Mal Masih Ramai , Bukti Daya Beli Warga Ibu Kota Stabil

Badan Pusat Statistik (BPS) mendapati data tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kuartal III tahun ini sebesar 4,93 persen. Data itu menunjukkan adanya perlambatan ketimbang kuartal II 2017, yang sebesar 4,95 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan, perlambatan tingkat konsumsi itu menjadi polemik dan kerap diartikan menurunnya daya beli masyarakat. Sri menilai pendapat itu keliru, lantaran kesimpulan tidak mempertimbangkan kemungkinan lain.

Menurut dia, perlambatan tingkat konsumsi rumah tangga bukan berarti daya beli masyarakat menurun. “Daya beli kan kemampuan untuk membeli, berbeda dengan konsumsi,” kata Sri dalam Workshop Peningkatan Wawasan Statistik awal Desember lalu.

Lalu, benarkah ada penurunan daya beli masyarakat ibu kota di mal?. ”Kalau dilihat dari data yang kami punya, sejauh ini tidak ada penurunan daya beli masyarakat yang signifikan walaupun secara global daya beli masyarakat memang sedang turun karena pengaruh ekonomi,” ujar Dinia Widodo, PR Manager PT Grand Indonesia (GI).

Soal masyarakat sekarang cenderung ke mal hanya sekadar kulineran Dinia mengungkapkan, tergantung segmentasinya. ”Masih banyak juga customer kami yang belanja fashion, gadget, electronic, alat rumah tangga dan lain sebagainya. Tergantung dari apa yg sedang mereka butuhkan dan cari,” tandas dia.

Dinia menjelaskan, customer GI sangat beragam, ada yang loyal dan reguler customer dan ada juga yang tidak sesering itu. ”Namun mereka punya tujuan masing-masing, ada yang hanya lihat-lihat saja (window shopping), kulineran, meeting atau bertemu klien, tapi tidak sedikit juga customer kami yang memang mencari barang hanya di GI dan tidak di tempat lain karena menurut mereka GI paling lengkap,” tutur dia.

Jadi, sambung dia, sejauh ini, kondisi mal yang terletak di Jakarta Pusat ini masih baik-baik saja. ”Dari hasil survey, yang paling diminati customer sejauh ini adalah shopping, kemudian dilanjutkan dengan dining. Namun hal ini tidak menjadi penghalang antara satu dengan yang lain tetapi menjadi pelengkap supaya semua segmen tetap ramai dikunjungi,” kata dia.

Hal senada diungkap General Manager Marketing Lotte Shopping Avenue Mr. Ahn Chi Woo. ”Kami mendefinisikan penurunan daya beli masyarakat di ibukota terhadap bisnis retail khususnya mal sebagai pergeseran pola konsumsi masyarakat dalam berbelanja. Jika sebelumnya masyarakat lebih senang untuk berbelanja di mal, pergeseran yang terjadi adalah masyarakat saat ini cenderung membelanjakan uangnya untuk berwisata. Namun bagi kami, pergeseran pola ini tidak membuat bisnis retail menjadi terpuruk,” tutur dia.

Kondisi demikian juga bisa dilihat dari presentase kenaikan penjualan Lotte Shopping Avenue yang cukup signifikan, yang jika diambil rata-rata sebesar kurang lebih 15 persen setiap tahunnya.

”Dan kami optimis bahwa kami memiliki peluang yang cukup baik, karena Lotte Shopping Avenue adalah one-stop shopping mall yang menyuguhkan berbagai fasilitas, serta pelayanan terbaik bagi pengunjung setia Lotte Shopping Avenue,” imbuh dia.

Untuk menyiasati kecenderungan masyarakat berkunjung ke mal hanya sekedar makan saja, jelasnya, Lotte Shopping Avenue menyediakan fasilitas menarik untuk berbelanja selain restaurant.

Mulai dari tempat bermain untuk anak-anak seperti Lottie Car, Skyjump Trampoline & Amazone, ada pula cinema, salon serta berbagai fasilitas hiburan lainnya yang dihadirkan untuk memanjakan para pengunjung.

”Dengan adanya rangkaian program berbelanja yang kami suguhkan seperti program Cashback dan Payday yang diselenggarakan setiap bulannya, pengunjung setia Lotte Shopping Avenue dapat menikmati keuntungan tambahan saat berbelanja di Lotte Shopping Avenue. Seperti misalnya setiap pembelanjaan minimum tertentu, pengunjung akan mendapatkan reward berupa cashback voucher atau special gifts. Hal ini diharapkan akan menambah semangat berbelanja sehingga tidak hanya sekedar window shopping saja,” tambahnya.

Terbukti, bukan hanya sekadar tenant kuliner yang ramai. Tenant lainnya juga masih bertahan. ”Sebagai salah satu shopping mall bergengsi di Indonesia, Lotte Shopping Avenue menghadirkan beragam tenant fashion dan lifestyle untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Dan tempat-tempat yang kerap menjadi favorit untuk dikunjungi adalah produk fashion dan lifestyle seperti H&M, Uniqlo dan Miniso.  Ada juga Galaxy International Experience Store (GIES) yakni Gerai Samsung  yang merupakan toko resmi Samsung Galaxy Terbesar se – Asia Tenggara,” pungkas dia.

Sumber : indopos.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: