena itu, salah satu sektor properti seperti real estate tumbuh lambat.

Ke depan, perbankan cenderung wait and see untuk segmen kredit ini. Jika, ekonomi baik dan kuat maka akan mendorong bisnis properti. Menurutnya, produk domestik bruto (PDB) yang meningkat akan mendorong kredit di sektor real estate.

Kredit real estate yang menjadi bagian kredit properti akan menjadi penopang kredit konsumer BRI. Bank berplat merah ini menargetkan kredit konsumer akan tumbuh sekitar 20%-23% di tahun 2018 ini. “Potensi kredit akan di payroll dan juga KPR,” kata Handayani, Selasa (2/1).

Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Mahelan Prabantarikso mengakui, kredit real estate yang lambat karena daya beli yang tersendat. Selain itu, alternatif pilihan berinvestasi membuat masyarakat menahan diri untuk membeli properti.

Saat ini, kredit real estate memiliki porsi 10% terhadap total kredit properti BTN. Tahun 2018, kredit properti akan naik seiring potensi peningkatan PDB dan rencana relaksasi aturan kredit perumahan oleh Bank Indonesia (BI).

Secara keseluruhan, bank berkode saham BBTN ini menargetkan kredit akan tumbuh 20% di tahun 2018. Segmen KPR untuk subsidi maupun non subsidi masih menjadi pendorong pertumbuhan kredit BTN.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja menyampaikan, sektor properti seperti real estate menjadi salah satu sektor kredit yang harus dicermati. Pasalnya, kredit ini memiliki rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tinggi.

Maka itu, bank berkode saham NISP ini lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke segmen ini. Alhasil, rasio NPL masih di bawah 2%. “Akhir tahun, permintaan kredit sektor ini sedang turun ditambah lagi kondisi NPL agak tinggi,” jelas Parwati.

Kata Parwati, outstanding kredit properti real estate terbilang kecil yaitu di bawah 10% dari total kredit di tahun 2017. OCBC NISP akan menjaga porsi kredit ini sekitar 10% di tahun 2018.

Senada, Direktur Utama PT Bank Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) Ahmad Irfan mengatakan, minat beli masyarakat turun di akhir tahun sehingga berimbas ke kredit properti.

Sumber : kontan.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: