Sepanjang Tahun 2017, Penerimaan Pajak Tak Sampai 90 Persen

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis data realisasi penerimaan pajak full year 2017 sebesar Rp1.151 triliun atau 89,7 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang mencapai Rp1.283 triliun.

Angka realisasi penerimaan pajak tersebut berbeda sedikit dengan jumlah pencapaian 2016 yang sebesar Rp1.105,97 triliun. Meski tak mencapai target, pertumbuhan penerimaan itu disokong dari membaiknya ekonomi, terutama pulihnya harga komoditas di pasar global.

“Angka pertumbuhan ini disebabkan oleh faktor perbaikan ekonomi, khususnya di sektor komoditas,” kata Direktur Jenderal pajak, Robert Pakpahan dalam konfrensi pers di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Jumat (5/1/2018).

Pulihnya harga komoditas meningkatkan kepatuhan pajak perusahaan-perusahaan di sektor pertambangan dan perkebunan. Data Ditjen Pajak menunjukkan, angka kepatuhan pada 2017 sebesar 72,60 persen. Angka kepatuhan ini lebih tinggi dari tahun 2016, sebesar 63,15 persen.

Robert mengatakan, angka penerimaan pajak 2017, hanya 12 persen saja didukung oleh pajak pengampunan (tax amnesty) dibandingkan 2016 yang dipicu amnesti pajak sebesar Rp200 triliun.

“Harusnya tidak berpengaruh pengampunan pajak. Dan ini murni pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Di tahun 2017, sebanyak 12,05 juta Wajib Pajak (WP) menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) dari total 16,6 juta WP. Berdasarkan segmen pembayar pajak, pertumbuhan yang sangat pesat terjadi di segmen WP Orang Pribadi, terutama para peserta amnesti pajak.

Kemenkeu sebelumnya menyatakan, penerimaan pajak termasuk pajak penghasilan minyak dan gas (PPh migas) sepanjang 2017 terkumpul Rp1.145,59 triliun atau 89,74 persen dari target dalam Anggaran APBN-P 2017 Rp1.283,6 triliun.

Angka tersebut merupakan data realisasi per 30 Desember 2017 sehingga belum menghitung tambahan penerimaan pajak sebesar Rp4 triliun pada hari terakhir. Pencapaian ini lebih baik dibandingkan penerimaan pajak dalam dua tahun terakhir yang berada di kisaran 81-82 persen dari target sehingga membuat pemerintah harus banyak berutang untuk menutupi defisit anggaran.

“Kalau dibandingkan 2016, penerimaan pajak kita tumbuh 2,6 persen. Apabila menghilangkan faktor pengampunan pajak, maka pertumbuhan penerimaan pajak kita jauh lebih tinggi yaitu mencapai 12,6 persen. Ini menunjukkan peningkatan yang sangat baik dibanding tahun sebelumnya,” ujar Sri Mulyani.

Sumber : inews.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: