Pro Kontra Regulasi Cukai Rokok Elektrik

Ilustrasi rokok elektronik. (Foto: IST)

Keputusan memberlakukan cukai sebesar 57 persen kepada setiap liquid atau cairan sontak menuai pro-kontra. Pasalnya, rokok elektrik mulai dikenal oleh masyarakat sebagai media pengganti rokok asap.

Kasubdit Tarif Cukai dan Harga Dasar Direktorat Teknis dan Fasilitas Cukai, Sunaryo menjelaskan, pemberlakuan pajak sebesar 57 persenmerupakan upaya pemerintah untuk mengawasi edaran produk yang dinilai berdampak negatif di masyarakat.

“Cukai diberikan kalau ada barang yang perlu diawasi peredarannya. Kemudian, diberikan juga kepada barang yang membahayakan,” ujar Sunaryo dalam diskusi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dasar hukum yang memuat aturan soal barang yang dikenakan cukai adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Lebih lanjut, Sunaryo menyampaikan kalau pemberian pajak terhadap liquid adalah bagian dari undang-undang tersebut.

Menurut Sunaryo, mengkategorikan liquid sebagai hasil olahan tembakautelah dipertegas dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia (PMK) Nomor 146 tahun 2017.

“Nah, untuk HPTL inilah ekstrak tembakau yang terkandung dalam konten vape atau liquid. Jadi kalau melihat definisinya, liquid ini bukan bagian dari ekstensifikasi atau bukan barang baru. Sehingga sudah selayaknya kena cukai,” tambah dia.

Perihal besaran cukainya, dia mengatakan angka tersebut keluar melalui beragam pertimbangan.

Menurutnya, pertimbangan angka 57 persen merupakan bagian dari survei internal yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan di lima kota berbeda, yaitu Bali, Bandung, Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Temuannya adalah harga liquid lebih tinggi dibanding harga rokok pada umumnya, harga liquid sekitar Rp90.000-Rp300.000 dengan volume 100 mili.

Disisi lain, Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia (YPKP) Dokter Amaliya mengkritisi kebijakan pemerintah perhal besaran pajak yang rencanaya diperlakukan sejak Juli 2018 mendatang.

Pasalnya, angka 57 persen akan berdampak terhadap melambungnya harga liquid di pasaran, sehingga rokok elektrik yang dianggap baik sebagai sarana pengganti rokok asap berpotensi untuk ditinggalkan.

“Perbedaan mendasar antara rokok elektrik dengan rokok asap dari cara kerjanya. Rokok asap itu dibakar, sedangkan rokok elektrik itu dipanaskan. Hasil akhirnya berbeda, yang satu mengeluarkan asap atau Tar, seperti membakar kayu atau hasil knalpot, dan ini juga output dari rokok. Kalau rokok elektrik mengeluarkan uap,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, penting untuk diketahui, yang perlu disalahkan itu bukan Nikotin, tapi Tar. Karena Nikotin kadang ada manfaatnya juga. Vape atau rokok elektrik baik sebagai media replacement nicotine.

“Karena kalau rokok elektrik, nikotinnya masuk ke tubuh tapi Tarnya dibuang. Sedangkan rokok, nikotinnya masuk, Tarnya masuk. Sama seperti kita minum, airnya masuk sampahnya juga masuk,” tutur Amaliya.

Sementara itu, Dendy Dwi Putra selaku Ketua Bidang Legal and Business Development Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyetujui besaran 57 persen asal berlandaskan kajian dan diskusi yang komprehensif.

“Kami setuju dengan pemerintah karena regulasi perlu agar kami diakui. Namun kami menyayangkan pernyataan dari menteri yang meminta untuk beralih saja ke rokok asap. Dalam benak kami, masyarakat ini kan punya kebebasan untuk memilih dari dua produk yang paling rendah resikonya. Sedangkan mereka belum ada data yang pasti, mereka hanya berpatokan kepada PMK,” sambungnya.

Besarnya pajak dikhawatirkan Dendy akan berdampak terhadap peritel penyedia rokok elektrik beserta liquidnya.

:Belum terdata dengan pasti, namun ada ribuan toko liquid dengan minimal ada dua pekerja. Dengan aturan itu, banyak anggota kami yang memang usaha liquid ini masuknya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sudah banyak yang wanti-wanti akan gulung tikar. Ini kan lapangan pekerjaan juga dan tidak seperti rokok asap yang pekerjanya berpendidikan tinggi,” kata Dendy.

Dendy juga menyampaikan bahwa sesudah tahun 2014, produksi liquid lokal telah meningkat 70 persen. Tidak hanya itu, kualitas liquidnya juga telah diakui oleh banyak negara.

“Rokok elektrik ini memang masuk mulai tahun 2012. Saya agak bingung sebenarnya kalau data impor, karena memang antara 2012-2014 lebih banyak impor. Tapi setelah itu justru 70 persen dari lokal. Kualitasnya diakui dan kami mendukung regulasi karena kita juga berharap produk yang kita ekspor berlabel SNI,” beber dia.

Sumber : industry.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: